Fiksi @ 25 February 2009, “16 Comments”

fiksi


Aku akan memanggilmu Cemara dan kau bisa memanggilku Laut.

Kau tak perlu mengetahui namaku sebagaimana aku tak membutuhkan namamu. Jika sebuah nama diperlukan untuk membuat seseorang menengok saat kita memanggilnya, maka sama sekali kita tak membutuhkannya. Sejak saat ini, kita bisa saling berjanji bahwa aku akan menoleh saat kau memanggil dengan sebutan Laut dan kau akan menengok pada saat kupanggil Cemara. Ini sama sekali bukan sesuatu yang rumit kan?

Ketika diketahuinya perempuan itu tak menyahut, laki-laki itu merasa telah menang. Ia yakin bahwa kalimat-kalimatnya barusan sungguh mempesona, sebaris aksara yang disusun secara rapi sedemikian rupa sehingga siapapun yang mendengarnya akan berdecak. Laki-laki itu amat yakin. Sejak awal membuka obrolan, ia sudah percaya pada kemampuannya untuk berdiplomasi—lebih tepatnya: berakrobat kata-kata.

Di hadapan lawan bicaranya yang ia taksir tak pernah membaca banyak buku itu—apalagi yang berisi puisi—lelaki itu telah tahu bahwa kemenangan akan berpihak kepadanya. Bekalnya lumayan banyak dan dengan itu ia akan selalu yakin banyak kekaguman yang akan disemat baginya. Dan hari ini, beberapa detik silam, ia membuktikan kepercayaan dirinya itu.

Perempuan itu telah takluk, demikian ia membatin.

Kenapa harus laut?

Ketika kalimat tanya dari lawan bicaranya itu terlontar, lelaki itu merasa kemenangan benar-benar sudah ia genggam. Perempuan itu bertanya. Ia penasaran. Itu artinya aku menang. Lelaki itu girang bukan kepalang. Ia tersenyum tanpa berusaha kelihatan bangga. Lalu sebentar ia mengerutkan keningnya. Ia sedang berusaha tampak berpikir. Atau memang, pada akhirnya, ia benar-benar berpikir.

Sebab, meskipun sudah menebak bahwa perempuan itu akan bertanya demikian—lebih dari itu, ia memang mengharapkan perempuan itu akan menanyakan hal tersebut—lelaki itu ternyata tak pernah benar-benar menyiapkan jawaban. Barangkali ia terlampau percaya diri sehingga ia mengharapkan otaknya bisa segera menyembulkan jawaban jika kalimat tanya yang demikian benar-benar diajukan padanya. Namun, kini, ia tak bisa mengandalkan kepercayaan diri semata.

Kenapa aku ingin dipanggil Laut?

Laki-laki itu mengulang kalimat tanya sang perempuan, mungkin supaya terlihat lebih dramatis. Tapi alasannya mengulang kalimat tak perlu itu adalah karena ia butuh waktu, meskipun hanya sejengkal detik, untuk berpikir, merangkai kalimat, dan melontarkannya secara dramatis. Minimal, jawabannya itu harus mengeluarkan pesona yang sama dengan kalimat-kalimat sebelumnya.

Ketika beberapa detik berlalu dalam hening, lelaki itu sadar: meraih kemenangan memang lebih mudah ketimbang mempertahankannya. Ia mulai berkeringat dingin. Beberapa kelebat sajak yang pernah ia baca memang melintas di benaknya, sejumlah kutipan agung yang entah dari mana ia comot juga berjalan-jalan di otaknya. Tapi semuanya seakan tidak berguna. Ia masih belum menjawab pertanyaan itu. Perempuan itu pasti menunggu, ia menggumam dalam hati dengan keyakinan yang dipenuhi belas kasihan pada diri sendiri.

Pada sebuah malam yang membosankan, sebagaimana malam-malam yang kerap ia lalui, laki-laki yang ingin dipanggil Laut itu menghidupkan televisi dan dengan berat hati duduk takluk di hadapannya. Lelaki itu membenci televisi. Sungguh, ia telah mewartakan pendiriannya kepada banyak rekannya, sejumlah tetangganya, dan beberapa manusia yang tak dikenalnya sama sekali.

Tapi malam itu ia takluk. Hawa di rumahnya begitu gerah dan tak ada yang menurutnya bisa dilakukan kecuali menghidupkan televisi. Untuk sementara, aku akan meninggalkan buku-buku dan sajak-sajak itu, katanya dengan bangga—bahkan dalam kesendiriannya yang paling pelosok, ia masih menemukan alasan untuk berbangga pada dirinya sendiri.

Televisi hidup, dan lelaki yang ingin dipanggil Laut itu berusaha keras mendapatkan tayangan yang sedikit berbobot berdasarkan seleranya. Ia menghindari sinetron tentu saja dan juga infotainmen. Debat politik tentang pemilu juga dilewatkannya karena ia sungguh-sungguh yakin bahwa para politisi yang malam itu hadir di layar kaca hanyalah tukang isap.

Satu-satunya acara yang kemudian membuatnya tertarik hanyalah sebuah film asing yang disiarkan satu stasiun televisi swasta. Pada mulanya, lelaki itu tak meyakini ketertarikannya sendiri. Namun begitu mulai memahami alur kisahnya, laki-laki yang ingin dipanggil Laut itu pun merasa mantap. Ia menyimak serius, tiap dialog penting yang menurutnya puitis diingatnya dalam-dalam. Momen-momen visual yang dianggapnya sentral dan bisa memberi banyak makna segera ia hapalkan di luar kepala.

Di akhir kisah, lelaki itu menangis saat menyadari sepasang kekasih yang saling mencintai itu ternyata dipisahkan oleh takdir yang kejam. Laut yang mengamuk, kapal yang karam, tangis ratusan manusia. Momen-momen itu menggetarkannya.

Tapi yang paling membuatnya kagum adalah kenyataan bahwa sepasang kekasih yang dilihatnya dalam film itu ternyata baru saja saling kenal di atas kapal yang mereka tumpangi. Sebelum pelayaran itu, mereka tak memiliki relasi apapun. Pelayaran itulah yang membikin benih-benih asmara tumbuh. Lautlah yang menyatukan mereka, kata laki-laki itu sembari melupakan bahwa laut pula yang memisahkan keduanya.

Sejak saat itu, lelaki itu sangat ingin dipanggil Laut.

Secara gaib, setelah tontonan yang membuatnya merasa telah mengalami semacam metamorfosa itu—sebuah kata yang bisa dipastikan amat hiperbolis—lelaki itu teringat sebuah puisi dari seorang penyair kebanggan negerinya. Sebuah puisi yang dulu di masa-masa patah hatinya begitu ia kenang dan banggakan. Ia hafal puisi itu luar kepala dan dulu ia amat sering membacakannya keras-keras di kamar mandi saat sedang beol atau mandi.

Ingatan tiba-tiba akan sajak patah hatinya membuat lelaki itu takjub. Ia merasa seolah mendapat sebuah ilham, semacam wangsit. Ketakjuban tersebut tambah menjadi tatkala ia sadar bahwa di bait terakhir sajak itu, laut juga disebut-sebut. Ya, potongan baris terakhir sajak itu berbunyi: “di laut tidak bernama”. Laut yang tidak bernama, lelaki itu menggumam beberapa kali. Laut tidak bernama.

Sejak saat itu, lelaki itu benar-benar ingin dipanggil Laut.

Keinginan itu menemui penyalurannya beberapa menit lalu saat ia bersua perempuan itu. Dengan yakin ia mengatakan: Aku akan memanggilmu Cemara dan kau bisa memanggilku Laut. Ini tentu saja awalan ganjil bagi sebuah perkenalan. Tapi laki-laki itu memang hendak tampak ganjil di hadapan perempuan itu. Kalimat pembuka itu kemudian dengan yakin disusul kalimat-kalimat lain yang tak kalah ganjil. Tapi sekali lagi, laki-laki itu memang menginginkan hal yang demikian.

Laki-laki itu tampak puas dengan awalan ganjil itu dan sempat membayangkan seandainya perkenalan ini dilakukan di atas kapal yang berlayar di lautan lepas, sebuah laut tidak bernama—laki-laki itu barangkali alpa bahwa hampir tiap lautan di bumi ini kini telah memiliki nama. Ya, seandainya ia punya kesempatan mewah macam itu.

Kenyataannya tak semewah bayangan lelaki yang ingin dipanggil Laut itu. Ia hanya duduk di hadapan komputer warnet, membuka Yahoo Messenger, dan tiba-tiba menemu sebuah nick name yang aneh: Gadis Cemara. Lalu tiba-tiba ia nyelonong membuka obrolan dengan si empunya nick name ganjil itu. Basa-basi sebentar, lalu ia mulai tebar pesona dengan kata-kata ganjilnya.

Bahkan lelaki yang ingin dipanggil Laut itu tak pernah tahu apakah Gadis Cemara memang benar-benar sosok perempuan. Tapi kenyataannya, ia tak pernah meragukan bahwa sosok yang kemudian dipanggilnya Cemara itu memang perempuan. Ia sadar bisa saja menjadi korban kebodohannya sendiri tapi keyakinan dirinya begitu kuat. Dan ia selalu merasa tak pernah dibohongi oleh kepercayaan dirinya.

Kenapa harus laut?

Kalimat tanya yang diulang oleh kawan chattingnya itu membuat lelaki itu kembali gugup. Sedari tadi, ia belum menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan itu. Kali ini, ia benar-benar tak bisa mengandalkan kepercayaan atau kebanggan dirinya.

Di seberang, sang Gadis Cemara tertawa, diawali dengan senyum, lalu terpingkal-pingkal sendiri. Sejurus kemudian ia mengganti status Facebook-nya: sedang mengerjai laki-laki yang ingin dipanggil Laut. :D

Haris Firdaus

gambar diambil dari sini

Fiksi @ 06 February 2009, “19 Comments”

fiksi

“Sebentar lagi, setelah pintu itu ditarik tutup dan kereta melaju, segalanya mungkin akan berubah.”

Aku mengatakannya dengan ragu-ragu, takut kau akan mengubah pendirianmu.

Tapi kau diam saja, seolah tidak akan terjadi apa-apa. Ada senyum di bibirmu yang bertekstur lembut itu, bersanding dengan kecuekan yang tidak dibuat-buat. Kau merapatkan jaketmu, memandang sekeliling, lalu menatapku dengan tatapan paling biasa yang pernah aku lihat. Tidakkah kalimatku barusan berarti sesuatu bagimu?

“Setelah semuanya berubah, penyesalan selalu datang bersama keterlambatan. Dan segalanya hanya tinggal kenangan yang tak bisa kita sentuh dengan tangan.” Kali ini dengan mendekatkan bibirku ke telingamu.

Kau tersenyum, lebih mirip ekspresi sebuah geli ketimbang mengerti atau coba menghayati kalimatku. Setelah itu, semuanya sama kembali: orang-orang masih berjalan, sejumlah pedagang mendekati kita, dan kau selalu melongok sebentar pada dagangan mereka lalu menolak dengan halus. Mereka pergi dan kereta yang akan membawa kita belum juga datang. Apakah perubahan kali ini akan kembali gagal?

Di antara semua kenangan yang pernah kita pahatkan pada celah ingatan masing-masing, aku selalu menyukai memori tatkala kita duduk berdua di sebuah bangku yang menghadap kolam besar dengan air berwarna hijau dan gelombang yang selalu mengalun. Pada sebuah siang yang ramah itu, kita akhirnya memutuskan untuk hanya duduk, memandang, dan saling diam. Seandainya ada juru potret di taman yang sepi itu, aku akan menyuruhnya mengambil gambar kita dari belakang sehingga yang terekam hanyalah punggung kita berdua yang berdempetan, kelihatan mesra dari belakang.

Tapi kita tidak pernah menemukan juru potret. Dan gambar punggung kita yang berdempetan, hanya muncul dalam bayanganku tatkala kita akhirnya tahu: memiliki sesuatu selalu berarti membawanya menuju sebuah perubahan. Sementara perubahan itu, tidak selalu menuju ke garis yang lebih baik dan kokoh. Di situlah pertaruhan terjadi, permainan dimulai, dan ke mana kita akan sampai, barangkali hanya akan diketahui setelah kaki kita berhenti mengayunkan langkah.

Ini kedengarannya sederhana. Tapi hidup selalu lebih rumit daripada kesibukan menghitung akar bujursangkar kwadrat. Perjalanan yang kita awali selalu merupakan petualangan yang kadang-kadang tanpa peta, penjelajahan tanpa penunjuk arah. Itulah kenapa aku mendambakan potret punggung kita yang berdempetan dan kelihatan mesra. Dalam potret yang semacam itu, aku selalu mengangankan keabadian: melihat dua punggung yang jejer, apa yang bisa kita ucapkan kecuali bahwa keduanya milik dari dua sosok yang saling mengintimi satu sama lain?

Aku selalu mengangankan hal itu justru karena tahu: kita tak menemukan juru potret di taman itu dan punggung kita berdua tak pernah benar-benar jadi diabadikan. Tidak ada yang abadi pada kita berdua. Sama sekali tidak ada.

Barangkali itulah yang membuatku cemas petang ini, tatkala kita menunggu kereta api yang segera membawa kita menuju muara yang sama sekali tak pernah kita perkirakan dengan persis. Kadang aku ingin memastikan kau memahami ini: perubahan yang kita jelang akan begitu drastis dan tak ada tempat untuk pulang.
###

Kau mengatakannya seolah-olah aku masih belum paham apa yang hendak kita lakukan. Tentu saja, kalimatmu itu punya begitu banyak arti untukku. Tapi saat ini, aku memilih mendiamkanmu, menatap sekeliling dengan cuek, lalu melihatmu dengan tatapan paling biasa yang aku miliki. Dengan semua gerik itu, aku ingin menyatakan padamu bahwa aku sama sekali tak terpengaruh oleh kalimatmu. Lagipula, bagiku, kalimat itu terasa sebagai omong kosong yang bodoh.

Di saat seperti ini, aku akan lebih memilih menghirup suasana stasiun. Kau amat tahu kalau aku menyukai stasiun, bukan? Aku berkali-kali mengatakannya padamu dan seharusnya kau tidak pernah melupakan itu. Aku tahu kau tidak pernah melupakan hal itu. Tapi untuk apa kau menyemburkan petuah soal perubahan itu?

“Apakah aku masih terlihat sebagai anak kecil?”

Akhirnya aku tidak tahan menanyakan itu. Kau bengong, seolah tidak sadar bahwa aku baru bertanya dengan metafora. Lalu diam kembali. Dan aku benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin kau, seorang yang tahu dengan presisi apa itu “metafora”, harus tergagap dengan permainan semiotik rendahan macam itu. Aku sungguh-sungguh tidak habis pikir. Dan stasiun ini semakin indah.

Di antara semua kenangan yang pernah kita miliki berdua, aku akan memilih satu yang menurutku paling bagus. Itu adalah masa ketika aku membaca tulisanmu soal kita dan stasiun. Tulisan ringkas yang penuh nuansa personal itu tentu saja tidak akan laku di koran—apalagi di halaman yang diberi label “Budaya” atawa “Seni”. Tapi aku tahu kau menulis bukan untuk dilabeli “Budayawan”—sebuah kata yang menurutmu amat menggelikan meski sampai sekarang aku tak pernah tahu di mana letak menggelikannya kata itu.

Aku menyukai tulisanmu itu walaupun kau mengatakan dengan sungguh-sungguh ada banyak kedodoran di dalamnya. Di sana dan di sini, katamu sambil menunjuk bagian-bagian teks yang kau maksud, masih terdapat celah yang sungguh celaka jika dibaca oleh orang yang jeli dan paham bagaimana cara menulis dengan benar. Dan aku bersyukur tak masuk ke dalam golongan orang yang semacam itu. Aku menyukai keintiman dan tulisanmu penuh dengan itu.

Dari semua bagiannya, aku amat senang tatkala kau mulai “mengobrak-abrik”—itu istilahmu sendiri, semacam pengganti bagi proses menafsirkan puisi dengan sekehendak hati dan demi kepentingan diri sendiri—puisi Sapardi Djoko Damono tentang percakapan di dalam kereta yang entah nyata atau tidak. Uh, aku menyukai frasa itu—“aku lirik”—meskipun susah memaknainya dan tentu saja kita tak bisa mengatakan bahwa frasa itu berarti “aku sedang melirik”, bukan?

Saat aku mengatakan itu kau hanya tersenyum. Sedikit malu-malu. Tapi aku tak pernah mengatakan yang sejujurnya padamu kenapa aku begitu menyukai tulisan itu. Kini, dengan tatapan mata, ya hanya dengan tatapan mata sebab itulah yang bisa kuperbuat saat ini, aku akan menyatakan alasan itu.

Kenapa aku menyukai tulisanmu itu? Sebab tulisanmu dipenuhi dengan pergulatan antara keasingan dan keintiman. Ya, ada satu kata tambahan di sini: keasingan.
###

Apakah kau masih terlihat seperti anak kecil?

Aku ingin sekali menjawab pertanyaan itu. Iya, itu kalimat berbunga yang mungkin ditaburi metafora sedikit. Tapi bagiku, semua tampak amat jelas: tendensimu, sinismemu. Dan aku tergagap justru karena pertanyaan itu begitu jelas datang kepadaku. Tidak ada selaput metafora di sana seperti laiknya selaput yang menyelubungi tiap lubang kemaluan perempuan yang belum pernah ditusuk kelamin laki-laki.

Aku tergagap justru karena pertanyaan itu begitu jelas. Dan oleh karenanya, kau tahu, kalimatmu itu amat menohok. Aku sempat membayangkan kata apa yang keluar jika aku benar-benar menjawab pertanyaan itu. Tapi bayangan itu segera pupus dengan cepat. Kalimatmu itu, akan kubiarkan menggantung tanpa jawaban. Eh, salah. Bukan kalimatmu yang kugantung. Tapi akulah yang kau gantung dengan kalimatmu. Tidakkah kau melihat kesakitan di sekujur leherku sekarang ini? Aku sangat ingin bertanya: apakah leherku mulai biru dan kelihatan kaku?

Ketika kesadaran itu terus merayapi otakku, leherku terasa makin sakit. Sangat sakit. Dan aku menyesal telah berpetuah di hadapanmu. Jika ada sesuatu yang paling tak kita butuhkan saat ini, maka itu adalah nasihat.

Aku pernah mengatakan ini padamu: aku selalu menyukai sebuah novel dengan huruf depan M yang berkisah tentang seorang gelandangan yang enggan berpikir. Gelandangan itu sama sekali bukan tidak bisa berpikir. Semata-mata, ia tak mau berpikir. Jika kehidupan jalanan adalah laku menerima nasib, kenapa mesti ada pikiran yang berontak? Jika kehidupan jalanan adalah dorongan untuk hanya memperpanjang nafas yang telah hampir sekarat, kenapa mesti ada gugatan dari gumpalan yang namanya otak?

Maka demikianlah, gelandangan kita yang bijak lagi bestari ini akhirnya memutuskan jadi manusia tanpa pikiran. Ia masih punya otak karena tak mungkin membuang gundukan itu tanpa mati. Ia masih membawa gundukan itu ke mana-mana. Tapi ia telah bersumpah demi langit demi bumi dan demi laut—mungkin karena ia tak percaya Tuhan—tak akan menggunakan gumpalan itu. Ia hanya akan berbuat. Melakukan sesuatu. Tanpa didahului pertimbangan—atau apapun yang punya kaitan dengan pikiran.

Tapi suatu hari, begitulah yang dikisahkan penulis berhuruf depan I yang mengarang novel dengan huruf depan M, si gelandangan kita itu bertemu dengan sesama gelandangan lain yang justru membawa pikiran ke mana-mana. Keduanya terlibat percakapan seru tapi penuh seteru: si gelandangan kita, seperti kebiasannya, bicara dengan kalimat-kalimat ringkas yang dijawab dengan kalimat-kalimat panjang nian berat dari gelandangan kawannya itu. Sebuah percakapan berat sebelah terjadi. Dan gelandangan kita akhirnya memutuskan membenci kawannya yang ia sebut sebagai manusia pikir itu—lawan dirinya yang ia sebut sebagai manusia berbuat.

Apakah aku sekarang berperan sebagai antagonis yang rewel dengan pikiran itu? Dan kau, di lubuk hatimu yang paling dalam, apakah kau sedang menertawakan aku pertama-tama, lalu diam-diam mulai memenuhi hatimu dengan kebencian terhadapku? Seandainya pun iya, aku harus masih bersyukur: kita bukan gelandangan. Setidaknya untuk saat ini.

Dan kereta itu lamat-lamat terdengar deru mesinnya. Lamat-lamat terlihat badannya. Kau mengambil tasmu, aku mencangklong tasku. Dalam hati aku berjanji padamu: begitu menjejakkan kaki di dalam kereta api itu, aku akan berhenti jadi manusia pikir. Aku akan bergabung bersama kaummu yang dipimpin gelandangan kita. Aku berjanji. Tapi jangan kau paksa aku mengucapkan janji itu. Cukup dengan tatapan mata kusampaikan janji itu padamu. Karena memang hanya itulah yang sampai saat ini bisa kulakukan.

Haris Firdaus
gambar diambil dari sini

Fiksi @ 06 December 2008, “13 Comments”

fiksi pertama di blog ini


1.
“Ayo ikut denganku!”

“Ke mana?”

“Ke atas.”

“Maksudamu?”

“Ke langit.”

“Ke langit?”

“Maksudku, ke surga.”

“Aku pikir-pikir dulu.”

2.
Sudah tiga kali aku mimpi semacam itu. Sebuah suara yang khas dan penuh wibawa, sebundar cahaya yang utuh menyala, dan sesosok tubuh tegap yang samar-samar. Aku kurang paham apa maksud mimpi-mimpi itu. Ajakan, ke atas, langit, surga, semua hal itu berkebalikan denganku. Ajakan berarti harapan, sedang aku bukan orang yang punya harapan. Apalagi bisa diharapkan. Ke atas berarti naik. Padahal peringkat dalam hidupku selalu menurun. Sejak kecil aku ada di bawah. Ketika remaja aku di bawah. Ketika dewasa? Tak usah kau tanya. Aku benar-benar di bawah. Terdegradasi dari sistem sosial normal yang nyaman.

Langit berlawanan dengan dunia. Sedang aku hidup di dunia. Jangankan ke langit, ke tengah dunia saja aku tak bisa. Aku ada di ambang batas dunia yang mepet. Mau berjalan ke tengah, ke daerah yang lebih hangat dan sedikit ada cahaya, aku dibuang. Dipukul, ditendang, dan diperosokkan lagi. Akhirnya, ya seperti ini. Aku kembali lagi ke pinggir sebuah dunia. Dan tengah dunia, bagiku, hanya sekedar mimpi absurd yang mewah.

Dan surga? Apa arti surga? Sebuah dunia nyaman yang penuh bidadari. Sebuah ruang mewah yang sejuk dan hangat sekaligus. Sebuah waktu di mana kita tak akan jadi tua. Sebuah peraturan di mana larangan adalah sekaligus perintah yang halal. Dan kau tahu sendiri, betapa ia berlawanan sekali denganku. Aku tak hidup dengan bidadari. Aku juga tak berada di sebuah ruang yang mewah. Dan soal aturan? Hampir-hampir tak ada aturan yang tak mengaturku. Aturan-aturan, di dunia, bagi orang semacam aku, adalah sebuah belenggu yang maha dahsyat. Ia tak lagi berarti kemudahan, akses, dan partisipasi. Justru sebaliknya: kesulitan yang berbelit-belit, sebongkah kebohongan yang luas, dan jeruji-jeruji besi yang kokoh.

Huh, aku benar-benar tak mengerti. Kenapa bisa aku mimpi sesial itu. Kenapa juga aku mesti memimpikan hal-hal yang berlawanan dan jauh dari jangkauan tanganku. Ajakan, ke atas, langit, dan surga. Bukankah itu angan-angan kosong yang maha besar?

Bagi orang seperti aku, penolakan, ke bawah, dunia, dan neraka, mungkin lebih cocok. Dengan pola hidupku yang sekarang dan kungkungan sistem sosial yang parah ini, hal-hal itu memang lebih real hadir di depanku. Sudah berapa ratus ribu kali aku mengalami penolakan. Ditolak wanita, ditolak melamar kerja, ditolak berjabat tangan, ditolak berkenalan, juga ditolak bercinta oleh istriku. Dan kau tahu berapa kali aku ada di bawah? Di bawah jembatan, di bawah telapak kaki orang yang memakai sepatu necis bersemir mengkilat, di bawah hujatan dan cacian, bahkan nikahku juga di bawah tangan. Hah, bukankah begitu cocok?

Dan apa arti dunia dan neraka untukku? Keduanya adalah dua tempat yang cocok untukku. Dunia adalah tempatku tinggal sekarang yang sama sekali tak ramah. Di sana membentang beragam kesulitan. Sebuah tempat yang tak ideal. Tapi juga tak sepenuhnya buruk. Dan konon, kata guru ngajiku di SD dulu, kita tak bakalan kekal di sana. Kita akan transmigrasi ke alam lain setelah mati. Di alam itu, ada dua ruang yang disediakan buat manusia. Dan tebak ruang yang mana yang disediakan untukku! Ya, benar. Neraka. Dan surga? Hanya tiga kali muncul di mimpiku.

3.
“Ini ajakan terakhirku. Berarti juga kesempatanmu yang terakhir. Ayo ikut denganku. Sekarang!”

“Ke surga?”

“Ya.”

“Memangnya kau siapa?”

“Jibril.”

“Itu namamu?”

“Ya.”

“Kau manusia?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Malaikat.”

“Oh.”

“Cepatlah! Aku tak punya banyak waktu. Kau mau ikut denganku?”

“Ngomong-ngomong, siapa yang menyuruhmu?”

“Tuhan.”

“Tuhan? Kenapa Dia perintahkan itu?”

“Kau pernah dengar tentang ‘Sayembara Langit’?”

“Belum. Ceritakan padaku!”

“Tiap seribu tahun sekali, Tuhan akan mengadakan sebuah sayembara. Semacam undian, barangkali. Ia akan memilih seorang manusia secara acak untuk di bawa ke surga. Kali ini, Ia memilihmu untuk ke surga.”

“Kenapa Ia memilihku? Bukankah aku orang yang tak pernah sembahyang?”

“Aku tak tahu tepatnya. Tapi ‘Sayembara Langit’ tak ada kaitannya dengan ketaatan. Yang jelas, aku diperintahkan membawamu.”

“Memangnya di surga ada apa?”

“Di sana kau akan diberi rumah.”

“Aku sudah punya rumah.”

“Beda. Di sana rumahmu luas, mewah, dan tak ada bandingannya. Jelas tak bisa kau perbandingkan dengan rumah reyotmu yang tak berpintu itu. Di bawah rumah itu ada sungai.”

“Di dekat rumahku juga ada sungai.”

“Beda. Di sana, aliran sungainya dari susu, kopi, teh, jus jeruk, arak dan banyak lagi. Sedang sungai di dekat rumahmu? Hah, warnanya saja hitam. Sungai di surga tak bakalan kena pencemaran, Bung.”

“Lalu ada apa lagi?”

“Di sana ada bidadari. Kau punya bagian 70 jumlahnya. Mereka bisa kau apa-apakan.”

“Boleh kuajak bercinta?”

“Tentu saja boleh.”

“Tapi apa itu tidak berarti berzina?”

“Tentu saja tidak.”

“Kenapa tidak? Apa aku harus melakukan ijab qabul dulu?”

“Tidak perlu.”

“Lalu?”

“Melayani seluruh penghuni surga adalah tugas para bidadari. Termasuk kau. Kau nanti punya hak untuk dilayani mereka.”

“Jadi mereka seperti pelacur?”
“Beda, goblok! Mereka itu hanya menjalankan apa yang telah diperintahkan Tuhan.”

“Para pelacur di dekat rumahku juga hanya menjalankan perintah dari mucikari mereka.”

“Hah! Pokoknya beda. Bidadari bukan pelacur! Titik.”

“Tapi….”

“Tapi apa lagi?”

“Aku sudah punya istri.”

“Istri? Istrimu jelas tak mungkin diperbandingkan dengan bidadari. Istrimu itu rambutnya saja tak pernah keramas, bau badannya apek, dadanya gepeng, dan mukanya? Semrawut!”

“Memang seperti apa rupa bidadari?”

“Kulitnya putih. Rambutnya panjang tergerai dan indah. Bau badannya bak minyak kesturi. Wajah mereka seribu kali lebih cantik dari Britney Spears. Dada mereka montok dan pantat mereka… aduhai.”

“Tapi, bolehkah aku ajak istriku ke surga?”

”Tidak boleh. Sayembara ini berlaku buat satu orang. Tak boleh ada toleransi. Tuhan sendiri yang memerintahkan.”

“Kalau begitu, aku tak mau ikut.”

“Berarti kau melanggar perintah Tuhan.”

“Kalau aku ikut ke surga, berarti Tuhan menyuruhku meninggalkan istriku. Lebih parah lagi, Ia menyuruhku berselingkuh dengan para bidadari.”

“Tidak. Bukan seperti itu. Tuhan hanya sedang murah hati. Ia ingin menyenangkan seorang hambanya saja.”

“Aku telah cukup puas dengan apa yang kuperoleh. Rumah reyot tanpa pintu, sungai hitam yang tercemar dan busuk, juga istri yang punya wajah semrawut dan dada gepeng. Aku telah cukup puas dengan itu.”

“Tapi, bukankah surga lebih menjanjikan kesenangan?”

“Entahlah. Aku belum pernah melihat seperti apa rupa surga. Barangkali, ia memang nyaman, indah, dan hangat. Tapi tak setiap yang seperti itu menentramkan.”

“Jadi kau lebih memilih rumahmu dan istrimu yang sekarang ketimbang surga?”

“Ya.”

“Kau merasa tenteram dengan itu semua?”
“Ya.”

“Kau tak takut Tuhan akan murka?”

“Tuhan mungkin telah memerintahkan aku ke surga sekarang. Tapi Tuhan pula yang memberiku amanat untuk menjaga istriku. Dan bila aku ke surga, berarti aku juga telah menyia-nyiakan amanat-Nya.”

“Tapi….”

“Sudahlah, Jibril. Apa yang kau takutkan? Bukankah kau tak perlu menyampaikan kata-kata kurang ajarku tadi kepada Tuhan? Bukankah Ia sendiri sekarang sedang memonitor kita? Sudahlah. Pulang dan hadap Tuhanmu. Kau tak perlu bicara apapun. Tak perlu ada laporan.”

4.
Aku masuk tanpa membuka pintu. Kutemui istriku yang lagi memasak. Kubelai rambutnya dan kucium bau tubuhnya. Setelah itu, kulihat wajahnya. Ternyata, Jibril benar.

“Dari mana saja, Kang?” tanyanya begitu merasakan kehadiranku.

“Bertemu Jibril.”

Kentingan, 21 Januari 2006
Haris Firdaus