Tokoh @ 25 April 2009, “32 Comments”

25 Juni 1996, Jenderal TNI Feisal Tanjung, yang kala itu menjabat sebagai Panglima ABRI, memanggil sejumlah pemimpin media massa. Dalam pertemuan itu, Feisal menghimbau para pemimpin media agar tidak lagi menyebut Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan tidak lagi mewawancarai para pendukung Mega.

Sebelumnya, pihak militer juga berkali-kali meminta media massa tidak lagi menyebut Mega dengan panggilan “Megawati Soekarnoputri”. Militer meminta Mega dipanggil dengan sebutan “Megawati Kiemas” saja.


Iklan itu cukup besar, sekira seperempat halaman koran. Saya membacanya siang tadi di Harian Kompas Edisi 21 April 2009. Isi iklan itu: Matahahari Departemen Store memberi potongan harga sekian persen untuk merayakan Hari Kartini.

Dalam koran yang sama, kita juga bisa menemukan suplemen khusus berisi informasi mengenai produk kecantikan dari beberapa merek. Suplemen ini juga memajang profil beberapa wanita yang dalam pembahasannya selalu dikait-kaitkan dengan sosok Kartini. Menariknya, hampir semua pembahasan soal profil itu mengarah ke penampilan, dan ujung-ujungnya perawatan kecantikan. Kartini, beserta segala perjuangan dan aksi yang dilakukannya, hanya menjadi cantelan awal yang “mengesahkan” iklan produk perawatan kecantikan itu.

Tokoh @ 08 March 2009, “20 Comments”

100 tahun Sutan Sjahrir


Jika Hatta memilih buku dan Soekarno menyukai rapat raksasa, Sjahrir mengintimi anak-anak dan petualangan.

“Pukul setengah lima pagi, saya sudah bangun dan siap, dan pukul setengah enam, kami sudah berada di laut. Kami mengatur sendiri layar dan kemudi. Selam tiga jam, perahu melaju, karena angin yang membantu. Melintasi kebun laut, menyaksikan matahari terbit yang gemilang. Kemudian, mendarat kembali. Di pantai kami menghabiskan sisa hari, dan makan.”

Ditulis pada 12 Oktober 1936, kalimat-kalimat itu adalah bagian dari sebuah surat yang dikirimkan Sutan Sjahrir pada istrinya, Maria. Sjahrir tidak sedang menjalani pariwisata ketika menulis dan kemudian mengirimkan kabar tersebut. Masa-masa itu, ia sedang diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda di Banda Neira bersama Hatta dan sejumlah tokoh pergerakan lain.

Jika kemudian nada suratnya seperti turis yang bahagia, barangkali memang demikianlah keadaan Sjahrir di sana kala itu. Meski sedang menjalani masa pembuangan, Banda Neira memang terlalu indah untuk membuat Sjahrir bersedih. Dalam pucuk surat lainnya, Sjahrir bahkan menyebut tempat itu sebagai “benar-benar sebuah firdaus”.

Di Banda Neira, Sjahrir berteman dengan anak-anak keluarga Baadila—seorang keturunan Arab yang rumahnya ia tumpangi. Does, Des, Lily, dan Mimi—anak-anak di keluarga itu—segera jadi temannya. Sementara Hatta memilih tenggelam dalam buku dan majalah, Sjahrir memilih mengajar anak-anak itu, membuatkan pakaian untuk mereka, memasak untuk dimakan bersama. Dan, seperti kita baca dari potongan surat Sjahrir, mereka—Sjahrir bersama empat anak itu—juga melakukan petualangan yang menggairahkan dan kadang edan: berenang di pantai, menyeberangi teluk, mendaki gunung api. Surat yang bagiannya saya kutip tadi merupakan catatan mengenai salah satu petualangan yang terlihat sangat bahagia sekaligus menggairahkan.

Tatkala membaca esai Goenawan Mohamad yang berkisah tentang periode pengasingan Sjahrir di Banda Neira, saya terpesona dengan penggambaran Sjahrir sebagai sosok yang rileks, bebas, dan kanak-kanak. Sebagai sebuah narasi biografis, esai berjudul “Sjahrir di Pantai” itu memang hanya memotret sebelah—atau malah lebih kecil dari itu—hidup Sjahrir. Yang hadir dalam esai itu adalah Sjahrir yang bahagia dengan hal-hal kecil dan seperti mengabaikan politik dan intelektualisme—dua pokok besar yang konon merupakan bagian terpenting dalam hidup sang Bung Kecil.

Dalam hampir semua pembicaraan mengenai dia, Sjahrir memang jarang dilepaskan dari politik dan intelektualisme. Dalam esainya di Jurnal Prisma tahun 1977, YB Mangunwijaya menyebut Sjahrir mengalami dilema antara dua pokok itu: ia seolah terombang-ambing antara posisinya sebagai pemikir dan politikus. Masa-masa awal Proklamasi Kemerdekaan Indonesia mengharuskan Sjahrir duduk sebagai wakil Indonesia dalam perundingan dengan Sekutu karena dialah yang dianggap bebas dari kolaborasi dengan Jepang, paling tidak jika dibandingkan dengan Soekarno dan Hatta yang memilih kooperatif dengan Jepang. Faktor itulah yang membuatnya terpilih sebagai Perdana Menteri pertama negara kita pada November 1945.

Sebagai intelektual, Sjahrir adalah sosok yang dianggap sangat rasional—kadangkala disebut sebagai “terlalu rasional”. Sejarawan MT Arifin, saat peringatan 100 tahun Sutan Sjahrir di Solo pada 7 Maret lalu menyebut, hal yang menonjol dari pribadi Bung Kecil adalah kecenderungannya untuk selalu berpikir dan mengajak kawan-kawannya untuk berpikir. Dalam hal inilah, ia menyimpang dari jalan yang dipilih Soekarno. Jika Soekarno memilih agitasi, penggelembungan emosi, dan rapat-rapat raksasa yang penuh bombasme tapi miskin argumentasi dan debat, Sjahrir memilih pengkaderan sebagai jalan perjuangan. Ia lebih menyukai mendidik sejumlah kecil manusia secara ketat dan rasional daripada membakar semangat rakyat dengan pidato-pidato yang hiperbolis.

Pilihan jalan itulah yang konon menyebabkan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpinnya kurang mendapat dukungan massa luas tapi memiliki kader-kader berkualitas yang berperan menentukan dalam perjalanan Indonesia. MT Arifin bahkan menyebut para kader Sjahrir bermain dan memiliki peran menentukan dalam suksesi kepemimpinan tahun 1966 yang menyingsingkan fajar Orde Baru. Para teknokrat Orde Baru sekaligus para pengkritiknya, banyak digerakkan oleh jaringan PSI. Jaringan ini pula yang menurut MT Arifin ikut meletuskan Peristiwa Malari tahun 1974. Sampai hari ini, kata MT Arifin, jaringan PSI masih tersebar di Indonesia, di antaranya di kalangan elite jurnalis Kompas, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Golkar, dan bahkan di Kabinet Indonesia Bersatu.

Di kalangan IMM, MT Arifin menyebut nama Muhammad Djazman al Kindi sebagai kader PSI yang menurutnya giat membangun wacana intelektual di organisasi mahasiswa tersebut. Sejumlah kader PSI dari Bandung yang kemudian bergerak di bidang politik dan intelijen melahirkan sejumlah tokoh pilitik nasional yang sempat aktif di Golkar: Fuad Hassan, Marzuki Darusman, Juwono Sudarsono, dan Sarwana Kusumaatmadja. Bahkan Suripto, salah satu pembesar PKS, juga disebut-sebut sebagai kader PSI Sjahrir. Nama terakhir yang disebut MT Arifin sebagai kader PSI adalah Mbak Anik alias Sri Mulyani yang kini menjabat Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu.

Saya tak terlampau tahu apakah nama-nama yang disebut MT Arifin itu punya relasi langsung dengan Sjahrir dan PSI, ataukah mereka sekadar simpatisan yang punya hubungan “tak langsung” saja dengan PSI. Yang jelas, jika kita percaya pada kesahihan data yang disampaikan MT Arifin, maka pengaruh Sjahrir ternyata sangat besar dan panjang. Model pengkaderan Sjahrir ternyata memiliki jejak yang bisa kita runut sampai sekarang.
***

“Dalam arti yang sangat nyata saya sadar, bahwa kegagalannya dalam politik menandakan kebesarannya sebagai seorang manusia….”

Beberapa jam setelah Sjahrir dinyatakan meninggal, kalimat itu diucapkan Soedjatmoko sebagai komentar atas sosok manusia Sjahrir. Saya tak tahu, adakah Soedjatmoko tak melenceng: bahwa Sjahrir memang seorang politisi yang gagal. YB Mangunwijaya memang menengarai bahwa sebagai pemimpin, Sjahrir pernah membuat salah perhitungan terkait kondisi Indonesia.

Salah hitung itu berlangsung dua kali. Pertama, Sjahrir keliru saat memperkirakan gerakan kaum buruh di Eropa Barat bisa diandalkan sebagai sekutu yang ampuh untuk menggulingkan kapitalisme yang berwatak imperialistis. Alih-alih menjadi makin progresif, gerakan buruh di negara-negara itu justru makin konservatif karena kemampuan dunia industri untuk “menjinakkan” mereka. Kondisi ini membuat gerakan buruh di negara-negara Blok Barat sama sekali tak mungkin diharapkan memerangi kapitalisme.

Kedua, ia menilai Belanda cukup rasional untuk mengatasi persoalan yang muncul ketika Indonesia menyatakan kemerdekaan. Sjahrir—dan juga para pemimpin pergerakan kala itu—tak mengira bahwa Belanda ternyata bertindak amat tolol dengan melakukan agresi militer ke Indonesia yang kala itu sudah menyebut diri merdeka. Penilaian ini tentu saja lancung karena Belanda ternyata menyerang Indonesia sebanyak dua kali setelah 17 Agustus 1945.

Barangkali, dua kesalahan itulah yang membuat kabinetnya tak populer. Ditambah ketidaksukaan Soekarno dan PKI terhadap dia—ini terjadi ketika politik Indonesia mulai mengenal intrik kekuasaan—akhirnya Sjahrir memang tersingkir. Dituding terlibat dalam insiden pelemparan granat terhadap iring-iringan Presiden Soekarno sehingga ia ditangkap pada 16 Januari 1962 pukul 04.00 pagi. Pada 9 April 1966, Bung Kecil meninggal setelah pengobatannya ke Swiss tak membuahkan hasil. Pada hari meninggalnya ini pula, Sjahrir langsung dinobatkan sebagai “Pahlawan Nasional”—sesuatu yang kelak oleh Taufik Abdullah dibahas sebagai semacam “kontroversi”.

Mungkin yang dimaksud Soedjatmoko sebagai “kegagalannya dalam politik” adalah tersingkirnya Sjahrir dari tampuk kuasa Indonesia. Namun, jika kita membaca komentar Sal Tas, sahabat karib Sjahrir, pandangan soal “kegagalan dalam politik” itu mungkin bisa diperdebatkan. Dalam sebuah kenang-kenangan yang ditulisnya mengenai masa pembuangan Sjahrir di Banda Neira, Sal Tas menulis:

“Di lubuk hatinya, Sjahrir tidak menyukai politik. Ia melibatkan diri ke dalamnya karena tugas dan bukan karena terpikat. Ia tidak terpesona oleh fenomena yang dahsyat, menarik, bergairah—terkadang luhur, sering kotor, namun sepenuhnya manusiawi—yang kita sebut politik.”

Jadi, jika seseorang tak pernah mencintai politik dan hanya terjun ke dalamnya karena “terpaksa”, adilkah kita mendakwanya sebagai “gagal dalam politik”?

Barangkali karena “keterpaksaan”-nya dalam politik itulah Sjahrir amat menikmati masa-masa di Banda Neira—tempat yang “benar-benar sebuah firdaus” itu. Di sana, ia bisa lepas dari ketegangan politik dan menemukan dunia kanak-kanak sebagai “dunia baru” yang segera ia sukai. “Seakan-akan ia, dalam bermain dengan anak-anak, menghilang ke dalam dunia yang tanpa ketegangan, pertikaian dan problem,” kata Sal Tas.

Namun kita tahu: Sjahrir, sebagaimana tiap pimpinan pergerakan, tak pernah benar-benar bisa menghilang ke dalam dunia macam itu. Ia, seperti kata Sal Tas, hanya “seakan-akan” menghilang di sana. “Dunia yang penuh ketegangan, pertikaian dan problem” itulah yang ironisnya menjadi dunia Sjahrir—juga dunia kita secara umum.

Sukoharjo, 8 Maret 2009
Haris Firdaus
gambar diambil dari sini

Kehidupan, Tokoh @ 12 February 2009, “24 Comments”


Irasionalitas selalu hadir bahkan di masa orang bisa merekayasa manusia buatan secara rasional.

Teater irasionalitas dalam skala besar baru saja dipentaskan masyarakat kita. Berawal dari kisah ajaib seorang bocah asal Jombang yang mengaku menemukan sebuah batu di atas kepalanya beberapa saat setelah ia disambar petir, teater anti-nalar itu pun berkembang menjadi horor yang kadang menakutkan.

Kita menyaksikan ribuan orang berduyun datang dan antre dengan sabar ke rumah Muhammad Ponari, sang bocah usia 10 tahun yang diklaim menjadi dukun secara amat mendadak itu. Dari surat kabar cetak maupun online, kita tahu bahwa rentetan kendaraan yang menuju rumah sang dukun bahkan sudah sepanjang tiga kilometer. Para pasien yang datang dari penjuru Indonesia itu rela menunggu berjam-jam, atau bahkan dalam hitungan hari, hanya untuk menerima penyembuhan dari Ponari.

Dan, apa yang saya maksud sebagai “penyembuhan” itu, kita paham, hanyalah sebuah proses di mana sang bocah mencelupkan batu ajaibnya ke dalam gelas berisi air yang dibawa sendiri oleh para pesakitan itu—lucunya, sembari “menyembuhkan” pasien-pasiennya, Ponari masih sempat bermain games via handphone di tangannya.

Air yang telah dicelup batu berwarna kuning keemasan itulah yang diklaim menjadi obat mujarab bagi segala penyakit. Konon, pada mula batu itu ditemukan, Ponari telah menguji coba khasiatnya pada saudaranya yang sedang sakit. Dan, ini berdasar omongan yang belum diverifikasi, batu itu memang berkhasiat. Maka beredar luaslah kabar soal batu ajaib itu. Akibatnya kita kemudian paham: Ponari jadi fenomena yang kontroversial karena praktik pengobatannya itu telah menyebabkan empat nyawa melayang—kebanyakan korban kelelahan saat mengantre.

Setelah sempat dibuka-tutup beberapa kali, praktek pengobatan Ponari akhirnya benar-benar gulung tikar beberapa hari lampau. Di portal berita Detik.Com, sedang berlangsung diskusi hangat soal pro kontra penutupan pengobatan Ponari. Banyak yang mendukung penutupan itu, tapi tak sedikit yang mengeluhkan. Seandainya, praktek pengobatan itu tak “mengakibatkan” nyawa melayang, barangkali tak ada yang benar-benar perlu dikhawatirkan. Masalahnya, mereka yang mengantre ternyata kadang susah dikendalikan sehingga musibah jadi sesuatu yang tak terhindarkan.

Dalam sejarah peradaban kita, pola pikir dan praktek irasionalitas adalah kawan yang amat setia: ia hadir sejak amat lama dan terus bertahan hingga kini. Yang memeluknya bukan hanya orang-orang yang dalam anggapan awam kita sering disebut sebagai “tradisional”. Faktanya, mereka yang ada di negara paling maju dalam persoalan teknologi pun, kadang tak luput dari terkaman irasionalitas yang seringkali membuat terpingkal.

Salah satu praktek irasionalitas yang paling menggelikan adalah yang menimpa Ronald Reagan tatkala dia memimpin negara paling adidaya di dunia: Amerika Serikat. Dalam bukunya berjudul For the Records, Donald Regan, kepala staf Gedung Putih era Reagan, mengisahkan bagaimana irasionalitas itu memenuhi aktivitas sehari-hari sang presiden.

Menurut Donald, hampir setiap pergerakan dan keputusan besar yang diambil oleh Amerika Serikat semasa Reagan selalu dikonsultasikan dengan seorang perempuan yang “melihat horoskop untuk memastikan bahwa semua planet terletak di posisi yang menguntungkan untuk mendukung keberhasilan keputusan tersebut”. Perempuan yang disebut Donald itu, pastilah semacam peramal yang dianggap bisa menentukan mana “hari baik” dan mana “hari buruk”.

Orang utama yang berada di balik praktek konsultasi semacam ini adalah Nancy Reagan, sang ibu negara. Donald menyebut, Nancy memiliki kepercayaan yang amat besar terhadap paranormal asal California itu. Tiap kali ada agenda kegiatan atau keputusan, Nancy selalu menelepon sang paranormal, kemudian mengulang hasil konsultasinya pada Donald. Sebagai kepala staf Gedung Putih, Donald harus memerhatikan hasil konsultasi irasional ini untuk menyusun berbagai jadwal.

“Meski saya belum pernah bertemu muka dengan peramal itu, ia menjadi fakta yang demikian khusus bagi kerja-kerja saya, dan dalam urusan-urusan negara yang tertinggi,” demikian kata Donald. Bahkan, menurut Donald, ia menyimpan satu kalender yang diberi kode berwarna: hari “baik” dengan warna hijau, hari “buruk” dengan warna merah, dan hari “yang tidak jelas”. Kalender ini digunakan secara mutlak sebagai pegangan untuk menjadwalkan perjalanan Ronald Reagan. Kapan Reagan harus pidato juga disusun jadwalnya berdasar kalender berwarna ini. Bahkan negosiasi dengan pemerintah asing juga mesti diseleksi berdasarkan “kalender sakral” tersebut.

Saat Reagan berunding dengan Gorbachev, misalnya, sang peramal melalui astrologinyalah yang berperan menentukan jadwalnya. Rundingan keduanya berjalan baik meskipun pertemuan dua ibu negara adidaya itu tak berlangsung dengan amat mulus karena satu alasan: hari lahir Raisa Gorbachev, ibu negara Uni Soviet kala itu, ternyata tak diketahui oleh Nancy Reagan sehingga Nancy tak bisa berkonsultasi dengan peramalnya!

Kisah karikatural Reagan menjadi bukti bahwa presiden di negara paling maju sekalipun ternyata punya kemungkinan terhinggapi kepercayaan irasional. Jika seorang presiden yang memimpin negara dengan fasilitas lengkap dan prima saja bisa menjadi irasional, apalagi mereka yang ditimpa cobaan sakit plus ketiadaan biaya untuk berobat. Dengan tumpukan beban semacam ini, pola pikir yang anti-nalar kadang bisa “dimaklumi”.

Bagi banyak orang, Ponari barangkali menjadi semacam messiah yang membuat harapan mereka kembali timbul. Dengan kondisi seperti ini, tak heran banyak sekali manusia yang siap antre dengan ngotot demi air yang dicelupi batu ajaib itu. Meski barangkali kita tak pernah sepakat dengan mereka, agaknya tak adil juga jika mereka mesti dihakimi dengan “nilai-nilai” yang kita anut. Bagaimanapun, para pasien yang antre itu hanyalah orang-orang yang menuruti perasaan dan hendak menggapai harapan mereka kembali yang sudah hampir pupus.

Jadi, terima saja: teater irasionalitas skala besar itu memang milik masyarakat kita.

Sukoharjo, 12 Februari 2009
Haris Firdaus
gambar diambil dari sini

Wisrawa

Kehidupan, Tokoh @ 14 January 2009, “24 Comments”


Hasrat merengkuh kesucian kadangkala bisa berbalik menjadi sebuah kebrutalan.

Salah satu adegan paling menyayat dari kisah klasik Ramayana adalah tatkala Begawan Wisrawa bertemu Dewi Sukesi di sebuah taman yang sepi, jauh dari keindahan dan hiruk pikuk manusia. Di taman yang cuma berhiaskan kembang kenanga itu, keduanya bertemu dengan hasrat untuk membuka tabir semesta. Saat tirai penutup rahasia itu tersibak, jagat akan goncang dan tepat pada saat itu manusia tak membutuhkan dewa-dewa lagi karena mereka telah jadi suci.

Sukesi adalah orang yang pertama kali berhasrat menyibak rahasia jagat. Pada suatu malam, putri jelita ini bermimpi ada di sebuah dunia yang tak mengenal malam maupun siang. Di sebuah alun-alun yang gemerlapan, dengan pelangi berupa seekor naga bersisik emas yang senantiasa menetes laksana hujan, Sukesi menerima sebuah ilmu tentang rahasia semesta yang disebut Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Tapi perempuan yang kecantikannya tiada tara ini tak mampu mengerti makna Sastra Jendra. Ia cuma merasa menerima anugerah tanpa mampu memahaminya. Hatinya gundah, dan akhirnya diambillah keputusan yang kelak akan disesalinya seumur hidup. Kepada ayahnya, Prabu Sumali, Sukesi menyatakan hanya akan menikah dengan orang yang bisa menjabarkan makna Sastra Jendra.

Sumali kaget bukan kepalang: kehendak anaknya adalah keinginan yang melawan dunia, sebuah niatan yang akan berakibat perubahan maha dahsyat untuk alam seisinya. Kepada Sukesi, Sumali menyatakan “bahaya”-nya menjabarkan makna Sastra Jendra: “Setahuku Nak, binatang akan berubah jadi manusia, dan manusia akan mulia seperti dewa, bila ada makhluk yang dapat mengupas Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Keseimbangan jagad raya akan goncang, Nak. Urungkanlah niatmu.”

Namun Sukesi bergeming. Keinginannya tetap tak bisa diubah. Pada saat itulah Begawan Wisrawa datang ke Alengka menemui Prabu Sumali. Kepada sahabatnya itu, Wisrawa menyatakan hendak melamar Sukesi untuk anaknya, Prabu Danareja. Sumali bingung. Pada satu sisi, ia tak enak hati dengan kehendak sahabatnya. Pada sisi lainnya, syarat yang diajukan Sukesi benar-benar di luar akal sehat. Tapi, tak pelak Sumali menyatakan juga permintaan Sukesi soal Sastra Jendra pada Wisrawa.

Pada mulanya, Wisrawa kaget dan terguncang—bukan karena ia tak memahami Sastra Jendra, tapi justru karena ia tahu risiko penjabaran ilmu itu bagi dunia. Dalam kebimbangannya itulah, ia teringat Danareja yang sudah tergila-gila pada Sukesi. Kasih sayangnya sebagai ayah muncul, dan disanggupilah permintaan Sukesi.

Lalu, adegan paling menyayat itu pun terjadi. Dalam novel yang merupakan tafsir atas Ramayana, Anak Bajang Menggiring Angin, Sindhunta melukiskan pertemuan itu dengan detail suasana yang menggetarkan dan penuh nuansa iba. Tatkala keduanya bertemu dengan penuh pengharapan untuk mencapai kesucian di taman sunyi berhiaskan kenanga, Wisrawa mulai menjabarkan “rahasia dunia” itu. Pada mulanya, semua kelihatan baik-baik saja: Wisrawa dengan cakap mewedar satu per satu rahasia itu seperti mengupas helai demi helai kulit buah-buahan. Sukesi mendengarkan dengan hikmat dan mulailah kebahagiaan merayapi dirinya. Sedikit demi sedikit rahasia kehidupan terhampar di hadapan Sukesi dan tubuhnya seolah melayang dalam alam kebahagiaan yang menyingkap begitu banyak rahasia.

Tatkala Wisrawa telah sampai pada akhir wejangannya—bahwa Sastra Jendra adalah “cinta dalam budi” dan jika Sukesi telah memahami cinta dalam budinya sendiri maka ia akan menjadi “ilahi”—pada saat itu pula dewa-dewa akan musnah karena manusia memang tak lagi membutuhkan mereka. Berbarengan dengan itu, alam berontak. Air laut mendidih, bumi gempa tujuh kali, dan panas tiba-tiba meruyak ke seluruh pelosok. Jagad raya berada dalam pintu perubahan yang maha dahsyat saat itu. Bumi akan segera berubah, keseimbangan yang selama ini menaunginya akan segera musnah.

Lalu Batara Guru, dewa para dewa, turun tangan untuk menggagalkan tercapainya pemahaman Sastra Jendra oleh Sukesi sebab belum saatnya jagad diguncang dengan demikian dahsyat. Ia turun ke dunia, lalu masuk ke dalam tubuh Sukesi dan mencoba menggoda nafsu Wisrawa. Tapi Wisrawa tak tergoda. Batara Guru kemudian ganti masuk ke tubuh Wisrawa dan balik menggoda Sukesi. Sukesi juga tak bisa ditenggelamkan nafsunya. Maka, tak ada jalan lain: keduanya harus dirasuki secara bersama-sama sehingga Batara Guru terpaksa memanggil Dewi Uma, istrinya. Uma diperintahkan merasuki Sukesi, sedangkan Batara Guru masuk ke dalam tubuh Wisrawa.

Pada saat kedua tubuh itu dirasuki, keteguhan pun runtuh. Nafsu keduanya tak tertahankan. Di taman yang sunyi dan dihiasi kenanga itu, Wisrawa dan Sukesi bercinta dengan amat liar. Nafsu mereka menggelora dan kesucian pun tanggal. Keilahian yang hendak dicapai tiba-tiba runtuh dengan seketika. Rahasia jagad kembali tersimpan, alam kembali menemu kenormalannya. Bumi diam, air laut tak lagi bergolak, hawa panas pun surut. Tepat saat dua manusia itu memadu cinta, alam telah menemu keseimbangannya kembali.

Sukesi dan Wisrawa tak pernah menjadi ilahi: mereka tetap manusia yang dipenuhi nafsu. Dan alam menyukai yang demikian. Keseimbangan dunia tercapai tatkala manusia tetap jadi makhluk yang tak sempurna, sehingga dewa-dewa tetap dibutuhkan.
***

Kisah Wisrawa dan Sukesi yang berhasrat mencapai kesucian namun terjerumus dalam lubang nafsu mereka sendiri seperti mengingatkan kita: kesucian dan keilahian akan selamanya menjadi harapan yang hendak terus kita jelang, namun tak pernah benar-benar kita capai. Kita tahu, setelah percintaan liar mereka, Sukesi dan Wisrawa melahirkan tiga putra: Rahwana, Kumbakarna, dan Sarpakenaka. Dari anak-anak inilah riwayat dunia yang muram dalam Ramayana dimulai.

Rahwana adalah perlambang nafsu dan angkara murka. Sarpakenaka, raksasa perempuan yang gemar laki-laki itu, adalah simbol nafsu birahi yang tak bisa dihentikan. Sementara itu, Kumbakarna adalah tanda akan penyesalan: ia raksasa yang buruk rupa sekaligus seorang yang bijak bestari.

Kesombongan dan nafsu berkuasa Rahwana itulah yang akhirnya mengguncangkan dunia, membuat petaka di mana-mana. Dan di sinilah tragik itu terjadi: Rahwana, raksasa penuh angkara murka itu, justru lahir dari sebuah kehendak paling suci dari orang tuanya untuk menjadi ilahi. Dengan kata lain, kisah itu memberi tahu kita: angkara murka justru bisa dilahirkan dari niatan manusia untuk menjadi suci, tak berdosa.

Dalam hal inilah Ramayana seolah menjadi cermin bagi wajah kita sendiri. Jika hari ini kita melihat begitu banyak manusia hendak mencapai Tuhan dengan jalan kekerasan, kita pun tahu: hasrat menjadi suci selalu punya risiko berubah jadi kebrutalan. Agama dan Tuhan, bisa menjadi sebuah kedok yang dengannya manusia merubuhkan sesamanya. Dan darah pun tumpah, untuk kehendak suci yang dipenuhi kesombongan.

Ya, kehendak menjadi suci adalah sebentuk kesombongan. Ketika Wisrawa menyebut hakikat Sastra Jendra adalah budi manusia, itu juga semacam kesombongan: sebab, sang begawan hendak mengatakan bahwa budi manusia sanggup membuatnya mencapai kesucian yang ilahi. Tapi Wisrawa salah. Rahasia Sastra Jendra justru terletak pada kerendahhatian manusia. Rasa rendah hati inilah yang menuntun manusia menjadi sosok yang mulia, meski barangkali tidak pernah suci.

Itulah kenapa, dalam Ramayana, bukan Ramawijaya—sosok manusia yang luhur dan titisan Batara Wisnu—yang berhasil mengalahkan Rahwana. Justru Anoman—kera putih, makhluk yang kadangkala dianggap hina oleh manusia itu—yang mampu membuat Rahwana tak berkutik. Bukan manusia—yang kadangkala dihinggapi kesombongan—yang berhasil menjadi penyelamat dunia, tapi seekor kera—sosok makhluk yang penuh kerendahhatian. Ini juga perlambang: dunia tak sentausa hanya dengan akal yang cerdas atau otot yang kekar, ia membutuhkan sebentuk kerendahhatian juga.

Sukoharjo, 14 Januari 2009
Haris Firdaus
gambar diambil dari sini