
Dalam kehidupan manusia, sebuah puisi seharusnya hadir sebagai sebentuk subversi. Sebagai bagian dari fiksi, puisi sudah sepantasnya datang sebagai semacam alternatif guna membikin “yang berbeda” hadir pada hidup kita yang belakangan ini sudah dimakan iklan dan dibuat bosan oleh politik.
Seperti pernah disampaikan Sapardi Djoko Damono, “tugas” fiksi adalah membuat jeda sejenak dari rutin yang mengelilingi kita. Kehadirannya diharapkan membuat kita bisa melakukan “perjalanan bolak-balik” antara yang nyata dengan yang imajiner. Perjalanan itu, sesungguhnya, hampir terus-menerus menjadi sesuatu yang selalu kita butuhkan selama kita masih ingin bertahan jadi “orang waras”: ia menjadi semacam ritual yang menjaga kita tetap ada dalam sejenis “keseimbangan”.
read more »

Apa sebenarnya yang menyebabkan sastra Jawa modern tinggal di dalam ruang yang sepi? Benarkah hanya disebabkan oleh globalisasi yang makin menggeruskan kebudayaan dan bentuk-bentuk seni lokal? Ataukah justru penyebabnya adalah masalah internal yang terjadi di dalam kalangan sastra Jawa sendiri? Bagaimana pula mengeluarkan sastra Jawa dari kesepian yang selama ini menghinggapinya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba dijawab dalam Diskusi “Disorientasi Sastra Jawa Gagrak Anyar” di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, pada 7 November 2009 lalu. Berbarengan dengan peluncuran Buku Antologi Sastra Jawa Senthong 2, diskusi itu mencoba melakukan identifikasi atas persoalan-persoalan yang menghinggapi sastra Jawa sekaligus mencari jalan keluarnya.
read more »

Di tangan Slamet Gundono, wayang adalah ihwal yang tak selesai. Selalu saja ada improvisasi yang kadang edan kadang nakal, lucu, juga politis, yang menyertai pertunjukan-pertunjukan wayang Gundono. Barangkali, kita akan menyimak paradoks: sebagaimana seni tradisi lainnya, wayang sebenarnya telah dibeku-bakukan oleh seperangkat pakem yang selama ratusan tahun terus dilestarikan dan enggan dilanggar. Tapi di tangan Gundono, wayang adalah sesuatu yang cair, plastis, dan tak punya demarkasi.
Menyaksikan pentas wayang Gundono bertajuk Celengan Bisma dalam acara peluncuran Buku Wayang Lindur. Presiden Buruh Rakyat karya Slamet Gundono pada 26 Juli lalu, saya kembali mendapat pengukuhan atas premis-premis yang telah saya kemukakan di awal. Pentas yang berlangsung di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, itu adalah gabungan dari sejumlah khasanah kebudayaan yang datang dari tempat dan waktu berjauhan. Dalam pertunjukan itu, ada teater modern, tari, seni musik campur aduk, kisah wayang, sindiran politik, juga humor saru ala rakyat jelata.
read more »
Ada sebuah paradoks yang saya rasakan saat menghadiri Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 pada 4-5 Agustus lalu. Berhasrat mendekatkan sastra Jawa dengan masyarakat pedesaan, yang selama ini diasumsikan sebagai habitat tersuburnya, acara itu, bagi saya, justru membuktikan bahwa sastra Jawa belum bisa benar-benar dekat dengan orang-orang desa.
Dalam tulisan pengantar acara itu, panitia festival menyebutkan bahwa masyarakat pedesaan adalah pendukung utama eksistensi sastra Jawa. Merekalah yang selama ini membaca majalah berbahasa Jawa dan mengonsumsi pelbagai bentuk karya sastra berbahasa Jawa. Sayangnya, menurut panitia festival, hal itu tidak diimbangi oleh keberpihakan sastrawan terhadap masyarakat desa dan pelbagai variasi masalahnya. Peran dan posisi sastrawan Jawa selama ini tak pernah jelas dalam konteks persoalan masyarakat desa. Kebanyakan problem pedesaan justru lebih banyak direspon oleh lembaga swadaya masyarakat yang kebanyakan berasal dari kota, maupun mancanegara.
Menimbang persoalan itu, Festival Sastra Jawa dan Desa 2009 kemudian diadakan sebagai upaya menjawab persoalan keberjarakan masyarakat desa dengan sastra Jawa. Ini adalah tujuan luhur nan mulia tentu saja. Dalam konteks wacana sastra Jawa, isu ini juga cukup jarang disinggung. Selama ini, isu seputar sastra Jawa hampir selalu berkisar pada tak adanya perhatian yang luas pada karya-karya sastra berbahasa Jawa yang diasumsikan punya faedah luas. Kadangkala, tanpa pernah membuktikan dengan konkret apa faedah yang diasumsikan ada itu, para pelaku sastra Jawa mengeluarkan kecaman terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas miskinnya apresiasi terhadap sastra Jawa. Itu soal klise dan untunglah festival ini secara konseptual tak ingin terjebak pada kelaziman tak berguna semacam itu.
read more »

Perlahan-lahan ada yang sedang berubah dari dunia anak-anak di sekeliling kita. Sebuah pergeseran yang terjadi dalam imajinasi mereka, juga ketertarikan, dan harapan-harapan. Kebudayaan anak-anak Indonesia tak mungkin lagi dianggap sebagai ruang sempit yang hanya berisi produk-produk kultural yang ditafsirkan sebagai “asli Indonesia”. Suka atau tidak, kita sedang menyaksikan anak-anak itu memasuki satu ranah budaya baru: sebuah lanskap kultural yang pernah disebut Marshall McLuhan sebagai “dusun global”.
Pemikiran ihwal pergeseran itulah yang hadir di kepala saya, menjadi satu kesimpulan sementara tentang dunia anak-anak paling kontemporer di Indonesia, ketika saya memandangi satu demi satu lukisan-lukisan yang dipamerkan dalam Pameran Lukisan Anak dan Remaja 2009. Pameran yang diadakan di Balai Soedjatmoko, Solo, pada 22-28 Juli 2009 itu bisa menjadi bahan refleksi mendalam tentang wajah anak-anak Indonesia hari ini. Diikuti sekira 27 pelukis yang masih menempuh pendidikan di taman kanak-kanak sampai SMA, pameran yang kebanyakan menampilkan lukisan realis tersebut merupakan cermin bening tentang imajinasi, harapan, juga dunia yang paling dekat dengan anak-anak di Indonesia.
read more »