
2010 adalah tahun yang benar-benar baru bagi saya. Sejak awal Januari lalu, saya meninggalkan kota tempat saya lahir dan tinggal lebih dari 20 tahun. Saya pindah ke sebuah kota hiruk pikuk, jauh lebih jelek, tapi mau tak mau harus saya akrabi. Ini konsekuensi dari pekerjaan baru saya.
Perubahan ini, bagi saya, sangat drastis. Saya harus meninggalkan hampir segala hal yang saya akrabi selama ini. Kini, hampir tiap hari, saya menemui sesuatu yang baru–untuk tidak mengatakan asing. Saya butuh banyak adaptasi dan sampai sekarang, mungkin saya masih dalam tahap itu.
read more »

Sore itu, ketika Budhe B menelepon, saya sedang sendiri di rumah. Semua anggota keluarga saya sedang ke Magelang, menengok rumah kontrakan kakak saya.
“Wis krungu kabare Pak A?”
“Durung, Budhe.”
“Pak A wis ra ono.”
Saya tercekat mendengar penuturan budhe. Pak A adalah om saya, adik dari ibu—ia yang terakhir dari dua belas bersaudara anak kakek saya. Saya seharusnya memanggil dia dengan sebutan “om” atau “paklik”, tapi entah kenapa, sejak kecil, kami terbiasa memanggil dia dengan sebutan “pak”.
read more »

Pada sebuah pagi sekira sebelas tahun lampau, saya bangun tidur dengan perasaan yang campur aduk: ada rasa senang, sekaligus bangga, tapi juga secuil cemas. Hari itu, untuk kali pertama setelah enam tahun, saya boleh menanggalkan seragam sekolah berwarna putih-merah dan bisa memakai seragam baru berupa kemeja putih lengen pendek dan celana cekak warna biru.
Pagi itu adalah hari keempat saya di SMP. Setelah tiga hari masa orientasi siswa yang menjemukan—saat-saat di mana saya masih harus menggunakan seragam SD—akhirnya saya merasa “benar-benar sudah SMP”! Sekali lagi: saya senang dan bangga tapi sekaligus cemas.
read more »

Dua tahun lalu, saya menuliskan pengalaman yang saya temui saat melakukan “perjalanan silaturahim” lintas provinsi bersama keluarga saya. Kini saya memposting tulisan itu kembali, setelah diedit sedikit, untuk mengingatkan: lebaran bisa saja berarti hal-hal kecil yang remeh dan terlupakan.
Lebaran bisa berarti banyak hal. Yang paling klise tentu sebagai sebuah hari di mana “kita akan jadi suci kembali, tanpa dosa”. Perlambang demikian sebenarnya memiliki kesulitan tersendiri untuk diterima. Tapi mungkin ia hadir sebagai semacam “hasrat yang optimis” dari masyarakat kita, atau mungkin sebuah doa.
Namun, kita juga tahu bahwa lebaran adalah hari yang sibuk bagi kaum muslim yang datang dari kelas menengah ke atas. Ia bisa berarti baju baru, kue-kue kering yang ditata dalam toples, silaturahim penuh formalisme yang membosankan, atau bisa juga diartikan sebagai duit yang datang tiba-tiba dari nenek atau kakek.
read more »

Sebagaimana tiap orang yang menempuh pendidikan sampai tingkat perguruan tinggi, saya punya pengalaman diajar oleh banyak sekali guru. Mulai guru masa taman kanak-kanak, sampai kini ketika orang-orang yang mengajar itu lebih banyak dipanggil sebagai “dosen”. Kuantitas guru saya mungkin mencapai ratusan, dan yang jelas: beragam sekali sifat dan perangainya.
Di masa sekolah dasar, saya pernah diajar seorang guru yang menghukum siswanya dengan cara yang aneh: memakan tahu mentah secara bersama-sama di depan kelas. Hari itu, sejumlah kawan lelaki saya bertingkah gaduh di kelas dengan alasan dan proses yang saya tak ingat betul. Yang terang, di antara kegaduhan itu terselip sebuah adegan di mana guru saya seperti biasa bertanya pada murid-muridnya: “Tahu, anak-anak?” dan kawan-kawan saya berteriak, “Tahu! Tahu!” dengan cara yang barangkali dianggap tak sopan oleh sang guru. Tentu maksud kata “tahu” di situ bukan jenis makanan, tapi sebuah kata yang bersinonim dengan kata “paham”.
read more »