Buku @ 03 November 2009, “45 Comments”

cover garuda

Akhirnya, buku kedua saya yang berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia 2 terbit November ini. Informasi dari Penerbit BukuKatta menyebutkan, buku ini telah beredar di wilayah Jabodetabek. Wilayah-wilayah lain di Indonesia akan segera menyusul. Anda bisa membeli buku ini di jaringan Toko Buku Gramedia seharga Rp. 33.300,-. Bisa juga membeli via Penerbit BukuKatta secara langsung di sini.

Konsep utama buku ini sama dengan buku saya sebelumnya, Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008). Seperti pernah saya katakan sebelumnya, buku ini berisi sembilan kisah tentang fenomena misteri yang ada di Indonesia. Ini bukan soal klenik dan setan. Fenomena yang saya bahas secara panjang lebar dalam buku ini adalah fenomena yang masih misterius alias menimbulkan banyak pertanyaan di benak masyarakat Indonesia. Wujud konkretnya bisa beraneka ragam, tapi muaranya pada soal misterinya.

Buku @ 10 October 2009, “40 Comments”

Misteri-misteri Terbesar Indonesia Volume 2

Misteri-misteri Terbesar Indonesia 2 adalah buku kedua saya, akan terbit pada bulan ini. Dari segi gagasan dan tema, buku ini sepenuhnya sama dengan buku pertama saya, Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008). Saya masih harus mengatakan bahwa semua tulisan dalam buku ini diniatkan sebagai semacam ensiklopedi sekaligus narasi tentang sejumlah fenomena misteri di Indonesia.

Kebanyakan orang di Indonesia memahami kata “misteri” sama dengan segala hal yang sifatnya gaib dan klenik sehingga mungkin ada orang yang beranggapan saya menulis buku berisi ensiklopedi setan asli Indonesia. Apa yang saya tulis, nyatanya, jauh sekali dari dugaan itu. Dalam buku ini dan sebelumnya, saya menuliskan sejumlah fenomena di Indonesia yang sampai sekarang tidak pernah terjelaskan secara sempurna sehingga banyak orang yang masih bertanya-tanya perihal fenomena itu.

Buku @ 12 April 2009, “7 Comments”


Judul buku : Generasi MTV
Penulis : Dadang Rusbiantoro
Penerbit : Jalasutra, Bandung
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Tebal : 203 halaman

Di New York, 8 Desember 1980, sebuah kegemparan terjadi. Mark David Champman, seorang penggemar berat The Beatles, menembak John Lennon. Champman memuntahkan peluru pistolnya berkali-kali ke arah Lennon sampai vokalis The Beatles itu meninggal dunia.

Pada psikiaternya, Champman menjelaskan alasannya melakukan pembunuhan mengerikan itu. Kata Champman, ia merasa dirinya sebagai John Lennon. Dalam seluruh kehidupannya, Champman memang mengidentifikasi dirinya dengan Lennon. Bahkan, saat diminta menuliskan namanya, Champman menuliskan “John Lennon” sebagai namanya. Pembunuhan itu dilakukannya karena ia merasa tak mungkin ada dua John Lennon di dunia. Hanya boleh ada satu John Lennon di dunia, kata Champman, sehingga dengan terpaksa Lennon yang asli dibunuhnya.

Jean Baudrillard menyebut fenomena Champman yang mengidentikkan dirinya dengan John Lennon, sebagai “fatalitas”: sebuah fenomena di mana seorang fans terlalu mencintai ikon pujaannya menuju ke titik ekstrem sampai melampaui batas dan menyalahi logika. Ketika kecintaan seorang fans pada ikon pujaan telah melebihi batas logika, yang terjadi adalah penghancuran diri sang fans sekaligus sang idola. Pembunuhan Lennon oleh Champman membuktikan tesis ini.

Bagi Dadang Rusbiantoro, penulis buku ini, apa yang terjadi pada Champman bisa saja berulang pada jutaan anak muda di dunia. Pengidentikkan diri pada seorang musisi, menurut Dadang, adalah sebuah fenomena yang umum terjadi, terutama setelah kemunculan sebuah saluran televisi bernama Music Television (MTV). Buku Generasi MTV merupakan sebuah telaah kritis yang mencoba menghubungkan kemunculan dan penyebaran MTV ke seluruh dunia dengan “krisis identitas” yang terjadi pada anak-anak muda seperti yang dialami Champman.

Dadang mengawali pemaparannya dengan menjelaskan sejarah kemunculan budaya populer pada 1960-an di Amerika Serikat. Pada kala itu, budaya populer terutama ditandai dengan munculnya sejumlah gerakan politik dan budaya tanding yang mencoba keluar dari norma-norma kemasyarakatan yang baku. Sejumlah kelompok seperti Kaum Hippie yang menolak perang Vietnam dan Student for Democratic Society (SDS) yang merupakan gerakan politik kiri para remaja Amerika Serikat, menandai era tersebut.

Yang menarik, semua gerakan politik dan budaya tanding kala itu menggunakan musik sebagai sarana mengekspresikan perlawanannya. Dadang mencatat, sejumlah festival musik legendaris digelar sebagai sebentuk protes sosial, seperti festival musik Summer of Love dan The Woddstock Music and Art Festival. Pada era inilah dimulai sebuah pertautan penting antara musik, gaya hidup, dan identitas. Musik bukan sekadar lantunan tembang hiburan, tapi juga sebuah ekspresi dari budaya tertentu. Para musisi kala itu bukan hanya menyanyikan lagu tapi juga memiliki gaya pakaian dan pola hidup tertentu yang juga diduplikasi oleh fans mereka. Duplikasi itu merupakan sebuah upaya penegasan identitas.

TV Kebudayaan
MTV mulai dirintis sejak 1977 dan resmi mengudara pada 1981. Pada mulanya, format siarannya masih mencontoh siaran Top 40 di radio. Ketika diambilalih raksasa media Viacom, MTV mulai melakukan banyak inovasi yang membuat ratingnya naik. Sumner Redstone, pemilik Viacom, mengatakan bahwa MTV bukan hanya saluran “TV musik” tapi juga “TV kebudayaan”. Pernyataan Redstone ini menunjukkan niatan MTV untuk tidak hanya memperkenalkan musik tapi juga mengintrodusir “sebuah kebudayaan” bagi para pemirsanya.

Kemunculan MTV membuat para anak muda bisa melihat musisi pujaannya secara langsung dari kotak kaca televisi. Namun, mereka bukan hanya melihat video klip musik, tapi juga menyaksikan gaya hidup para idola mereka. Pada perkembangannya, MTV tidak hanya menyajikan video musik tapi juga acara reality show dan talk show yang mengupas gaya pakaian dan gaya hidup para musisi. Jadi, persis yang dikatakan Redstone, MTV tidak hanya memberi musik, tapi juga mendiktekan “sebuah kebudayaan”.

Menariknya, seringkali para musisi yang sebelumnya diidentikkan dengan perlawanan terhadap kemapanan dan kapitalisme serta identik dengan budaya minoritas tertentu, pada akhirnya toh masuk juga ke MTV. Begitu masuk ke MTV, musik mereka berhenti menjadi ekspresi perlawanan. Gaya pakaian para musisi itu yang sebenarnya juga merupakan sebentuk perlawanan, pada akhirnya direproduksi sebagai komoditas dalam dunia fesyen.

Dalam literatur kajian budaya, fenomena ini disebut sebagai “inkorporasi”: suatu proses sosial dimana kelas yang dominan mengambil elemen-elemen kebudayaan kelas subordinat dan menggunakannya untuk memperkuat status quo. (Antariksa; 2000). Musik dan gaya hidup yang telah kehilangan aura perlawanannya itulah yang disebarkan MTV ke seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia.

Para remaja Indonesia yang melihat grup musik Nirvana, misalnya, mungkin akan tertarik pada musik dan gaya pakaian grup band itu. Tapi mereka tak akan paham bahwa pada awalnya aliran musik dan gaya pakaian Nirvana merupakan ekspresi perlawanan tertentu. Gaya pakaian Nirvana mungkin ditiru, tapi tanpa pemahaman akan ideologi di balik pakaian itu.

Terlepas dari persoalan itu, menurut Dadang, penyebaran MTV ke seluruh dunia memang akan menimbulkan problem identitas bagi kaum muda. Kaum muda rawan menjadi “pembebek” bagi gaya hidup para ikon yang datang dari luar. Secara khusus, di bagian akhir buku ini, Dadang mencoba menyarankan sejumlah “strategi kebudayaan” guna menangkal pengaruh buruk MTV di Indonesia.

Sayangnya, refleksi tentang “strategi kebudayaan” itu terlalu terburu-buru dan terkesan tidak tuntas. Diperlukan perenungan lebih dalam dan pengkajian lebih luas untuk mencegah bersemainya pengaruh buruk dari ekspansi kebudayaan global di Indonesia.

Haris Firdaus
gambar diambil dari sini

Buku @ 17 February 2009, “15 Comments”


Judul buku : Saya Berbelanja Maka Saya Ada: Ketika Konsumsi dan Desain Menjadi Gaya Hidup Konsumeris
Penulis : Haryanto Seodjatmiko
Penerbit: Jalasutra, Yogyakarta dan Bandung
Cetakan : Pertama, November 2008
Tebal : 118 halaman

Salah satu aktivitas paling penting yang membedakan manusia modern dengan pendahulunya yang primitif adalah belanja. Diakui atau tidak, pada masa ini, berbelanja tidak lagi merupakan aktivitas ekonomi demi pemenuhan kebutuhan saja. Berbelanja telah menjadi laku kultural yang memiliki kontribusi penting dalam pembentukan identitas kita sebagai makhluk sosial. Manusia kontemporer, suka atau tidak, adalah “manusia belanja”.

Jean Baudrillard pernah memaklumatkan hadirnya sebuah “masyarakat baru” yang ditandai dengan makin pentingnya makna konsumsi dalam kehidupan sosial. Alih-alih hanya merupakan tindak memenuhi kebutuhan, konsumsi adalah proses yang menandai diferensiasi dalam masyarakat. Baudrillard menyebut, di dalam sebuah “masyarakat konsumer”, konsumsi berperan sebagai sebuah “sistem diferensiasi” yang membeda-bedakan masyarakat ke dalam kategori-kategori tertentu.

Buku karya Haryanto Soedjatmiko ini merupakan studi tentang laku konsumsi dalam kebudayaan kontemporer. Studi Haryanto diawali dengan telaah tentang perkembangan proses konsumsi yang dikaitkan dengan tindak pemenuhan kebutuhan manusia sampai kemunculan konsumerisme sebagai cara hidup (a way of life).

Sejak awal abad 18 di Inggris, mulai tampak sebuah masyarakat yang lebih berorientasi pada kepemilikan benda-benda yang up to date daripada materi-materi yang tahan lama. Gejala ini dilihat Haryanto sebagai asal mula sebuah fenomena yang sering disebut sebagai “konsumerisme”. Peningkatan kapasitas konsumsi masyarakat Inggris pada 1880-1980-an juga menjadi titik penting yang menandai penyemaian “budaya belanja” dalam masyarakat.

Setelah tahun-tahun itu, berbarengan dengan peningkatan teknologi dan pertumbuhan penduduk yang cenderung berkonsentrasi di daerah-daerah urban, daya belanja masyarakat terus bertambah. Secara khusus, setelah Perang Dunia II, sebuah pasar massa barang-barang konsumsi telah terbentuk. Sejak tahun 1980-an, seperti disampaikan Martyn J. Lee di dalam Consumer Culture Reborn (1993), telah terjadi perubahan global yang berakibat terbentuknya “budaya konsumsi”.

Sejumlah perubahan global yang disebut Martyn J. Lee menyebabkan maraknya perbincangan mengenai wacana konsumsi antara lain: (1) pertumbuhan teknologi komputer; (2) internasionalisasi perdagangan yang membuka pasar bebas antar negara; (3) kemajuan teknologi produksi imaji atau citra yang berpegang pada estetika bentuk; (4) perkembangan dalam sistem produksi yang membawa tambahan kemakmuran bagi kelas pekerja; dan (5) munculnya wacana posmodern dalam bidang seni dan akademik.

Pada perkembangan yang lebih lanjut, budaya konsumsi masuk ke dalam berbagai ranah sosial dalam masyarakat. Dalam buku ini, Haryanto menunjuk sejumlah ranah yang telah dimasuki oleh budaya konsumsi, seperti teknologi informasi, musik, dan olahraga. Perkembangan lebih jauh juga menunjukkan bahwa laku konsumsi atau belanja menjadi makin penting dalam relasi sosial manusia.

Mike Featherstone menyatakan, pada akhirnya konsumsi secara alamiah akan membentuk identitas bagi tiap individu dalam masyarakat. Pada masa sekarang, perbedaan dalam aktivitas berbelanja memang bisa mengakibatkan diferensiasi identitas antarindividu. Mereka yang membeli produk mewah tentu akan memiliki identitas berbeda dengan orang yang hanya mampu mengonsumsi produk kelas bawah. Seperti judul buku ini, berbelanja memang menjadi sebuah aktivitas yang bisa menegaskan eksistensi kita sebagai manusia. Kita berbelanja maka kita ada!

Paradoks
Salah satu yang paling menarik dari buku ini adalah telaah mengenai paradoks yang terkandung dalam konsep konsumerisme. Pada mulanya, konsumerisme berkaitan dengan sebuah upaya untuk ikut menyertakan pandangan para konsumen terhadap proses produksi barang. Dalam The Concise Oxford Dictionary, term konsumerisme diartikan sebagai “perlindungan kepada minat para konsumen terhadap produsen”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti nomor satu konsumerisme adalah “gerakan/kebijakan melindungi konsumen dengan menata metode dan standar kerja produsen, penjual, dan pengiklan”.

Dilihat dari sisi ini, konsumerisme menawarkan kebebasan kepada konsumen untuk memilih produk yang mereka sukai sekaligus memberikan pendapat pada produsen tentang barang yang mereka inginkan. Namun dalam praktiknya, wacana kebebasan yang disuarakan oleh konsumerisme tahap awal ini hanyalah sebuah retorika. Secara substansial, kebebasan konsumen tak pernah benar-benar ada. Haryanto mengatakan, para konsumen lebih sering digiring kepada sebuah tujuan yang telah ditetapkan oleh para produsen.

Alih-alih memenuhi keinginan para konsumen tentang produk yang mereka inginkan, para produsen lebih sering melakukan “pendiktean” terhadap konsumen tentang produk apa yang seharusnya mereka beli. Salah satu aspek penting dari upaya “pendiktean” ini adalah dengan melakukan pembaharuan terus-menerus dalam hal desain produk. Haryanto menyebut, perkembangan teknologi desain produk menjadi salah satu faktor kunci perkembangan konsumerisme.

Sebagai sebuah pengantar, buku ini bisa membawa kita menjelajahi sejumlah tema berkait dengan konsumsi dan konsumerisme. Meski masih belum bisa disebut komprehensif, paling tidak karya ini membuat kita sadar bahwa aktivitas berbelanja pada masa ini ternyata memiliki peran yang cukup signifikan dalam kehidupan kita. Berbelanja bisa menjadi sebuah aktivitas penegasan identitas dan eksistensi. Kita berbelanja maka kita ada!
Haris Firdaus

Buku @ 02 November 2008, “8 Comments”

Kajian tentang kaum muda di Indonesia telah memiliki rentang usia yang cukup panjang. Kaum muda Indonesia sudah mulai menjadi bahan studi para peneliti—asing maupun domestik—sejak perjuangan kemerdekaan dimulai sampai hari ini. Kajian-kajian yang terutama ditandai dengan penerbitan berbagai buku hasil penelitian itu, memiliki kecenderungan yang berbeda-beda tiap periode.

Sebelum Orde Baru tegak, studi tentang kaum muda hampir selalu dikaitkan dengan persoalan politik. Seperti disebut Bennedict Anderson dalam bukunya yang masyhur, Revolusi Pemuda (1988), di masa sebelum Soeharto berkuasa, kegiatan yang tersedia bagi anak-anak muda adalah kegiatan yang sifatnya politis. Pada masa Orde Lama dan sebelumnya, sebagian besar pemuda Indonesia menghabiskan waktunya dengan mengikuti organisasi-organisasi pemuda, mahasiswa, dan juga partai politik.

Realitas kepemudaan Indonesia yang penuh aktivitas politik bisa kita lihat, misalnya saja, dalam novel Layar Terkembang (1936) yang dikarang Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam novel itu, tergambar kehidupan kaum muda Indonesia tahun 1930-an yang mulai melek organisasi dan politik. Sebagian pemuda waktu itu, terutama setelah momen Sumpah Pemuda tahun 1928, telah ikut berkiprah dalam berbagai organisasi yang berperan dalam penyemaian kesadaran politik dan nasionalisme.

Boom Minyak dan Budaya Populer
Salah satu kejadian penting yang menandai pergeseran kondisi kaum muda Indonesia adalah terjadinya lonjakan harga minyak dunia pada tahun 1970-an. Fenomena yang kerap disebut sebagai “boom minyak” ini menguntungkan Indonesia yang waktu itu merupakan negara pengekspor minyak. Keuntungan atas lonjakan harga minyak dunia ini mengakibatkan tambahan pemasukan bagi sebagaian besar masyarakat Indonesia, terutama golongan ekonomi atas.

Secara tidak langsung, terjadinya “boom minyak” tahun 1970-an yang diikuti dengan stabilitas perekonomian Indonesia, telah berpengaruh terhadap kondisi sosiologis kaum muda di Indonesia. Berangsur-angsur kemudian, berkembanglah sebuah “kelas menengah perkotaan” yang ditandai oleh konsumsi barang mewah dalam siklus hidup mereka. Bersamaan dengan itu, lahirlah berbagai tempat hiburan baru yang sebelumnya tak dikenal. Kemunculan ini kemudian diikuti dengan terbentuknya kelompok kaum muda yang mulai menghabiskan waktunya dengan kegiatan-kegiatan non-politis dan mulai mengkonsumsi berbagai barang modern seperti motor, radio, dan alat-alat musik .

Pada periode ini, diawalilah perubahan dalam kondisi sosial pemuda Indonesia yang juga akibat dari depolitisasi yang dilakukan pemerintahan Soeharto. Sejumlah buku tentang kondisi Indonesia kala itu mulai memotret terjadinya perubahan tersebut. Buku karya James Siegel, Solo in The New Order, Language and History in an Indonesian Town (1986), salah satunya. Dalam buku itu James Siegel menyatakan, mulai terjadi pergantian istilah untuk menyebut kaum muda Indonesia pada waktu itu. Istilah “remaja” mulai populer kala itu, menggantikan term “pemuda”. Pergantian ini bukan hanya soal bahasa tapi juga soal politik. Istilah “remaja”, menurut Siegel, merujuk pada kaum muda hasil depolitisasi Orde Baru. Dengan kata lain, sejak kala itu kaum muda Indonesia mulai menengok hal-hal selain politik sebagai aktivitas mereka.

Setelah periode itu, kaum muda Indonesia tak lagi hanya dikaitkan dengan soal politik tapi juga dengan budaya populer dan gaya hidup. Selama kurun 1970 sampai 1980-an, Jurnal Prisma dua kali mengangkat tema kebudayaan populer, yakni tahun 1977 dan 1987. Pada tahun 1997, terbitlah buku kumpulan tulisan mengenai gaya hidup, budaya populer, dan keterkaitan keduanya dengan kaum muda. Buku yang disunting Idi Subandy Ibrahim berjudul Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia itu kembali diterbitkan tahun 2005 oleh penerbit berbeda.

Meski pada periode 1990-an kebudayaan kaum muda tidak lagi hanya dikaitkan dengan politik, tapi buku yang membahas pemuda dalam perspektif politik juga tak sedikit. Apalagi, ketika gerakan mahasiswa 1998 berhasil memaksa Soeharto untuk lengser keprabon. Salah satu buku yang secara menarik membahas gerakan mahasiswa 1998 adalah buku kumpulan tulisan bertajuk Mahasiswa Menggugat: Potret Gerakan Mahasiswa 1998 yang dieditori Fahrus Zaman Fadhly. Buku yang terbit tahun 1999 ini menjadi menarik karena di dalamnya terdapat tulisan tentang relasi aktivitas politik mahasiswa 1998 dengan budaya populer dan gaya hidup.

Tahun 2002, Hikmat Budiman menerbitkan buku hasil penelitian tentang budaya populer di Indonesia. Buku berjudul Lubang Hitam Kebudayaan itu bisa jadi merupakan buku mengenai kebudayaan populer di Indonesia yang paling lengkap sampai saat ini. Berbeda dengan banyak pemikir Indonesia dekade sebelumnya yang hampir selalu melihat kebudayaan populer sebagai sesuatu yang negatif, Hikmat melihat persoalan budaya populer secara lebih bijaksana.

Pada Agustus 2008, terbit sebuah buku berjudul Generasi MTV karya Dadang Rusbiantoro. Buku ini merupakan bentuk keprihatinan Dadang terhadap kaum muda Indonesia yang larut dalam histeria budaya populer. Secara kritis, Dadang menyoroti masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia, terutama melalui program tayangan Music Television (MTV). MTV dianggap berhasil melakukan hegemoni terhadap remaja-remaja Indonesia sehingga mereka rela melakukan penjiplakan habis-habisan dalam soal gaya hidup. Kecenderungan macam ini, menurut Dadang, seharusnya segera dilawan supaya para pemuda Indonesia tak menjadi “pengekor Barat” yang setia.

Haris Firdaus
Dimuat di Suara Merdeka, 26 Oktober 2008
gambar diambil dari sini