Personal

Rasa Sakit

December 10, 2008
By Haris Firdaus
Rasa Sakit

Untuk apa sebenarnya rasa sakit diciptakan? Mereka yang pernah membaca The Da Vinci Code-nya Dan Brown, mungkin akan ingat sebaris kalimat aneh perihal kesakitan: “Rasa sakit itu baik, Monsieur.” Pada bagian pembuka dari buku yang diklaim telah “memukau nalar” dan “mengguncang iman” itu, kalimat yang bernada mengerikan itu diucapkan Silas, seorang lelaki albino bertubuh besar,...
Read more »

Posted in Kehidupan, Personal | 12 Comments »

Risiko

June 19, 2008
By Haris Firdaus
Risiko

:lintanglanang Bung, kini kita tahu: laku menulis adalah sebuah laku yang tak pernah bebas dari sebiji—atau lebih—risiko. Dalam pokok soal ini, meminjam Nirwan Dewanto dengan sedikit modifikasi, kita bisa melakukan “pembacaan jauh” atau “pembacaan dekat”. Membaca jauh, berarti dalam soal ini kita akan ingat dengan banyak nama: Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul, Seno Gumira Ajidarma,...
Read more »

Posted in Personal | 8 Comments »

Pergi

May 12, 2008
By Haris Firdaus

pada: nhw Dulu, saya hampir selalu memandang kepergian sebagai sesuatu yang berat. Saya selalu membayangkan, suatu saat kelak, ketika akhirnya saya harus melangkahkan kaki untuk pergi dan barangkali tak akan kembali lagi kecuali hanya untuk sesaat—dan itupun hanya untuk “menengok”—, saya pasti akan merasakan semacam rasa sakit. Rasa sakit itu, barangkali muncul karena kepergian...
Read more »

Posted in Kehidupan, Personal | 4 Comments »

Pesimisme dan Kehendak yang Buta

April 29, 2008
By Haris Firdaus
Pesimisme dan Kehendak yang Buta

pada: helmy Kalau bagi Chairil Anwar hidup adalah menunda kekalahan, bagi Arthur Schopenhauer, hidup adalah “kekalahan” itu sendiri. Untuk filsuf yang menggemakan pesimisme hidup manusia itu, kehidupan tidak berjalan atas dasar rasionalisme. Kehidupan, menurutnya, berkembang di atas rel “kehendak buta” dan “ketidaksadaran”. Setelah Masa Pencerahan tiba di Eropa pada abad 18 dan manusia diserukan untuk...
Read more »

Posted in Kehidupan, Personal | 2 Comments »

Jam

April 26, 2008
By Haris Firdaus
Jam

Tepat ketika saya berusia 22 tahun pada akhir Maret lalu, beberapa kawan memberikan sebuah jam weker pada saya. Saya menyukai pemberian itu karena memang membutuhkannya: jam itu pasti akan berguna buat membangunkan saya dari tidur tiap pagi. Tapi, terlepas dari masalah yang pragmatis itu, ada soal lain yang membuat hadiah tersebut jadi menarik. Lama...
Read more »

Posted in Kehidupan, Personal | No Comments »