Film @ 29 December 2009, “30 Comments”

The Reader

Apa yang pada akhirnya membuat saya menyukai Film The Reader (Sthepen Daldry, 2008) bukanlah akting cemerlang Kate Winslet yang kini setengah tua, atau kisah cinta melodramatik sedikit aneh yang termaktub dalam film itu. Dalam jeda beberapa saat sesudah saya menontonnya, saya akhirnya menyadari kenapa saya jatuh cinta pada The Reader: film itu mengingatkan saya pada Hannah Arendt.

Ketika saya mulai menonton bagian-bagian awal The Reader, saya selalu berpikir film ini hanyalah perpaduan kisah cinta, erotisme, dan kutu buku, yang ada dalam setting kekuasaan Hitler di Jerman. Tentu saja, saya menyukai bagaimana Hanna Schmitz yang setengah tua jatuh cinta dengan Michael Berg yang remaja dan kemudian membuat sebuah peraturan aneh dalam hubungan mereka: sebelum mereka bercinta habis-habisan, Berg mesti membacakan sebuah buku untuk Schmitz yang, belakangan kita ketahui, buta huruf.

Film @ 11 November 2009, “38 Comments”

bob parr

Bagi saya, salah satu kisah ihwal pahlawan yang paling kocak sekaligus tragis, main-main tapi juga filosofis, adalah yang termaktub dalam Film The Incredibles (2004). Ketika pertama kali menontonnya beberapa tahun lampau, saya menyukai film animasi garapan Brad Brid ini karena, dalam bagian tertentu, film ini meretakkan gambaran yang lazim mengenai pahlawan.

Seperti yang pernah kita tonton, The Incredibles berfokus pada kisah sekeluarga superhero yang harus menjalani kehidupan normal—itu artinya menanggalkan kekuatan superhero dan aksi-aksi edan jalanan mereka—di sebuah daerah pinggiran kota di Amerika Serikat dengan uang pas-pasan. Semua itu terjadi karena lima belas tahun sebelumnya, sejumlah besar anggota masyarakat telah menuntut para superhero itu karena aksi-aksi mereka dianggap merugikan masyarakat.

Film @ 22 October 2008, “8 Comments”

Di Indonesia, film horor tak pernah bisa dilepaskan dari sosok perempuan. Film horor yang pertama kali diproduksi di Indonesia, yakni Doea Siloeman Oeler Poeti en Item, memiliki tokoh utama perempuan dan seluruh bangunan ceritanya berpusat pada perempuan.

Film yang diproduksi pada tahun 1934 oleh The Teng Cun ini berkisah tentang siluman ular putih yang keluar dari gua pertapaannya dan kemudian menyamar menjadi seorang perempuan cantik. Dalam perjalanan hidupnya, sang siluman ular kemudian jatuh cinta pada seorang pria, lalu keduanya melangsungkan pernikahan.

Pada tahun 1970-an, ketika genre horor mulai laku di pasaran film Indonesia, sosok perempuan mulai menampakkan dominasi yang jelas. Satu nama perempuan yang tak bisa dilepaskan dari kisah film horor tahun 1970-an adalah Suzanna. Artis bernama lengkap Suzanna Martha Frederika van Osch ini adalah figur yang dijuluki sebagai “Ratu Film Horor Indonesia” karena keterlibatannya dalam sejumlah produksi film bertema hantu yang bisa dibilang menuai sukses di pasaran.

Sejak membintangi Beranak dalam Kubur tahun 1971, nama Suzanna memang melambung dalam jagat film horor Indonesia. Ada sekira 14 film horor yang dibintanginya yang menangguk sukses besar. Bahkan, beberapa bulan sebelum meninggal pada 15 Oktober 2008 lalu, Suzanna masih membintangi sebuah film horor dengan judul Hantu Ambulance (dirilis pada Feberuari 2008).

Nama Suzanna yang legendaris dalam jagat film hantu Indonesia menunjukkan, betapa sosok perempuan memang lebih familiar dengan film horor. Bahkan, kita di Indonesia hanya mengenal Suzanna sebagai “Ratu Film Horor Indonesia”, tanpa pernah ribut siapa yang seharusnya menyandang gelar “Raja Film Horor Indonesia”. Kenyataan ini merupakan bukti tak terbantahkan betapa sosok perempuan memang lebih akrab dengan dunia film horor dibandingkan dengan laki-laki.

Setelah dekade tahun 1970-an, artis perempuan masih terus menjadi tokoh utama dalam film-film horor. Kisah-kisah film horor Indonesia pada tahun-tahun berikutnya terus-menerus menjadikan perempuan sebagai pokok utama cerita. Tengok saja sejumlah judul film horor tahun 1980-an yang jelas-jelas menampilkan perempuan sebagai tokoh utama, seperti Nyi Blorong (1982), Perkawinan Nyi Blorong (1983), Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986), Ratu Buaya Putih (1988), Pembalasan Ratu Laut Selatan (1989), dan banyak lagi.

Pada tahun 1990-an, sejumlah film seperti Misteri Permainan Terlarang (1992), Kembalinya Si Janda Kembang (1992), Misteri di Malam Pengantin (1993), Gairah Malam (1993), Si Manis Jembatan Ancol (1994), dan sejumlah judul lain juga menampilkan kisah horor dengan perempuan sebagai unsur utama. Memasuki dekade 2000, memang film horor tak lagi selalu menggunakan perempuan sebagai pusat kisah, seperti Jelangkung (2002) dan Kafir (2002), tapi tetap ada film yang memanfaatkan perempuan sebagai unsur dominan kisah.

Representasi dan Marjinalisasi
Problem pokok dalam tiap teks yang menampilkan sosok perempuan adalah masalah representasi. Representasi merujuk pada bagaimana seseorang, satu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam isi sebuah teks. Sara Mills (1997) mengingatkan kita, bahwa representasi perempuan dalam teks yang diproduksi oleh budaya dengan dominasi patriarki biasanya cenderung bias. Perempuan condong ditampilkan sebagai pihak yang marjinal dibandingkan laki-laki.

Dalam film-film horor Indonesia, representasi perempuan cenderung berbeda-beda dalam tiap dekade. Namun, meski memliki variasi, ada kecenderungan perempuan ditampilkan sebagai sosok yang marjinal jika dibandingkan laki-laki. Pada tahun 1970-an sampai dengan 1990-an, kebanyakan kisah film horor berpusat pada tokoh perempuan yang teraniaya sampai mati, lalu menjadi hantu gentayangan. Tatkala masih hidup dan eksis sebagai manusia, perempuan adalah makhluk yang tak berdaya di hadapan laki-laki. Perlawanan para perempuan terhadap laki-laki hanya bisa dilakukan ketika mereka telah meninggal dan menjadi hantu.

Setelah menjadi hantu, para perempuan itu baru bisa membalas perlakuan para laki-laki atas mereka. Dalam film-film itu sering digambarkan sejumlah lelaki bejat mati secara mengenaskan di tangan arwah perempuan gentayangan. Sekilas, racikan kisah macam ini seolah menampilkan sosok perempuan yang mampu membalas penindasan yang diterimanya dari kaum laki-laki. Tapi kalau diamati lebih dalam, nyatalah bahwa film itu memosisikan perempuan sebagai sosok marjinal.

Kenapa? Sebab perlawanan perempuan terhadap laki-laki itu hanya terjadi ketika sang perempuan telah meninggalkan dunia yang nyata dan menjadi arwah. Selama masih menjadi manusia, perempuan adalah sosok tak berdaya. Melalui kisah macam itu, film-film horor Indonesia pada 1970-an sampai 1990-an sebenarnya merepresentasikan sosok perempuan sebagai manusia tak berdaya. Ya, sebagai manusia yang eksis, perempuan tak berdaya. Baru kemudian, jika mereka mati dan menjadi hantu, mereka akan berubah jadi sosok yang berdaya. Pada posisi inilah, marjinalisasi terhadap perempuan terjadi di dalam film-film horor.

Marjinalisasi perempuan dalam film horor juga terjadi tatkala sosok perempuan—sebagai manusia yang utuh—direduksi sebagai sekadar tubuh yang digunakan untuk alat pemuas kebutuhan seksual. Mulai dekade 1980-an, film-film horor mulai memasukkan adegan-adegan panas dalam bangunan alur mereka. Mula-mula sebagai bumbu, tapi lama-kelamaan seks justru menjadi inti cerita. Pada tahun 1990-an, amat banyak film horor yang menyajikan adegan seks secara vulgar dan berlebihan. Pada dekade itu pula lahir sejumlah artis wanita yang sering dijuluki sebagai “bom seks” karena peranan mereka dalam film horor.

Relasi fisikal tubuh antara laki-laki dan perempuan dalam film horor tidak hanya bisa dilihat sebagai sebuah relasi biologis semata. Adegan-adegan seksual yang umumnya menempatkan perempuan sebagai pihak yang tak berdaya itu juga menjadi sebuah petanda adanya relasi ideologis. Dalam relasi ideologis tersebut, perempuan hampir selalu berada sebagai pihak yang marjinal. Seperti dikatakan Yasraf Amir Piliang (2004), di dalam dunia kapitalisme yang dipengaruhi wacana patriarki, perempuan akan selalu ditempatkan sebagai sekadar “objek kesenangan” dari dunia laki-laki.

Haris Firdaus

(Dimuat di Suara Merdeka, 22 Oktober 2008)
gambar diambil dari sini

Film, Tokoh @ 18 October 2008, “14 Comments”

Sampai menemu ajalnya pada usia 66 tahun, 15 Oktober lalu, Suzanna Martha Frederika van Osch tetap sebuah teka-teki.

“Ah! Suzanna!” Kata-kata itu terlontar dari seorang dosen Sastra Gothic University of Stirling, Skotlandia, saat ia menerima jawaban tentang asal negara dari seorang mahasiswinya. Mahasiswi itu adalah Gratiagusti Chananya Rompas, seorang perempuan kelahiran Jakarta. Di kalangan sastra cyber, nama Gratiagusti amat masyhur. Ia pendiri komunitas puisi maya Bunga Matahari yang sempat “dihebohkan” itu.

Gratiagusti belajar S2 Jurusan Sastra Gothic di University of Stirling dan lulus tahun 2005 lalu dengan tesis tentang Film Jelangkung dan Tusuk Jelangkung. Salah satu yang membuatnya terkejut tatkala belajar di negeri nun jauh itu adalah soal Suzanna. Di kampusnya, Suzanna adalah nama yang kesohor. Makanya, ketika ia menyebut “Indonesia” sebagai kampung asalnya, dosennya langsung bergumam: “Ah! Suzanna!”.

Nama Suzanna bagi penggemar gothic mungkin sama dengan Bali bagi para turis asing yang gemar keluyuran jauh: keduanya menjadi “pengganti” bagi Indonesia. Dilahirkan dari garis keturunan Jerman-Belanda-Jawa-Manado, Suzanna mencuat pertama kali ke layar lebar melalui Film Asmara Dara pada 1959 yang disutradarai Usmar Ismail. Atas peran kecilnya dalam film itu, ia menerima penghargaan The Best Child Actrees pada Festival Film Asia di Tokyo tahun 1960.

Sebelum bermain di Asmara Dara, Suzanna harus mengikuti sebuah casting yang dikomandoi Usmar Ismail sendiri. Kala audisi itu, ia sempat gugup waktu harus memerankan adegan memegang telepon. Gara-garanya, Suzanna belum pernah memegang telepon sama sekali sebelum audisi itu.

Setelah Asmara Dara, ia sempat bermain dalam sejumlah drama. Mengaku jenuh bermain film drama, Suzanna lalu banting setir ke jalur horor. Dan, seperti kita sama-sama paham, ia sukses di jalur itu. Dimulai dengan sebuah film berjudul Bernapas dalam Lumpur tahun 1970, karier Suzanna menanjak pesat. Bernapas dalam Lumpur adalah gubahan dari sebuah novelet berjudul Berenang dalam Lumpur karya Zainal Abdi dan pernah dimuat secara bersambung di Majalah Varia di akhir era 1960-an.

Film yang diarsiteki Turino Djunaidy itu menuai sukses luar biasa. Bahkan, film yang judulnya mengingatkan kita pada Tragedi Lumpur Lapindo itu, sempat menerbitkan “demam” di tahun 1970-an awal. Konon, pasca-film itulah demam horor mulai menjangkiti Indonesia.

Suzanna menjadi ratu di tengah demam itu. Setelah Bernapas dalam Lumpur, ia membintangi sebuah film dengan judul tak kalah seram sekaligus menggelikan: Beranak dalam Kubur. Film yang oleh Wikipedia disebut sebagai “film legendaris” itu, juga menangguk untung melimpah. Dalam sebuah wawancara, Suzanna menyebut film tersebut telah menjadi “box office” di masanya. Mulai saat itu pula, menurut pengakuannya sendiri, Suzanna mulai kecanduan bermain di dalam film horor.

Ada 14 film horor yang dibintangi Suzanna yang sukses di pasaran. Di antaranya tentu “trilogi” Nyi Blorong yang disiarkan pada dekade1980-an. Dimulai dengan film Nyi Blorong (1982) yang membukukan rekor ditonton 345 ribu orang, lalu dilanjutkan dengan dua sekuelnya, Perkawinan Nyi Blorong (1983) dan Petualangan Cinta Nyi Blorong (1986).

Kalau saya tak salah hitung, ada sekira 32 film horor yang dibintangi Suzanna, sejak Bernapas dalam Lumpur tahun 1970 sampai dengan Hantu Ambulance yang tayang perdana pada 21 Februari 2008 lalu. Jumlah ini hampir empat kali lipat dari jumlah film drama yang ia bintangi—ada sekira sembilan film drama yang dibintangi Suzanna.
***

Di Indonesia, film horor selalu lebih dekat kepada pasar ketimbang mutu atau pencapaian artistik.

Pada tahun 1934, sebelas tahun sebelum Indonesia merdeka, The Teng Cun memproduksi film horor pertama kali di negara kita. Judulnya: Ouw Peh Tjoa atawa Doea Siloeman Oeler Poeti en Item. Ini film soal siluman ular yang keluar dari gua pertapannya, menjelma menjadi gadis cantik, lalu jatuh cinta pada seorang pria, dan menikah. Saya tak tahu apakah film ini sukses atau jeblok di pasaran. Tapi agaknya, ia menuai sukses lumayan. Buktinya, Teng Cun yang keturunan Betawi-Tionghoa itu lalu menggandrungi genre horor setelah sebelumnya meniti di jalur film cerita berbasis legenda Tionghoa.

Berturut-turut kemudian, ia memproduksi sejumlah judul: Ang Hai Djie, Pan Sie Tong, Siloeman Babi Perang Siloeman Kera (ketiganya tahun 1935), Anaknya Siluman Oelar Poeti, Lima Siloeman Tikus (keduanya tahun 1936), Tengkorak Hidup (1941), dan sebagainya. Teng Cun bertahan sebagai pembuat film selama beberapa periode pergantian kepemimpinan politik di Indonesia. Ia sempat bersinar tatkala pendudukan Jepang dan berhenti pada masa kemerdekaan, tapi bangkit kembali tatkala kedaulatan Indonesia diakui Belanda pada 1949 melalui Konferensi Meja Bundar.

Peruntungan Teng Cun mulai redup tahun 1950 akhir dan pada 1962, ia benar-benar tak bisa lagi memproduksi film. Ia kemudian menjadi seorang guru privat Bahasa Inggris. Gubernur Jakarta Ali Sadikin memberinya penghargaan pada 1976 atas peranannya dalam perfilman nasional.

Saya tak tahu apakah Teng Cun seorang pembebek pasar atau bukan. Tapi para penerusnya di tahun 1970-an, juga tahun-tahun selanjutnya, kebanyakan merupakan seorang pembebek sejati. Dalam persoalan kualitas, film horor Indonesia memang hampir selalu kedodoran, bahkan sampai sekarang. Sebuah laporan Majalah Tempo yang ditulis Seno Joko Suyono dan Dwi Arjanto pada tahun 2003 pernah dengan sinis “meledek” sejumlah film horor Indonesia yang, alih-alih membikin takut jika ditonton, membuat geli dan dipenuhi unsur-unsur yang menjengkelkan. Banyak film dengan logika cerita ganjil, “pandangan dunia” hitam-putih yang naif, adegan aneh, dan akting pas-pasan.

Untuk menutupi kekurangan dalam hal cerita atau logika, seks adalah ramuan yang dianggap pas dalam film horor. Sejak tahun 1970-an, seks telah mulai dikenal sebagai bumbu. Dosisnya lama-lama meningkat, dan pada akhirnya justru menjadi menu utama. Logika cerita dan akting akhirnya dijadikan soal nomor sekian. Demikianlah, kita akhirnya menemukan “trilogi” Nyi Blorong-nya Suzanna tahun 1980-an yang dibumbui seks, dilanjutkan dengan sejumlah film horor-seks lain, dan mencapai heboh tatkala Yurike Prastika tampil dalam Pembalasan Ratu Laut Selatan (1989). Film yang bukan hanya hangat tapi panas itu akhirnya ditarik dari peredaran karena protes keras sejumlah kalangan.

Memasuki tahun 1990-an, mulailah sebuah periode “esek-esek” dalam perfilman kita. Sejumlah aktris yang lebih berani dari Yurike Prastika muncul: Lela Anggraeni, Taffana Dewi, Sally Marcelina, dan Malfin Shayna. Beberapa dari jajaran artis itu kemudian dikenal dengan julukan yang menggelikan: “bom seks”. Tapi julukan itu tak lebih menggelikan dari film-film yang mereka bintangi. Ada sebuah film berjudul Skandal Iblis (1992) yang berkisah tentang sebuah kalung jimat kuno yang memiliki khasiat ajaib: membuat pemakainya ketagihan berhubungan seks. Saya belum menonton film tersebut. Tapi membaca info tentangnya saja sudah cukup membuat saya tertawa terpingkal-pingkal.

Is Mujiarso, blogger dan mantan wartawan hiburan Detik.com, pernah dengan amat jengkel membuat sebuah surat terbuka kepada Shanker, produser dari Indika Entertainment, tentang film Hantu Aborsi (2008). Dengan gayanya yang nyinyir, Is menunjukkan kejengkelannya yang amat dalam terhadap film produksi Shanker itu. Atas alasan Shanker bahwa film Hantu Aborsi dibuat sebagai pengingat bagi ibu-ibu muda yang hendak melakukan aborsi, Is mengomentari bahwa alasan itu adalah sebuah kenaifan yang patut ditertawakan.

Kita bisa mengambil banyak contoh tentang betapa film horor kita belum menunjukkan banyak kemajuan artistik dan pandangan kesenian yang baik. Namun faktanya, berkebalikan dengan kualitasnya, film horor biasanya cukup banyak ditonton. Ada sejumlah film horor yang mampu menciptakan rekor-rekor baru dalam soal jumlah peminat. “Kalau toh turun, film horor tak pernah jeblok habis. Berbeda dengan (film) rumah tangga, kalau lagi turun sepi, bisa nol beneran,” kata seorang pembuat film horor tahun 1990-an.
***

Lalu, bagaimana posisi Suzanna dalam kondisi perfilman horor yang membebek pasar itu?

Saya kira, “Ratu Film Horor Indonesia” itu tak pernah bisa lepas dari jerat pembebekan yang berkiblat kepada uang. Sejumlah filmnya yang pernah saya tonton menunjukkan bahwa kualitas artistik tak lebih penting ketimbang horor mistik-klenik dan bumbu persetubuhan. Suzanna adalah seorang seniman yang realistis. Ia bahkan tak mengkritik film-film horor tahun 1990-an yang adegan seksnya telah keterlaluan.

“Sebetulnya tidak ada yang salah. Ada penonton yang senang film horor yang tegang menakutkan dari awal sampai akhir. Ada juga penonton yang suka ditakut-takutin tapi juga mau dihibur dengan adegan seks. Dan, produser film sangat jeli akan hal itu, sehingga jadilah film yang sesuai dengan keinginan penonton,” begitu jawab Suzanna saat ditanya pendapatnya tentang film horor era 1990-an yang esek-esek itu.

Ada nada realistis dalam jawaban itu. Juga ada sebuah kalimat yang terdengar merdu tapi sebenarnya problematis: “film yang sesuai dengan keinginan penonton.” Dalih macam ini hampir selalu menjadi apologi, atau pembenaran, untuk sebuah karya yang kualitasnya buruk, dalam hal apapun: lagu, novel, sampai film atau sinetron. “Keinginan penonton” dijadikan sebuah dalih bagi penciptaan karya-karya dengan estetika yang rendah—dalam era dekade 90, “keinginan penonton” adalah alasan paling dasar penciptaan film esek-esek.

Jadi, dalam logika yang problematis tersebut, bukan produser, sutradara, atau penulis skenario film-film buruk itu yang patut disalahkan, tapi penonton. Bagi mereka yang memuja “keinginan penonton”, agaknya penontonlah yang patut dituding sebagai biang keladi adanya film-film bermutu rendah itu—ini tentu saja sebuah tarik-simpul yang parah.

Suzanna, pada akhirnya, juga seorang yang tunduk pada pasar. Tapi ada yang berbeda dari dia dibandingkan sejumlah bom seks 1990-an. Suzanna jelas lebih pandai berakting daripada mereka. Gayanya yang khas menjadi sebuah “merek dagang” tersendiri bagi film-film yang dibintanginya.

Saat membintangi Hantu Ambulance, misalnya, akting Suzanna tak banyak berubah: ia tetap meruapkan sejenis karakter tertentu yang khas; bahkan dalam syuting film itu Suzanna memborong seluruh koleksi pribadi pakaiannya. Kata Shanker, ini demi menghadirkan sosok Suzanna yang “sebenarnya”—tak heran, di awal film Hantu Ambulance, ada sebuah title bertuliskan “Suzanna returns”.

Bagaimanapun, Suzanna sempat digembleng oleh Usmar Ismail, sosok sutradara yang diberi kehormatan menyandang gelar Bapak Film Nasional, sehingga kemampuan seni perannya bisa dianggap mumpuni. Itulah kenapa Suzanna meninggalkan jejak yang panjang.

Tatapan matanya yang kalem tapi tajam, suaranya yang sedikit kemayu sekaligus membuat merinding, juga gaya bicaranya yang lambat tapi tegas, semuanya masih membekas. Suzanna memang artis yang handal. Buktinya, ia meraih sejumlah prestasi: menjadi pemain harapan Festival Film Indonesia (FFI) untuk Film Asmara Dara; Best Child Actress Festival untuk Film Asmara Dara; Nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI tahun 1979 untuk Film Pulau Cinta dan tahun 1982 untuk Ratu Ilmu Hitam.

Pada tahun 2008, 50 tahun setelah debut pertamanya, ia kembali menerima kehormatan: Suzanna dan kiprahnya dalam dunia film Indonesia dijadikan fokus peringatan Hari Film Nasional yang jatuh pada 30 Maret. Tentu saja, ini sebuah penghormatan yang besar. Di tahun yang juga menjadi waktu kematiannya itu, Suzanna dikenang dan didiskusikan; filmnya diputar dan ditonton kembali; pengaruhnya dalam dunia film diperdebatkan.
***

Suzanna meninggal dunia dalam sebuah sepi yang agaknya disengaja.

Rabu malam, 15 Oktober 2008, seperti biasa Suzanna berbaring di kamarnya. Ia belum lama pulang dari Rumah Sakit Harapan Kota Magelang—tempat ia dirawat inap selama lima hari sejak 1 Oktober. Pada malam di mana ia dijemput ajal, Suzanna sempat meminum susu, lalu 15 menit kemudian ia terlihat mengambil napas panjang. Pasca-ambilan napas itu, Suzanna nampak tertidur.

Cliff Sangra, suami kedua Suzanna, yang curiga dengan kondisi istrinya malam itu kemudian memangil dua dokter pribadinya. Saat pemeriksaan selesai, keduanya memastikan Suzanna telah meninggal dunia. Penyebabnya: penyakit diabetes yang telah menggerogotinya sejak beberapa tahun.

Keesokan harinya, jenazah sang Ratu Horor dimakamkan tanpa sebuah peringatan yang meriah. Tak ada media yang meliput prosesi itu. Sejumlah pewarta gosip menyebut, kematian sang ratu agaknya sengaja dirahasiakan. Beberapa waktu setelah pemakaman, kematian Suzanna baru terendus. Sejumlah tayangan gosip langsung heboh dengan berita kematian itu. Sebagian besar sibuk dengan dugaan adanya misteri di balik kematian. Ada yang membahas soal wasiat-wasiat aneh Suzanna, ada yang kembali menayangkan sengketa Suzanna dengan anaknya, Kiki Maria. Ada pula yang memberitakan kebiasaan lama Suzanna makan kembang melati dan mawar.

Sejak masih hidup, Suzanna sudah merupakan semacam teka-teki. Sebuah enigma, begitu kata Majalah Tempo dan Gratiagusti. Ia dikabarkan dekat dengan dunia klenik. Pada awal 2003, tatkala Majalah Tempo hendak mewawancarainya, Suzanna sempat menampik. Wawancara dengan media massa memang dilakukan Suzanna secara amat selektif—konon waktu wawancaranya pun mesti bertepatan dengan “hari baik” yang dipercaya Suzanna.

Sejak sejumlah prahara menimpa kehidupan pribadinya, Suzanna memang semakin masuk ke dalam sebuah dunia yang sepi, lebih tepatnya, sebuah dunia yang tak ingin dibagi ke penggemar gosip. Kehidupan Suzanna memang sempat menemu sejumlah prahara: perkawinannya dengan aktor Dicky Suprapto kandas; anaknya yang tampan bernama Ari tewas; dan hubungannya dengan Kiki Maria, putri dari perkawinannya dengan Dicky, tak berjalan harmonis.

Di penghujung 2003, Kiki melaporkan Cliff Sangra ke polisi atas tuduhan penembakan terhadap Abriyarso Prihanto Boyho, suami Kiki. Kabar yang berhembus, kasus itu dipicu sengketa warisan milik Suzanna yang katanya hendak dibagikan pada Kiki. Cliff dihukum empat bulan penjara atas tindak penganiayaan terhadap menantu tirinya. Bukan hanya itu, Cliff juga sempat dituduh hendak membunuh Suzanna sendiri. Konon, aktor bernama asli Cliff Andre Natalia itu sempat menyewa pembunuh bayaran dengan imbalan 50 juta demi membunuh istrinya sendiri.

Saya tak yakin tuduhan rencana pembunuhan itu benar adanya. Tapi yang jelas, di depan kamera infotainmen Suzanna sempat mengaku hendak bunuh diri karena beban hidupnya yang terus-terusan menumpuk. Tahun 2006 lalu, dia dikabarkan telah meninggal dunia. Tapi berita itu terlampau cepat dua tahun. Baru beberapa hari lalu, sang ratu menghembus nafas terakhirnya yang panjang. Tetap dengan sebuah misteri. Sebuah enigma.

Sukoharjo, 18 Oktober 2008
Haris Firdaus
gambar diambil dari sini

Saya menonton Film “Lions for Lambs” baru-baru ini dan tahu: ada sesuatu yang jauh lebih berarti ketimbang argumentasi yang ditata rapi, rencana luar biasa yang mungkin tanpa cela, dan pikiran cemerlang yang bisa membuat kita terkagum-kagum pada si empunya.

Ya, ada yang lebih berarti ketimbang semua itu. Namanya: perbuatan.

Saya menonton film garapan Robert Redford tersebut di tengah suasana hiruk pikuk politik negara kita yang makin banyak berisi iklan politik, kampanye basi, atau berita-berita korupsi yang membosankan. Saya menonton film yang bintangi Tom Cruise itu tatkala saya—dan mungkin juga Anda—telah amat jengah dengan berita-berita seputar Amerika Serikat bahkan kalaupun itu menyangkut Barack Obama.

Pendeknya, saya menonton film itu di tengah situasi yang benar-benar kelelahan dengan segala omongan, segala laku menjelas-jelaskan, dan segala argumentasi politik yang terus didengungkan.

Sehari sebelum menonton film itu, saya mengikuti sebuah seminar kebangsaan yang berlangsung selama berjam-jam, dengan pembicara-pembicara “level nasional”. Tapi, sepulangnya dari sana, saya hanya mendapatkan kelelahan. Tidak ada nasionalisme, tidak ada kebangsaan yang saya bawa pulang.

Lalu, tiba-tiba saya ingat paragraf awal dari catatan pinggir Goenawan Mohamad belum lama ini: “Haruskah kita terus berjuang dalam politik untuk perubahan, ketika hampir semua hal sudah diucapkan secara terbuka, tapi Indonesia hanya berubah beberapa senti?” Hari ini, di tengah Indonesia yang seperti ini, saya terus teringat kalimat yang sebenarnya hanya saya baca sekilas itu. Kalimat itu, saya kira, dengan amat tepat menggambarkan sebuah kondisi yang lelah akan politik, terutama jika ia berarti omongan.

“Lions for Lambs” membuat saya sadar, politik atau nasionalisme tidak selamanya berisi omongan atau rencana besar yang paling argumentatif sekalipun. Dalam film yang rilis November tahun lalu itu, ada tiga potongan kisah berbeda yang terhubungkan oleh satu benang merah yang membuat saya tahu: perbuatan mungkin jadi sesuatu yang penting ketika omongan adalah sesuatu yang telah terlampau banyak kita dengar dan oleh karenanya tak lagi menimbulkan harapan.
***

“Lions for Lambs” dimulai dengan kisah tentang dua tentara Amerika Serikat yang terjebak dalam misi penyerangan kecil ke daerah Afghanistan: Arian (Derek Luke) dan Ernest (Michael Pena). Keduanya jatuh dari helikopter yang membawa tim mereka saat hendak melakukan pendaratan di sebuah pegunungan salju yang dekat dengan wilayah Taliban. Di tengah salju yang menusuk dan luka-luka, mereka mesti bertahan dari sekelompok musuh yang datang.

Arian dan Ernest adalah lulusan West Coast University. Keduanya masuk ke militer Amerika Serikat karena satu alasan: ada sesuatu yang harus dilakukan oleh mereka. Ya, segala pertimbangan sudah mereka pikirkan: dari mulai arogansi Amerika Serikat, perilaku korup para politisi mereka, atau yang lain-lain. Bagi mereka—yang sebenarnya bukan orang AS “asli”—ada perjuangan yang harus dilakukan dalam hidup mereka, bahkan jika kenyataan membawa mereka hidup di negara seperti AS. Dan mereka memutuskan jalan itu ada dalam tubuh militer, dengan taruhan apapun, bahkan saya kira mereka tahu kalau akhirnya mereka mungkin sekali hanya menjadi “korban” dari rencana politisi konservatif AS dalam “perang melawan teror”.

Dr. Malley (Robert Redford), dosen keduanya, sempat mencegah kepergian kedua mahasiswa pintar itu ke militer. Bagi Malley, yang pernah merasakan “kesia-siaan” ketika bergabung dengan tentara AS kala Perang Vietnam, masuk ke militer adalah sebuah jalan buruk. Sebab, bagi Malley—yang mengambil inspirasi dari sebuah puisi Jerman—para perwira militer adalah “singa” yang diperintah oleh politisi AS yang mirip dengan “domba-domba”. Tapi Malley tak bisa mencegah mereka. Ia tak sepakat dengan mereka tapi toh akhirnya menghargai keputusan itu.

Kisah kedua terjadi di ruang kerja Senator Jasper Irving (Tom Cruise). Kala itu, Irving mengundang Janine Roth (Meryl Streep), seorang wartawan, untuk mewawancarainya terkait dengan rencana terbaru AS dalam menangani konflik di Taliban—Ernest dan Arian adalah eksekutor lapangan dari rencana ini. Keduanya kemudian terlibat dalam debat yang seru: Irving berusaha meyakinkan Janine bahwa usaha yang dilakukan AS untuk membersihkan Taliban di Afghan adalah sesuatu yang benar dan seharusnya dilakukan. Tapi seperti biasa, Janine akan melawan argumentasi dengan argumen yang tak baru-baru amat.

Bagian kedua ini, agak membosankan karena kita sudah pernah mendengar semuanya dalam berita yang kita baca atau tonton. Tapi, sangat mungkin Redford sengaja membiarkan “kebosanan” itu: sangat mungkin ia membuat bagian ini menjadi “sama persis” dengan propaganda yang dilancarkan AS tiap kali hendak menghukum lawannya dengan satu tujuan: menularkan kebosanannya pada kita.

Kisah ketiga adalah kisah Malley yang sedang berdebat dengan seorang mahasiswa berbakat tapi malas dan apatis: Todd Hayes (Andrew Garfield). Hayes adalah mahasiswa berbakat yang muak dengan mata kuliah geopolitik karena toh mata kuliah macam itu tak akan berguna dalam panggung politik AS yang sesungguhnya. Bagi Hayes, laku politik di AS sudah sedemikian menjijikkan sehingga satu-satu tindak yang mesti dilakukan adalah menjauhinya. Malley mencoba mendebat Hayes dengan menceritakan kisah Ernest dan Arian, dan mencoba memberitahu pada Hayes: ada sesuatu yang bisa dilakukan selain “lari”.

Tiga kisah berbeda dalam “Lions for Lambs” terjadi dalam waktu yang bersamaan. Redford membuat film berlangsung dengan pergantian kisah yang konstan. Penyambungan gambar dan kisah membuat film ini jadi menarik dan menyegarkan karena pergantian kisah satu ke kisah lain membuat ironi antar kisah jadi amat terasa.
***

Apa yang membuat “Lions for Lambs” menarik adalah kontras. Tiap kali kisah berganti, kita akan menemukan kontras itu. Ia memang ada di mana-mana: saat kisah Arian dan Ernest berganti ke percakapan Irving dan Janine, atau ke Malley dan Hayes. Ada sesuatu yang makin kuat terasa, ada tanda yang makin membuat kita tergugah. Mungkin, ini mengikuti hukum semiotika: sebuah tanda menjadi bermakna bukan pada dirinya sendiri, tapi pada hubungannya dengan tanda lainnya.

Begitulah pula logika Redford: satu kisah menjadi menarik dan menggetarkan ketika ia disandingkan dengan kisah lainnya. Dan kontras utama dalam “Lions for Lambs” itu terasa pada dua hal: omongan dan perbuatan.

Mereka yang seperti Hayes akan mudah sekali omong tapi sekaligus mudah patah asa. Orang-orang seperti itu adalah mereka yang mampu membikin analisa-analisa bagus dengan segera, tapi kemudian menjadi takut karena analisa yang ia bikin sendiri. Lalu, orang-orang macam ini akan berakhir dengan apatisme di sudut kamar mereka sendiri. Sementara itu, di luar kamarnya, perubahan sosial terjadi tanpa menoleh sama sekali padanya.

Entah kenapa, Arian dan Ernest akan jadi sesuatu yang lebih patut untuk membuat kita tegetar. Apalagi di Indonesia saat ini ketika harapan makin jadi sesuatu yang defisit dalam kehidupan kita. Ya, ia jadi sesuatu yang menggetarkan dan mencengangkan ketika makin banyak omongan yang diumbar, tapi—seperti kata Goenawan Mohamad—Indonesia hanya berubah beberapa senti.

Mungkinkah itu karena sebuah perbuatan yang “baik” dan “tulus” akan jadi sesuatu yang selalu lebih dihargai—betapapun ia tak dihiasi filsafat sama sekali—dibandingkan dengan filsafat yang kemudian membuat kita berdiam diri?

Sukoharjo, 12 Juli 2008
Haris Firdaus