Uncategorized @ 10 February 2008, “3 Comments”

pada Bill Kovach

Bung Kovach, di Indonesia, sembilan elemen jurnalisme yang kau kenalkan barangkali hanya akan jadi mimpi sekaligus bumbu pahit penambah ironi. Bagaimana tidak, Bung! Di Indonesia, berdasar sebuah survei yang dilakukan Dewan Pers tahun 2007 lalu, sekitar 80 persen wartawannya ternyata belum pernah membaca Kode Etik Jurnalistik secara penuh! Bung, anda boleh tertawa pahit, atau malah ngakak. Tapi, inilah ironi yang dihadapi Indonesia, Bung.

Bung, saya baru dapat kabar dari seorang kawan—masih mahasiswa—yang sedang magang jadi wartawan di sebuah harian lokal di Denpasar, Bali, sana. Dan kabar kawan saya itu bukannya kabar tentang bagaimana profesionalnya kerja sebuah harian lokal di Denpasar, tapi justru tentang ironi yang saya ceritakan di awal.

Bayangkan, Bung, di harian lokal Denpasar yang terbit Senin-Jumat itu (kita pasti heran kenapa harian itu memilih waktu terbit yang membikin ngakak kayak gitu) semua wartawannya boleh menerima amplop berisi uang alias suap! Yang membuat ironi ini jadi tambah pahit adalah bahwa pembolehan menerima amplop itu ternyata berdasar sebuah “perintah” langsung dari Pemimpin Umum harian itu. Anda boleh geleng-geleng kepala sampai pusing, Bung Kovach.

Tapi begitulah. Amplop, yang oleh banyak organisasi profesi wartawan di Indonesia begitu dikecam, begitu dijauhi, ternyata dibolehkan untuk diterima di harian itu berdasar sebuah perintah “resmi”. Sejauh yang saya tahu, di harian berskala nasional pun memang kadang ada wartawan yang terima amplop. Dan, kadang redakturnya pun tahu kalau anak buahnya menerima amplop tapi tak memberi teguran apa-apa. Tapi, minimal, di harian itu amplop tak jadi benda yang boleh diterima secara terang-terangan dan bahkan tak perlu disabdakan oleh Pemimpin Umum-nya bawah amplop itu halal!

Kalau penerimaan amplop itu sudah jadi bagian dari kebijakan resmi media, tentu ini yang berbahaya karena itu berarti media yang bersangkutan siap mengorbankan apa saja demi kepentingan finansial mereka. Dan, khlayak pembaca tentu saja tidak perlu percaya atau bahkan tak perlu membaca berita-berita di harian kayak gitu. Saya kira, tinggal menunggu waktu—atau malah sudah terjadi?—di mana harian itu akan mulai membiniskan beritanya. Satu berita bisa dihargai sekian juta, sesuai pesanan dan tawaran.

Cuma, yang perlu dicatat juga adalah bahwa itu semua terjadi karena keuangan perusahaan yang minim, tentu saja. Pandangan realistis bahwa wartawan bukan makhluk yang biasanya digaji banyak membuat orang-orang jurnalisme Indonesia mesti menelan pil pahit ironi itu: di satu sisi, menerima amplop tentu saja melanggar etika dan mengorbankan independensi pers, tapi di sisi lain tak menerima amplop berarti kebutuhan keluarga tak tercukupi, anak tak bisa minum susu, dan sebagainya.

Publik Indonesia yang mudah lupa ini barangkali tak lagi mengingat seorang bernama Jarar Siahaan Jarar adalah seorang wartawan lokal di luar Jawa yang menjadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sebuah organisasi profesi wartawan yang paling getol melawan amplop. Selama bertahun-tahun bekerja, Jarar memang taat pada kode etik AJI: ia tak menerima amplop saat bertugas. Cuma, harian yang memperkerjakannya ternyata tak memberi gaji yang cukup. Di tengah kepungan dilema yang menimpanya, ia putuskan keluar dari wartawan dan otomatis dari anggota AJI. Konon, ia memilih mendirikan blog buat menyalurkan minat jurnalistiknya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Jarar membuka warung oli dan pulsa di depan rumahnya.

Mendengar kisah Jarar, Bung Kovach, barangkali anda akan tersadar betapa ironi jurnalisme di negeri kami memang amat pahit. Betapa kepentingan untuk menegakkan profesionalisme kaum jurnalis masih harus menunggu entah berapa lama lagi. Apalagi, untuk membuat para wartawan dan pengelola media mau mempraktekkan sembilan elemen jurnalisme yang anda perkenalkan, Bung. Entah, masih berapa tahun kami mesti menunggu untuk menyaksikan sembilan elemen itu bisa dipraktekkan secara penuh di sini.

Bung, di harian lokal Denpasar tempat kawan saya magang itu, berita-berita disiarkan—kadang—tanpa melalui proses editing yang memadai. Ini tentu saja ironi tambahan: bagaimana di sebuah kota “surga dunia” itu ternyata khalayak disuguhi berita yang standar jurnalistiknya masih jauh panggang dari api. Di harian itu pula, kata kawan saya, bahasa-bahasa bombasme masih mendominasi. Bahasa kriminal yang melebih-lebihkan dan membuat kita kadang bergidik merinding saking kasarnya bahasa itu, masih dipraktekkan dan barangkali dijunjung tinggi.

Amerika Serikat memang jauh dari sini, Bung. Dan idealisme yang anda bangun di sana—yang saya yakin juga belum 100% tercapai—ternyata juga masih jauh pencapainnya di sini. Indonesia, memang belum punya umur panjang dalam sejarah persnya. Jadi, agaknya profesionalisme juga masih harus menunggu. Saya akan bersabar, Bung. Tidak tahu yang lain bagaimana.

Sukoharjo, 10 Februari 2008
Haris Firdaus

Uncategorized @ 03 February 2008, “1 Comment”

Film Turtles Can Fly membenarkan pendapat yang mengatakan ketergantungan masyarakat terhadap media massa menjadi besar saat situasi sosial telah atau akan berubah. Dalam film yang meraih beberapa penghargaan internasional itu, kita bisa melihat bagaimana hubungan antara media massa yang diwakili televisi dengan masyarakat miskin di daerah Kurdistan, perbatasan antara Irak dan Turki, beberapa minggu sebelum Amerika Serikat menyerbu Irak pada 2003.

Situasi menjelang perang yang penuh ketidakpastian, membuat warga di daerah itu berusaha sebisa mungkin mendapatkan informasi tentang perang yang akan terjadi. Satu-satunya sumber informasi yang memungkinkan mereka mendapat informasi adalah televisi. Para penduduk pun berbondong-bondong berusaha memasang televisi di rumah mereka. Sayangnya, daerah tempat mereka tinggal terlalu terpencil sehingga siaran televisi dengan antena biasa tak bisa sampai ke daerah itu. Alternatif lain yang akhirnya ditempuh adalah dengan membeli parabola.

Tentu saja, tidak semua penduduk mampu membeli parabola yang mahal. Hanya satu orang yang akhirnya mampu membeli parabola dan memasangnya di muka rumah miliknya. Ketika parabola telah terpasang, para petinggi dan tetua desa datang untuk menonton televisi. Para penduduk lainnya juga turut datang, bersama para pengungsi yang ada di daerah itu. Tujuan mereka sama: menonton televisi untuk mendapat informasi soal perang.

Oleh sang pemilik parabola, para penduduk biasa dan pengungsi tak diperbolehkan ikut menonton. Mereka disuruh pergi. Larangan untuk ikut menonton televisi sempat ditentang oleh para penduduk karena informasi dari televisi bagi mereka sangat penting, bahkan berkait dengan nyawa mereka. Para penduduk dan pengungsi baru mau pergi setelah ada kesepakatan bahwa informasi dari televisi tentang perang akan diumumkan lewat pengeras suara di masjid.

Situasi yang tergambar dalam Turtles Can Fly adalah situasi yang membuktikan dalam kondisi tertentu masyarakat bisa menjadi sangat tergantung terhadap media massa. Ball Roxeach dan Melvin De Fleur (1976) mengatakan seorang individu memiliki berbagai ketergantungan terhadap media massa. Ketergantungan itu bervariasi untuk orang-orang tertentu, kelompok-kelompok tertentu, maupun budaya tertentu.

Roxeach dan De Fleur menyebut ketergantungan seseorang pada media massa berbeda-beda bergantung pada sistem sosial, sistem media, dan juga karakter individu. Dalam sistem sosial yang berubah, ketergantungan terhadap media massa menjadi bertambah. Perubahan sistem sosial itu bisa jadi karena adanya revolusi, perang, konflik sosial, atau bencana alam. Semakin besar perubahan dalam sistem sosial, semakin besar pula ketergantungan terhadap media massa.

Ketergantungan itu disebabkan oleh kebutuhan masyarakat terhadap informasi untuk mengetahui perubahan-perubahan apa saja yang terjadi dalam lingkungan sosial mereka. Perubahan sosial biasanya menimbulkan situasi yang kacau dan serba tidak pasti sehingga masyarakat membutuhkan informasi yang dapat dipercaya guna mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika sebuah peristiwa yang menyebakan kekacauan dan ketidakpastian terjadi, individu membutuhkan informasi guna mengambil sikap yang tepat tentang apa yang harus mereka kerjakan dan juga untuk mencari rasa aman dalam situasi yang kacau tersebut. Dalam kondisi menjelang terjadinya perang—seperti yang tergambar dalam Turtles Can Fly—masyarakat membutuhkan informasi tertentu, seperti kapan perang akan terjadi dan di mana awal pecahnya perang, supaya mereka bisa mengambil langkah yang tepat agar tidak menjadi korban perang.

Penerang dan Penenang

Dalam kondisi yang kacau akibat perang dan bencana alam, media massa harus memberi informasi yang cukup agar masyarakat tidak salah dalam mengambil sikap serta mendapat jawaban dari rasa ingin tahu yang mereka pendam. Dalam situasi yang dipenuhi kekacauan, pengelola media hendaknya tidak memanfaatkan ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap media massa. Berita-berita tentang perang dan bencana hendaknya juga dilandasi oleh keinginan tulus untuk menyebarkan informasi terhadap warga masyarakat.

Di Indonesia yang sebagian besar wilayahnya rawan bencana alam, media massanya harus menempatkan diri pada posisi sebagai penerang sekaligus penenang masyarakat. Sebagai salah satu faktor terjadinya perubahan dalam sistem sosial, terjadinya bencana alam otomatis akan meningkatkan kebutuhan masyarakat Indonesia pada media massa. Menyadari hal itu, para pengelola media hendaknya tidak menjadikan bencana alam sebagai momen untuk meningkatkan oplah atau menaikkan rating.

Kesadaran untuk menyajikan informasi yang akurat, sekaligus menanamkan optimisme untuk saling menolong saat terjadi bencana, seharusnya merupakan kesadaran yang melandasi setiap pemberitaan tentang bencana. Apabila kesadaran itu tumbuh, maka ketergantungan masyarakat saat terjadi bencana terhadap media massa bukanlah ketergantungan yang perlu ditakutkan.

Haris Firdaus


Saya baru saja mengikuti sebuah diskusi tentang perbedaan pola komunikasi antara pria dan wanita. Pesertanya adalah kawan-kawan saya se-organisasi di lembaga pers mahasiswa tingkat fakultas di kampus saya. Yang menarik dan membedakan diskusi kali ini dengan diskusi yang sebelumnya adalah “perubahan” dalam diskusi ini menjadi semacam ajang “curhat dalam pacaran”.

Saya tanggapi perubahan itu sebagai sebuah hal positif. Dalam diskusi tentang kajian yang berbau psikologi, realitas konkret amat penting. Betapa membosankan kalau diskusi hanya diisi kajian wacana saja, sedang kita tahu, wacana psikologi kadang wacana yang “sulit dipercaya”.

Saya bahkan menganggap psikologi itu banyak mengobral mitos. Yang saya maksud sebagai mitos adalah premis-premis umum tentang manusia yang dalam sebuah ilmu macam psikologi diandaikan bersifat universal. Contohnya gampang: “hukum” yang menyatakan laki-laki terlalu mengutamakan kelogisan berpikir, dan wanita yang mengutamakan perasaannya. Pertanyaannya: benarkah tiap laki-laki selalu mengutamakan daya pikirnya ketimbang perasaannya? Lalu, perempuan, benarkah klaim tentang perasaan yang mendominasi tiap tindakan mereka? Apakah “hukum” ini berlaku universal?

Pertanyaan macam begitu muncul karena saya selalu menganggap manusia adalah makhluk yang terlalu kompleks. Maka, premis umum tentang sifat manusia pada dasarnya tak mampu menyentuh ke sebuah dasar yang hakiki. Tapi, kini, setelah bersentuhan dengan psikologi, saya tahu: barangkali ilmu memang tak hendak sampai dasar yang hakiki. Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran pragmatis atau fungsional. Kebenaran yang terjadi dan dilekatkan pada satu hal bila satu hal itu berguna bagi kehidupan manusia. Ketika ada hal baru yang lebih berguna, hal yang lama itu akan gugur status kebenarannya.

Maka, akhirnya saya menyimak diskusi itu dengan khidmat dan mulai menaruh “kepercayaan” pada psikologi, tentu saja sambil terus sadar bahwa ada kasus-kasus tertentu yang “menyimpang”. Saya akhirnya memang hanya jadi penyimak. Sekitar dua jam diskusi, saya tak bertanya atau komentar sama sekali. Mungkin karena tak banyak hal tentang hubungan pria dan wanita yang bisa saya ungkap. Sebab lainnya: saya ingin tahu lebih banyak tentang hubungan pria dan wanita dari perspektif kawan-kawan saya.

Mayoritas kawan saya adalah perempuan. Dan mayoritas dari mereka sudah berpacaran dengan kondisi yang beragam. Beragamnya kasus yang terjadi dalam hubungan pacaran kawan-kawan saya, mengingatkan betapa kompleksnya psikologi bila ia mencoba menjangkau hal itu. Seorang kawan, sebut saja F, misalnya, berpendapat dalam sebuah hubungan, perempuan lah yang akan meminta banyak perhatian. Bil;a terjadi sebuah percekcokan, maka si perempuan (meski ia yang salah) akan lebih dulu meminta supaya pacarnya memohon maaf. Lalu biasanya perempuan akan minta dimanja atau diberi perhatian yang lebih.

Tapi pernyataan F dibantah oleh kawan saya lainnya, H. Bagi H, pernyataan F tak bisa digeneralisasi. Jadi, sifatnya sangat kasuistik. Tak semua perempuan selalu minta dimengerti lebih banyak. H mencontohkan dirinya. Selama pacaran, ia yang lebih banyak mengerti pacarnya ketimbang pacarnya yang mengerti ia, padahal H ini seorang perempuan. Tapi, ternyata ada faktor yang memengaruhi: umur. Pacar H ternyata berumur lebih muda darinya sehingga mungkin tingkat kedewasaannya berbeda. H menyatakan kontras yang sangat berbeda antara kondisi pacarnya sekarang dengan pacarnya yang lama. Pacarnya yang lama, karena lebih tua, lebih banyak memberi perhatian dan H yang akhirnya jadi “manja”.

Tapi kata H, “Saya justru belajar banyak tentang kedewasaan saat berpacaran dengan pacar saya yang sekarang.” Soalnya, H selalu dituntut bertindak lebih dewasa ketika menghadapi masalah dalam hubungannya, sehingga ia akhirnya terbiasa dan benar-benar menjadi dewasa. Selain itu, H bercerita tentang pacarnya yang posesif. Pacarnya sering tidak terima kalau ia terlalu sibuk berorganisasi. Hal ini, konon karena satu-satunya orang yang dekat dengan pacar H adalah H sendiri. Sehingga, ketika H sibuk sendiri, pacarnya mungkin akan merasa kesepian.

Hal lain yang juga jadi perhatian saya adalah tentang pria yang akan merasa minder bila pasangannya lebih pintar atau lebih berhasil dari pada dirinya. Lagi-lagi hal ini terjadi pada kasus H. Pacarnya sering mengeluh bahwa ia merasa H lebih pintar dari dia. Dan hal itu, membuat pacar H menjadi tidak pede bila berpacaran dengan H. Saya tidak tahu apakah ini fenomena yang universal. Kalau iya, tentu parah. Sebab semua perempuan harus berusaha agar tidak menjadi lebih pintar dari pasangannya. Bukankah ini merepotkan?

Persoalan kebosanan dalam hubungan, juga terungkap dalam diskusi ini (nah benar-benar seperti konsultasi pacaran kan?). Seorang yang mencetuskannya bernama D. Ia bertanya pada pembicara dalam diskusi itu, apa yang menyebabkan sebuah kebosanan dalam hubungan? Si pembicara balik bertanya: kebosanan terhadap apa? Kebosanan terhadap hubungannya, atau kebosanan terhadap si pacar?

Kalau kebosanan terhadap hubungan, biasanya terjadi karena jenuh saja. Solusinya mudah, kata pembicara: rehat dulu. Saat rehat itulah, kita bisa merasakan apakah kita masih merindukan hubungan itu atau tidak. Kalau iya, berarti kebosanan yang terjadi memang hanya jenuh pada monotonnya hubungan. tapi kalau tidak ada kerinduan, kata pembicara lagi: tanyakan pada dirimu apakah kau masih menginnginkan hubungan itu dilanjutkan!

Tapi, kalau kebosanan terhadap pasangan, itu lebih gawat. Biasanya itu terjadi karena karakter pasangan yang tak kita suka, atau karena ada orang ketiga. Kalau itu terjadi, maka saatnya berefleksi tentang masa depan hubungan. Nah….

Sukoharjo, 15 Mei 2007
Haris Firdaus

Chairil Anwar pernah menulis: nasib adalah kesunyian masing-masing. Saya tak tahu pasti mengapa ia menulis begitu. Cuma, dalam Sajak Pemberian Tahu, sebuah sajak di mana Chairil menuliskan “nasib adalah kesunyian masing-masing”, Chairil tampak ingin melepaskan sebuah hubungan dengan seseorang. Saya juga tak terlampau tahu, adakah ia ingin melepaskan seluruh hubungan yang ia punya. Tapi agaknya, sebuah hubungan yang dilepas oleh Chairil adalah sebuah hubungan yang terlampau sulit dijangkau.

Simaklah empat baris pertama Pemberian Tahu:
Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Baris-baris awal ini memberi tahu pada kita bahwa Chairil adalah seseorang yang pada dasarnya ingin menyimpan dan menikmati takdirnya sendiri. Meski pada awalnya ia menemukan seseorang yang ia “pilih dari yang banyak”, tapi pada akhirnya hubungan itu tak berhasil. Sebab, “sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring”.

Barangkali karena tahu bahwa hubungan yang ia jalin tak akan berhasil, maka Chairil sejak di awal menyatakan: nasib adalah kesunyian masing-masing. Ya, betapa orang lain sebenarnya tak pernah bisa mengerti nasib yang menimpa kita. Seberapapun dekatnya seseorang dengan kita, adakah ia bisa benar-benar paham tentang “sesuatu” yang menimpa kita?

Sebab bahkan sebuah hubungan yang dimulai dengan optimisme pada akhirnya bisa berakhir dalam pesimisme yang akut, seperti tergambar dalam Pemberian Tahu. Simak baris ini:
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,
Betapa optimismenya Chairil ketika ia memulai hubungan itu. Bahkan ia menulis:
Kita berpeluk ciuman tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.

Ya, sebuah optimisme yang bahkan digambar dalam kata-kata “kanak-kanak”. Apa yang tersirat dalam kata “kanak-kanak”? Bukankah kanak-kanak adalah suatu masa di mana kita belum bisa berpikir secara menyeluruh? Bukankah kanak-kanak adalah sebuah fase yang hanya mengenal kesenangan, apalagi ketika “malam raya” tiba? Sungguh, melalui empat baris sajaknya, ia memberi tahu bahwa optimismenya menyala-nyala ketika ia memulai sebuah hubungan.

Tapi, bagaimana akhirnya hubungan itu? Chairil menulis sebuah kontras dengan optimisme yang ia nyalakan di awal:
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!
Tiga baris ini merupakan tiga baris penghabisan Pemberian Tahu. Sebuah penutup yang sangat pesimis, terlampau muram, dan hampir-hampir bisa dilihat sebagai sebuah kepasrahan yang amat sangat. Dalam tiga baris ini kita tak lagi melihat Chairil sebagaimana dilukis dalam Sajak Aku: tak ada lagi teriakan-teriakan, tak ada lagi semangat yang menyala, tak ada lagi perlawanan.

Maka, kontras yang tajam ini justru cocok dengan ungkapannya yang saya kutip di awal: pada akhirnya, nasib memang sebuah kesunyian yang mesti dinikamti masing-masing. Mungkin karena itu pula, seorang kawan dari sahabat saya, menolak memiliki seorang sahabat. Baginya, sahabat adalah sumber “ketergantungan”. Memiliki sahabat berarti memulai sebuah proses di mana kita terikat pada seseorang dan pada akhirnya mungkin terlalu banyak berharap padanya.

Pendirian macam ini bisa kita temukan dalam karya sastra yang lain pula: Khotbah di Atas Bukit-nya Kuntowijoyo. Ada tokoh Humam di sana yang enggan menjalin hubungan dengan yang lain. Bahkan, ia sengaja melepaskan semua hubungan, semua cinta, dan semua orang yang ia miliki. Baginya, kebahagiaan bukan bersumber dari “yang luar” dari diri kita. Kebahagiaan ada dalam diri kita, maka ia tak bisa bertambah atau berkurang. Karena itu pula, menjalin hubungan dengan orang lain adalah sesuatu yang tidak penting bagi Humam yang telah menemukan “kebahagiaan sejati”.

Tapi, benarkah demikian? Benarkah sahabat adalah sumber ketergantungan? Benatkah memiliki sahabat berarti akan menjadi orang yang tergantung? Saya tahu, sangat menyakitkan bila kita telah memiliki seorang yang dipercaya (sahabat atau pacar atau istri atau suami), tapi kemudian tiba-tiba kita berpisah dengannya. Saya tahu, pada saat mengalami perpisahan itulah, kita mungkin baru sadar akan “ketergantungan” kita. Kita baru tahu, bahwa ada banyak hal yang hilang bersamaan dengan perpisahan itu.

Tapi, apakah hal ini harus membuat kita selamanya tak memiliki sahabat? Ah, saya pada dasarnya percaya Chairil bahwa nasib adalah sebuah kesunyian yang pada akhirnya harus dinikmati oleh masing-masing. Jadi, punya sahabat atau tidak, nasib tetap sebuah kesunyian. Tapi, barangkali dengan menjalin hubungan, dengan memiliki sahabat, maka kesunyian itu akan sedikit berkurang. Mungkin saja.

Sukoharjo, 16 Mei 2007
Haris Firdaus

Seorang kawan, dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu, mengulang sebuah keyakinan lama tentang teks dan perlawanan: teks adalah alat perlawanan paling ampuh. Masih belum cukup, ia menambah lagi: kata-kata itu lebih ampuh dari pada senjata. Ah, keyakinan macam ini sudah banyak kita dengar. Barangkali Napoleon Bonaparte akan dikutip pula: “Saya lebih takut pada seorang wartawan ketimbang seribu pasukan.”

Dalam kalimat-kalimat itu, teks dan kata-kata hadir sebagai sesuatu yang hebat, besar, dan heroik. Di Indonesia, Wiji Thukul kerap dijadikan contoh. Penyair satu ini, kerap ditafsir dengan satu kata saja dari puisinya: Lawan! Padahal bagi Hasan Asphani, seorang penyair dan wartawan, penafsiran terhadap Thukul yang seperti itu adalah penafsiran yang datang dari “seorang pembaca yang malas”. Wiji Thukul tak sesederhana itu. Tapi benar kata-kata dalam puisi Thukul kerap dijadikan acuan tentang betapa hebatnya kata-kata. Ketakutan penguasa terhadap puisi-puisi Thukul dijadikan bukti betapa teks adalah alat perlawanan paling ampuh yang pernah ada.

Di Meksiko, ada yang pernah meyakini hal yang sama. Subcomandante Insurgente Marcos, namanya. Ia seorang pemimpin gerakan pemberontakan. Tapi uniknya, Marcos tak menggunakan senjata dalam artian senapan atau bom. Tapi ia menggunakan kata-kata untuk menyeru pada dunia tentang perjuangan yang ia lakukan. Konon, ketika pertama kali bergabung dengan para pemberontak di Meksiko Tenggara, Marcos tak membawa senjata, tapi membawa buku. Tapi buku yang ia bawa juga bukan buku Marx atau Engels, tapi buku-buku sastra.

Hadirnya Marcos dan Thukul barangkali dijadikan sandaran bahwa teks adalah alat perlawanan yang “paling ampuh”, seperti diungkap kawan saya. Tapi, benarkah demikian? Kawan saya itu sungguh yakin akan “tuah” dari kata-kata dan sempat memberi contoh tentang orang-orang yang dipenjara karena tulisannya. Tapi bagi saya, tidak setiap teks adalah suatu “senjata”. Saya takut, keyakinan bahwa teks adalah “alat perlawanan paling ampuh” sebenarnya cuma pencerminan dari rasa narsis sebagian penulis. Dan rasa narsis ini pada akhirnya membawa sebuah keyakinan bahwa menulis adalah suatu pekerjaan besar yang hebat, sangat berjasa terhadap masyarakat, atau bahkan heroik.

Akhir-akhir ini saya sering sebal terhadap pendapat macam begitu. Kenapa menulis harus hadir sebagai sesuatu yang “besar”, atau “heroik”? Kenapa menulis tak dianggap sama saja dengan aktivitas makan, minum, atau buang air? Bagi mereka yang berhasrat ingin jadi penulis hebat dan jempolan, apakah mendengung-dengungkan keyakinan bahwa “teks adalah alat perjuangan paling ampuh” akan mengantarnya menjadi penulis yang benar-benar hebat? Bukankah “kampanye” macam itu adalah pencerminan betapa ia ingin dihargai? Atau keyakinan macam itu membuat kita yang pernah menulis atau sering menulis di media massa merasa menjadi seseorang yang telah hebat dan berjasa? Bagi saya, menulis punya banyak sisi dan punya banyak wajah. Tak selalu heroik, dan bisa jadi malah sangat biasa atau terlalu biasa, meski tak selalu pula begitu.

Seorang kawan pernah bertanya pada saya: “Kenapa kamu menulis?” Saya jawab: “Karena saya menyukainya.” Tapi kawan saya tak percaya. Sebab, ternyata ia sudah punya dua pilihan jawaban atas pertanyaannya sendiri: Pertama, karena tanggung jawab sosial. Kedua, karena ingin terkenal. Pilihan jawaban kawan saya itu ada di dua kutub yang saling berlawanan: mereka yang menulis karena tanggung jawab sosial adalah mereka yang benar dan hebat, dan mereka yang menulis karena ingin terkenal adalah mereka yang “terkutuk”. Saya heran, kenapa alasan “suka” tidak boleh ada ketika kita menulis.

Suatu kali, seorang kawan lain mengajak kawannya untuk melihat blog saya. Komentar dari kawannya kawan saya itu pendek: “Temanmu itu kurang kerjaan.” Yang dimaksud kurang kerjaan itu saya karena saya membangun blog dan menuliskan uneg-uneg di sana. Mendengar komentar macam begitu, saya tersenyum. Barangkali benar bahwa saya menulis karena saya memang kurang kerjaan. Tapi juga karena saya menikmati tiap huruf yang saya ketikkan dengan keyboards ke komputer saya lalu saya posting ke blog. Saya menikmatinya meski tak banyak yang berkunjung ke blog saya dan tak banyak pula yang memberi komentar. Yang penting bagi saya adalah: menulis dan menulis.

Saya akui, banyak penulis hebat dan pada akhirnya teks mereka menjadi alat perlawanan atau perjuangan yang ampuh. Tapi, sebagian besar dari mereka, mungkin tak meniatkan diri untuk melawan ketika menulis. Thukul mengaku tak hendak melawna siapapun. Ia cuma menuliskan pengalaman sehari-harinya. Faktor ketakutan penguasa terhadap tiap tindakan yang dianggap bisa mengancam kedudukan mereka juga menambah daya heroik sajak-sajak Thukul. Di iklim politik sekarang, orang yang mengulang apa yang dituliskan Thukul tak akan dianggap sedang “mealawan”.

Kalaupun ada yang perlu dilawan ketika menulis, barangkali itu adalah diri kita sendiri, seperti dilakukan Samuel Mulia. Penulis mode dan gaya hidup itu bagi saya adalah penulis yang teks-teksnya mengandung “kedalaman”. Entahlah, saya justru menikmati tulisan-tulisannya yang dipenuhi dengan hal-hal “duniawi” sebagai sesuatu yang “rohani”.

Justru saya agak risih dan seringkali bingung terhadap tulisan Gede Prama, “pakar kebahagiaan hidup” itu. Samuel membanting “harga dirinya” ketika menulis dan memosisikan diri sebagai orang yang tak banyak tahu dan bahkan hampir selalu pernah melakukan kesalahan dalam tiap hal. Kalau dicermati, tulisan Samuel dilihat dari segi tema tak terlalu istimewa. Tapi dari cara dia bertutur, cara dia memarodikan dirinya sendiri, saya tahu Samuel adalah penulis yang berbeda.

Lalu Gede Prama? Ah, “pakar kebahagiaan hidup” itu terlampau yakin dan terlalu sering memosisikan diri sebagai “orang yang maha tahu”.

O ya, kembali ke kawan saya yang saya ceritakan di awal. Dalam diskusi kemarin, ia juga mengutip kata-kata Ahmad Tohari: “Seharusnya presiden di negeri ini adalah seorang sastrawan. “ Kawan saya mengutip itu untuk membuktikan betapa “penting dan hebatnya” para sastrawan (yang merupakan bagian dari para penulis). Beberapa kawan lain tersenyum dan ngakak terhadap kata-kata itu. Tapi saya tersenyum kecut. Ah, siapa yang keterlaluan sebenarnya? Kawan saya, atau Ahmad Tohari?

Sukoharjo, 14 Mei 2007
Haris Firdaus