
Mulanya, saat kereta api yang saya tumpangi malam itu berhenti, saya sama sekali tak curiga. Saya mengira ini hanya pemberhentian biasa, jeda yang biasa terjadi dalam sebuah perjalanan panjang kereta api. Saya ada di gerbong terakhir kereta. Di luar gelap. Tidak tampak bangunan apapun.
Beberapa saat kemudian, mulai tampak kasak-kusuk di antara para penumpang. Mereka yang berdiri di dekat pintu saling berbisik. Ada beberapa kecemasan yang muncul di wajah mereka. Saya maju ke arah mereka, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata, ada pemeriksaan khusus malam itu. Semua penumpang yang tak punya tiket akan kena. Ini jelas sebuah kejadian luar biasa.
read more »

Saya bertemu dia pada sebuah siang yang terik. Saat itu sudah jam 2 siang lebih. Saya menaiki tangga rumah susun itu, menuju lantai tiga. Ia menyambut saya tepat di depan anak tangga terakhir. Bayangan saya tentang dia langsung berubah begitu melihat sosoknya secara sempurna.
Mari memanggilnya B. Namanya terdengar sedikit lucu. Berbau perjuangan dan kekiri-kirian menurut saya. Ketika mendengar namanya, saya membayangkan ia berasal dari wilayah timur Indonesia. Saya mengangankan ia berkulit gelap, berambut keriting dengan potongan pendek di bagian depan dan gondrong di belakang. Saya membayangkan tubuhnya tegap, tangannya penuh bulu, dan cara bicaranya berapi-api.
read more »

Indonesia punya pengalaman panjang yang cukup buruk dalam melestarikan peninggalan zaman lampaunya. Salah satu pengalaman itu berkait dengan pelestarian Situs Sangiran di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang pada 5 Desember 1996 diakui sebagai warisan dunia nomor 593 oleh UNESCO. Sejak pengakuan itu, situs tersebut secara resmi bernama “Sangiran Early Man Site”.
Pengakuan prestisius itu sebenarnya terbilang wajar bila melihat potensi Sangiran. Sejak penemuan alat-alat batu manusia purba oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald pada 1934, berbagai penemuan di Sangiran memang susul-menyusul seolah tanpa henti.
read more »

Hari ini, ketika “pemuda” dalam pengertiannya yang asasi terus disepak ke pojok ruang paling pinggir dari rumah kebangsaan kita, masihkah kita layak berbicara tentang sumpah pemuda dengan menggebu?
Dua tahun lampau, dalam sebuah buletin pers mahasiswa di kampus saya, seorang mahasiswa menulis tentang refleksi sumpah pemuda dan apakah pemuda Indonesia saat ini bisa menjadi agen perubahan.
Seperti yang bisa anda tebak, tulisan yang berjudul “Memaknai 28 Oktober, Siapkah Pemuda Lahir Sebagai Agen Perubahan???” itu bercerita soal sejarah sumpah pemuda, soal betapa heroiknya para pencetus sumpah itu, dan soal betapa pengaruh sumpah pemuda itu terasa sampai sekarang.
read more »

Di kampung saya, malam takbiran selalu identik dengan oncor. Oncor adalah bahasa Jawa dari obor. Oncor di kampung saya selalu berupa potongan bambu, kira-kira sepanjang jarak telapak tangan hingga siku orang dewasa, yang di ujung atasnya dimasuki kain bekas yang sudah dicelup ke minyak tanah. Kain tadi berfungsi sebagai sumbu yang akan menjadi sumber api.
Sebagaimana di tempat-tempat lain di Indonesia, takbir keliling adalah aktivitas yang pasti ada di kampung saya. Remaja masjid setempat mengorganisirnya menjadi paket kegiatan Ramadhan. Secara resmi, peserta takbir keliling adalah anak-anak—nama acara itu dalam proposal permohonan dana kegiatan Ramadhan kampung saya adalah “takbir keliling anak-anak”. Tapi selalu saja aktivitas itu dipenuhi pula oleh remaja, orang tua, dan balita. Para remaja menjadi panitia, orang-orang tua ikut dengan tujuan mengawasi anak-anak mereka yang menjadi peserta, sementara bayi-bayi kadang dibawa karena ibu bapak mereka turut serta dalam takbir keliling.
read more »