Politisasi Mitos Pangeran Samudro

Jun 06

8,331 views

Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, Desa Pandem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, identik dengan ritual ngalap berkah (mencari berkah) yang penuh kontroversi. Konon, salah satu syarat melakukan ritual di sana adalah bersetubuh dengan orang yang bukan suami atau istrinya selama tujuh kali pada tiap malam Jumat Pon atau Jumat Kliwon.

Ritual macam ini sudah berlangsung puluhan tahun sehingga nama Pangeran Samudro selalu identik dengan “ritual seks bebas” di Gunung Kemukus. Padahal, dalam kepercayaan masyarakat setempat, Pangeran Samudro adalah sosok pelindung rakyat dari kesewenang-wenangan penguasa. Bagi penduduk kawasan Gunung Kemukus, mitos Pangeran Samudro adalah sesuatu yang penting karena melalui mitos tersebut masyarakat menemukan harapan dari keterdesakan hidup yang mendera mereka.

Bagi pemerintah, mitos Pangeran Samudro juga memiliki arti penting sehingga pada era Orde Baru pemerintah mulai “membuat” kisah tentang Pangeran Samudro yang berbeda dengan keyakinan masyarakat setempat. Pemerintah Kabupaten Sragen, melalui informasi yang tertera di dalam website resminya menyebut Pangeran Samudro adalah putra Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit yang memerintah di masa keruntuhan kerajaan itu pada sekitar tahun 1478. Tatkala Majapahit runtuh karena serangan Kerajaan Demak, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri tapi justru ikut serta ke Demak.

Oleh Sultan Demak, Pangeran Samudro kemudian diperintahkan belajar Islam kepada Sunan Kalijaga dan Kyai Ageng Gugur. Setelah pembelajarannya tentang Islam selesai, Pangeran Samudro sempat berdakwah di beberapa tempat sebelum akhirnya meninggal di Dukuh Doyong, Kecamatan Miri, Sragen. Ia kemudian dimakamkan di sebuah bukit di sebelah barat Dukuh Doyong. Bukit itulah yang kini dikenal sebagai Gunung Kemukus.

Mitos versi Pemerintah Kabupaten Sragen ini berbeda dengan mitos yang diyakini penduduk sekitar Gunung Kemukus. Para penduduk asli daerah itu yakin Pangeran Samudro bukanlah orang yang “tunduk” dan mau bekerja sama dengan Demak ketika Majapahit runtuh. Sebaliknya, mereka yakin bahwa Pangeran Samudro justru terus melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Demak. Ia dianggap pahlawan bagi rakyat sekitar karena membela wilayah Gunung Kemukus dari serbuan Demak. Masyarakat di kawasan Gunung Kemukus juga yakin bahwa Pangeran Samudro adalah pengabdi budaya Jawa abangan dan bukan pendakwah Islam seperti diyakini Pemerintah Sragen.

Adanya perbedaan pemahaman tentang Pangeran Samudro antara masyarakat lokal Gunung Kemukus dengan pemerintah bukan disebabkan perbedaan sumber sejarah. Sebab, sumber sejarah yang sahih tentang Pangeran Samudro memang belum pernah ditemukan. Nama Pangeran Samudro bahkan tidak tercantum dalam silsilah Kerajaan Majapahit atau Demak. Perbedaan penafsiran itu, sangat mungkin lebih bersifat “politis”. Orlando de Guzman (2006: 43) menyebut bahwa pemerintah orde baru berusaha “menyesuaikan” mitos Pangeran Samudro dengan gagasan-gagasan Pancasila untuk “membersihkan” daerah itu dari pengaruh Partai Komunis Indonesia. Pada tahun 1960-an, kawasan Gunung Kemukus memang merupakan daerah basis PKI.

Selain itu, penafsiran baru ala pemerintah juga sangat mungkin berkaitan dengan pembangunan Waduk Kedung Ombo. Pengambilalihan Gunung Kemukus oleh Pemkab Sragen dan pengumuman rencana pembangunan Waduk Kedung Ombo berlangsung pada tahun yang sama: 1983. Pembangunan Kedung Ombo mendapat banyak tentangan karena pembangunannya akan menenggelamkan rumah milik 5.268 kepala keluarga di empat kecamatan di Kabupaten Boyolali, Sragen, dan Grobogan. Para penduduk yang rumahnya tenggelam diminta transmigrasi ke pulau lainnya dengan ganti rugi sebesar Rp. 250 (Stanley; 1994).

Beberapa desa di sekitar Gunung Kemukus juga ikut dalam wilayah yang akan tenggelam jika Kedung Ombo dibangun. Berkaitan dengan persoalan itu, sejumlah warga Gunung Kemukus menyatakan menolak melakukan transmigrasi. Penolakan itu dihadapi pemerintah dengan berbagai cara. Pemberian “tafsir baru” atas mitos Pangeran Samudro yang dilakukan Pemkab Sragen kala itu sangat mungkin berkaitan dengan rencana pembangunan Kedung Ombo. Dalam tafsir versi pemerintah, Pangeran Samudro diceritakan sebagai sosok yang bekerja sama dengan penguasa—dalam konteks saat itu adalah Kerajaan Demak—dan juga menganut sejumlah nilai yakni: (1) ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; (2) menghargai orang tua sebagai perantara lahir manusia ke dunia; (3) selalu taat dan setia kepada negara; (4) tidak takut menghadapi kesukaran dan penderitaan dalam melaksanakan tugas; (5) seorang tokoh pendamai serta pemersatu bangsa dan selalu bertanggung jawab.

Dalam penafsiran versi pemerintah ini, terlihat kalau pemerintah Orde Baru ingin menunjukkan bahwa Pangeran Samudro adalah penganut sejumlah nilai yang bersesuaian dengan Pancasila dan juga memiliki ketaatan pada negara. Melalui tafsir semacam ini, pemerintah Orde Baru tampaknya ingin menggiring masyarakat setempat—yang menganggap Pangeran Samudro sebagai “panutan”—untuk taat pada pemerintah, terutama dalam persoalan pembangunan Waduk Kedung Ombo. Hal ini makin kentara ketika pemerintah Orde Baru mulai memberi stigma pada warga yang menolak pindah dengan cap “anti-Pancasila”, “anti-pemerintah”, atau “anti-pembangunan”. Melalui pemberian cap macam itu, secara tidak langsung pemerintahan Soeharto ingin mengatakan bahwa masyarakat yang menolak pindah adalah mereka yang tidak lagi menghormati dan mencontoh sikap Pangeran Samudro.

Tapi upaya memonopoli tafsir tentang mitos Pangeran Samudro tampaknya tidak membuahkan hasil yang signifikan. Justru ketika sengketa Waduk Kedung Ombo berlangsung, mitos Pangeran Samudro versi penduduk asli menjadi tambah populer (Guzman; 2006: 46). Para penduduk kala itu menganggap bahwa Pangeran Samudro adalah sosok gaib yang akan melindungi mereka dari tekanan fisik dan psikologis yang diberikan oleh pemerintah orde baru.

Bagi mereka yang menolak pindah, Pangeran Samudro adalah sosok yang melambangkan kesengsaraan rakyat kecil karena kesewenang-wenangan penguasa. “Politisasi” yang dilakukan pemerintah Orde Baru terhadap mitos Pangeran Samudro pada akhirnya tak menuai hasil yang maksimal. Masyarakat asli Gunung Kemukus, secara baik justru menjadikan mitos tersebut sebagai “pertahanan diri” guna menghadapi tekanan fisik dan represi psikologis dari pemerintah Orde Baru.

Haris Firdaus

[Versi lain tulisan ini dimuat di Harian Media Indonesia, 6 Juni 2009. Saya juga menulis kisah lengkap soal Pangeran Samudro dan Gunung Kemukus di buku Misteri-misteri Terbesar Indonesia. Gambar Gunung Kemukus saya ambil dari sini ]

Share

22 comments

  1. Pencerah /

    yang jelas disana banyak prostitusi terselubung

  2. yosafat /

    wew… baru tau tentang cerita ini…

  3. yosafat /

    wew… baru tau tentang cerita ini…

  4. Fans Indonesia /

    Dasar soeharto

  5. nothing /

    portitusi bisnis yang tak akan mati, dan penuh kreasi dengan segala bungkus bungkus kreatifnya

  6. Kombor /

    Saya tahunya Gunung Kemukus adalah tempat untuk mencari "berkah" dengan laku seperti itu. Akan tetapi, saya tidak tahu apabila harus dilakukan tujuh kali. Tujuh kali dengan pasangan beda-beda, atau bisa dengan pasangan yang sama yang diketemukan ditempat itu?

    Hehehe, bukan berarti saya mau ke sana. Saya kok tidak pernah ke tempat-tempat seperti itu. Bahkan, ziarah ke makam para wali pun saya tidak pernah. Berdoa cukup di rumah saja. Berkah ya dari Yang Maha Kuasa saja.

  7. suryaden /

    apa dong hubungannya sama pancasila….

  8. gedeblog /

    makasih kang infonya …,lumayan nambah pengetahuan sejarah

  9. sawali tuhusetya /

    wah, info yang menarik, mas haris. jujur saja, saya jarang membaca kisah dan mitos2 semacam ini. utk kepentingan penguasa, apa pun bisa diplintir dan ditafsirkan macam2.

  10. gagahput3ra /

    Info yang menarik, saya bener2 baru tahu tempat ini dan sejarah dibaliknya, dan jujur saya malu sendiri :lol:

  11. Ikkyu_san a.k.a imelda /

    ngga pernah denger mitos seperti itu…. rupanya ada juga ya?

    EM

  12. Danta /

    ya ampun.. baru denger.. ada ritual seks bebas.. ngeri.. jangan sampe deh..

  13. grubik /

    tafsir sejarah dan politisasi, orde baru banget memang…

  14. azaxs /

    sejarah memang selalu pelik.. tidak ada yang tahu pasti..

  15. itempoeti /

    praktek pesugihan yang dilakukan di gunung kemukus memang adalah sebuah penyimpangan sosial sekaligus spiritual.

    hal ini tentu tak ada hubungannya dengan sosok P. Samudro. namun yang tetap menarik untuk ditelusuri adalah siapa sesungguhnya P. Samudro.

    ini penting guna meluruskan kembali sejarah yang sudah terlalu lama dimanipulasi.

    JASMERAH sudah berubah menjadi JAKETMERAH!!!

    JAngan KETerlaluan MEmanipulasi sejaRAH !!!

  16. masmpep /

    Yang menarik adalah usaha pemerintah orde baru untuk membuat sejarah tandingan. ini satu proses yang tak mudah–dan mas haris katakan 'gagal'. citra, reproduksi citra menarik dikaji saya kira. kita perlu belajar mengapa orde baru gagal membumikan 'sejarahnya'.

  17. Andy MSE /

    yok, kapan2 ke gunung kemukus bareng yok!…

  18. Saya suka baca-baca cerita ttg mitos.
    Karena kan namanya percaya gak percaya, jadi bebas menafsirkan… :)

  19. ciwir /

    ritual mistis ini tak lepas dari kondisi sosio masyarakat kita…

  20. suwung /

    sejarah memang biasanya berlaku bagi yang berkuasa… jadi yang bener yang mana?

  21. Johan Bhimo Sukoco /

    Iya, Bung. Waktu aku kesana aja pas jadi peserta duta wisata Sukowati-sragen saja, ditawarin ibu-ibu: "Mas, Mampir dulu, Mas…" hehe..Tapi konon disana juga dijadi'in wisata ziarah lho..jangan salah!
    -JBS-

  22. bertolak belakang banget, pangeran yg taat agama akhirnya tempat makamnya dijdikan tempat untuk maksiat/ seks bebas. bertolak belakang dan terlalu disalah gunakan, orang yang bodoh…….

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word