Kehidupan @ 06 March 2010, “22 Comments”

resize1500

Mulanya, saat kereta api yang saya tumpangi malam itu berhenti, saya sama sekali tak curiga. Saya mengira ini hanya pemberhentian biasa, jeda yang biasa terjadi dalam sebuah perjalanan panjang kereta api. Saya ada di gerbong terakhir kereta. Di luar gelap. Tidak tampak bangunan apapun.

Beberapa saat kemudian, mulai tampak kasak-kusuk di antara para penumpang. Mereka yang berdiri di dekat pintu saling berbisik. Ada beberapa kecemasan yang muncul di wajah mereka. Saya maju ke arah mereka, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata, ada pemeriksaan khusus malam itu. Semua penumpang yang tak punya tiket akan kena. Ini jelas sebuah kejadian luar biasa.

Kehidupan @ 21 February 2010, “24 Comments”

soehokgiedipuncakpangrango

Saya bertemu dia pada sebuah siang yang terik. Saat itu sudah jam 2 siang lebih. Saya menaiki tangga rumah susun itu, menuju lantai tiga. Ia menyambut saya tepat di depan anak tangga terakhir. Bayangan saya tentang dia langsung berubah begitu melihat sosoknya secara sempurna.

Mari memanggilnya B. Namanya terdengar sedikit lucu. Berbau perjuangan dan kekiri-kirian menurut saya. Ketika mendengar namanya, saya membayangkan ia berasal dari wilayah timur Indonesia. Saya mengangankan ia berkulit gelap, berambut keriting dengan potongan pendek di bagian depan dan gondrong di belakang. Saya membayangkan tubuhnya tegap, tangannya penuh bulu, dan cara bicaranya berapi-api.

Personal @ 07 February 2010, “22 Comments”

sell_on_change

2010 adalah tahun yang benar-benar baru bagi saya. Sejak awal Januari lalu, saya meninggalkan kota tempat saya lahir dan tinggal lebih dari 20 tahun. Saya pindah ke sebuah kota hiruk pikuk, jauh lebih jelek, tapi mau tak mau harus saya akrabi. Ini konsekuensi dari pekerjaan baru saya.

Perubahan ini, bagi saya, sangat drastis. Saya harus meninggalkan hampir segala hal yang saya akrabi selama ini. Kini, hampir tiap hari, saya menemui sesuatu yang baru–untuk tidak mengatakan asing. Saya butuh banyak adaptasi dan sampai sekarang, mungkin saya masih dalam tahap itu.

Film @ 29 December 2009, “30 Comments”

The Reader

Apa yang pada akhirnya membuat saya menyukai Film The Reader (Sthepen Daldry, 2008) bukanlah akting cemerlang Kate Winslet yang kini setengah tua, atau kisah cinta melodramatik sedikit aneh yang termaktub dalam film itu. Dalam jeda beberapa saat sesudah saya menontonnya, saya akhirnya menyadari kenapa saya jatuh cinta pada The Reader: film itu mengingatkan saya pada Hannah Arendt.

Ketika saya mulai menonton bagian-bagian awal The Reader, saya selalu berpikir film ini hanyalah perpaduan kisah cinta, erotisme, dan kutu buku, yang ada dalam setting kekuasaan Hitler di Jerman. Tentu saja, saya menyukai bagaimana Hanna Schmitz yang setengah tua jatuh cinta dengan Michael Berg yang remaja dan kemudian membuat sebuah peraturan aneh dalam hubungan mereka: sebelum mereka bercinta habis-habisan, Berg mesti membacakan sebuah buku untuk Schmitz yang, belakangan kita ketahui, buta huruf.

Seni @ 17 December 2009, “17 Comments”

ws-rendra

Dalam kehidupan manusia, sebuah puisi seharusnya hadir sebagai sebentuk subversi. Sebagai bagian dari fiksi, puisi sudah sepantasnya datang sebagai semacam alternatif guna membikin “yang berbeda” hadir pada hidup kita yang belakangan ini sudah dimakan iklan dan dibuat bosan oleh politik.

Seperti pernah disampaikan Sapardi Djoko Damono, “tugas” fiksi adalah membuat jeda sejenak dari rutin yang mengelilingi kita. Kehadirannya diharapkan membuat kita bisa melakukan “perjalanan bolak-balik” antara yang nyata dengan yang imajiner. Perjalanan itu, sesungguhnya, hampir terus-menerus menjadi sesuatu yang selalu kita butuhkan selama kita masih ingin bertahan jadi “orang waras”: ia menjadi semacam ritual yang menjaga kita tetap ada dalam sejenis “keseimbangan”.