Personal @ 07 February 2010, “7 Comments”

sell_on_change

2010 adalah tahun yang benar-benar baru bagi saya. Sejak awal Januari lalu, saya meninggalkan kota tempat saya lahir dan tinggal lebih dari 20 tahun. Saya pindah ke sebuah kota hiruk pikuk, jauh lebih jelek, tapi mau tak mau harus saya akrabi. Ini konsekuensi dari pekerjaan baru saya.

Perubahan ini, bagi saya, sangat drastis. Saya harus meninggalkan hampir segala hal yang saya akrabi selama ini. Kini, hampir tiap hari, saya menemui sesuatu yang baru–untuk tidak mengatakan asing. Saya butuh banyak adaptasi dan sampai sekarang, mungkin saya masih dalam tahap itu.

Film @ 29 December 2009, “30 Comments”

The Reader

Apa yang pada akhirnya membuat saya menyukai Film The Reader (Sthepen Daldry, 2008) bukanlah akting cemerlang Kate Winslet yang kini setengah tua, atau kisah cinta melodramatik sedikit aneh yang termaktub dalam film itu. Dalam jeda beberapa saat sesudah saya menontonnya, saya akhirnya menyadari kenapa saya jatuh cinta pada The Reader: film itu mengingatkan saya pada Hannah Arendt.

Ketika saya mulai menonton bagian-bagian awal The Reader, saya selalu berpikir film ini hanyalah perpaduan kisah cinta, erotisme, dan kutu buku, yang ada dalam setting kekuasaan Hitler di Jerman. Tentu saja, saya menyukai bagaimana Hanna Schmitz yang setengah tua jatuh cinta dengan Michael Berg yang remaja dan kemudian membuat sebuah peraturan aneh dalam hubungan mereka: sebelum mereka bercinta habis-habisan, Berg mesti membacakan sebuah buku untuk Schmitz yang, belakangan kita ketahui, buta huruf.

Seni @ 17 December 2009, “17 Comments”

ws-rendra

Dalam kehidupan manusia, sebuah puisi seharusnya hadir sebagai sebentuk subversi. Sebagai bagian dari fiksi, puisi sudah sepantasnya datang sebagai semacam alternatif guna membikin “yang berbeda” hadir pada hidup kita yang belakangan ini sudah dimakan iklan dan dibuat bosan oleh politik.

Seperti pernah disampaikan Sapardi Djoko Damono, “tugas” fiksi adalah membuat jeda sejenak dari rutin yang mengelilingi kita. Kehadirannya diharapkan membuat kita bisa melakukan “perjalanan bolak-balik” antara yang nyata dengan yang imajiner. Perjalanan itu, sesungguhnya, hampir terus-menerus menjadi sesuatu yang selalu kita butuhkan selama kita masih ingin bertahan jadi “orang waras”: ia menjadi semacam ritual yang menjaga kita tetap ada dalam sejenis “keseimbangan”.

Seni @ 22 November 2009, “28 Comments”

panjebar semangat

Apa sebenarnya yang menyebabkan sastra Jawa modern tinggal di dalam ruang yang sepi? Benarkah hanya disebabkan oleh globalisasi yang makin menggeruskan kebudayaan dan bentuk-bentuk seni lokal? Ataukah justru penyebabnya adalah masalah internal yang terjadi di dalam kalangan sastra Jawa sendiri? Bagaimana pula mengeluarkan sastra Jawa dari kesepian yang selama ini menghinggapinya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba dijawab dalam Diskusi “Disorientasi Sastra Jawa Gagrak Anyar” di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, pada 7 November 2009 lalu. Berbarengan dengan peluncuran Buku Antologi Sastra Jawa Senthong 2, diskusi itu mencoba melakukan identifikasi atas persoalan-persoalan yang menghinggapi sastra Jawa sekaligus mencari jalan keluarnya.

Kehidupan @ 15 November 2009, “36 Comments”

museum sangiran

Indonesia punya pengalaman panjang yang cukup buruk dalam melestarikan peninggalan zaman lampaunya. Salah satu pengalaman itu berkait dengan pelestarian Situs Sangiran di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang pada 5 Desember 1996 diakui sebagai warisan dunia nomor 593 oleh UNESCO. Sejak pengakuan itu, situs tersebut secara resmi bernama “Sangiran Early Man Site”.

Pengakuan prestisius itu sebenarnya terbilang wajar bila melihat potensi Sangiran. Sejak penemuan alat-alat batu manusia purba oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald pada 1934, berbagai penemuan di Sangiran memang susul-menyusul seolah tanpa henti.