<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Mimpi</title>
	<atom:link href="http://rumahmimpi.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rumahmimpi.net</link>
	<description>mimpi adalah semangat. dan perlu sebuah rumah buat menampungnya.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 03:17:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mempertahankan Kebebasan</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2012/05/mempertahankan-kebebasan/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2012/05/mempertahankan-kebebasan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 07:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[FPI]]></category>
		<category><![CDATA[Irshad Manji]]></category>
		<category><![CDATA[LUIS]]></category>
		<category><![CDATA[MMI]]></category>
		<category><![CDATA[Salihara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=1190</guid>
		<description><![CDATA[
Dalam buku Allah, Liberty and Love, Irshad Manji menulis bahwa kaum muslim moderat di dunia mesti belajar kepada Indonesia dalam mengelola keragaman. “Nabi Muhammad menyarankan supaya umat Muslim merantau sampai ke Cina untuk mencari ilmu. Upaya ijtihadku menafsirkan kembali ‘Cina’ sebagai ‘Indonesia’,” katanya.
Saat menyatakan hal itu, Irshad sedang mengisahkan bagaimana acara bedah bukunya, Beriman Rasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a class="highslide" onclick="return vz.expand(this)" rel="attachment wp-att-1191" href="http://rumahmimpi.net/2012/05/mempertahankan-kebebasan/moral-courage/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1191" title="Moral Courage" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2012/05/Moral-Courage.jpg" alt="Moral Courage" width="491" height="210" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam buku <a href="https://www.irshadmanji.com/Just-launched-Indonesian-edition-Allah-Liberty-Love" target="_blank"><em>Allah, Liberty and Love</em></a>, <a href="https://www.irshadmanji.com/About-Irshad" target="_blank">Irshad Manji</a> menulis bahwa kaum muslim moderat di dunia mesti belajar kepada Indonesia dalam mengelola keragaman. “Nabi Muhammad menyarankan supaya umat Muslim merantau sampai ke Cina untuk mencari ilmu. Upaya ijtihadku menafsirkan kembali ‘Cina’ sebagai ‘Indonesia’,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat menyatakan hal itu, Irshad sedang mengisahkan bagaimana acara bedah bukunya, <a href="https://www.irshadmanji.com/indonesian-edition" target="_blank"><em>Beriman Rasa Takut</em></a>, di Perpustakaan Nasional, Jakarta, pada April 2008 berlangsung dengan semarak dan damai. Acara itu dihadiri oleh pelbagai kalangan yang punya pemikiran berbeda-beda, dari orang Islam fundamentalis sampai seorang transeksual. Irshad melukiskan acara diskusi itu dengan kata-kata yang indah:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>“Mereka saling tidak sependapat. Di antara perdebatan kata-kata, gitaris memetik gitar, penyair berdeklamasi, dan penari menikmati tarian Jawa mereka. Tidak ada yang menyepelekan ketegangan; mereka menganggap ketegangan merupakan keniscayaan dalam demokrasi—ciri khas dari demokrasi sejati.”</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Meski disertai perdebatan dan ketegangan, acara itu berlangsung lancar dan damai. “Sepanjang pengetahuanku, semua orang meninggalkan acara itu dengan aman, termasuk seorang transeksual yang paling vokal,” ungkap Irsahd. Yang unik, dalam acara itu, di depan orang-orang Islam fundamentalis yang menganggap transeksual sebagai dosa besar, pria transeksual itu mengaku telah melakukan operasi kelamin dan kini sedang berupaya untuk memakai jilbab.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Afghanistan atau Mesir, tak ada pria yang bisa mengaku secara terang-terangan telah berganti kelamin dan hendak memakai jilbab. Di Indonesia, empat tahun lalu, pengakuan itu bisa terjadi di sebuah perpustakaan umum yang terhormat. Dan ingat, pengakuan itu diucapkan di depan orang-orang fundamentalis yang pasti merah kupingnya saat mendengar itu. Tapi, toh, diskusi itu berlangsung tertib dan damai.</p>
<p style="text-align: justify;">Sayangnya, itu semua terjadi empat tahun lalu. Sekarang, bisakah kita mengulang momen yang serupa di Indonesia? Mungkin saja masih, tapi harus kita akui bahwa akhir-akhir ini kita menghadapi gelombang intoleransi dan kesempitan berpikir yang mengkhawatirkan. Pembubaran diskusi buku <em>Allah, Liberty and Love</em> di Jakarta, Solo, dan Yogyakarta, oleh sekelompok ormas yang mengatasnamakan Islam tapi menghalalkan kekerasan adalah bukti yang tak terbantahkan soal itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Orientasi seksual Irshad Manji dijadikan dasar pembubaran diskusi, padahal jelas buku baru Irshad tak bicara soal orientasi seksual. Ironisnya, mereka yang melakukan pembubaran itu belum membaca buku yang mereka tolak sendiri, dan bahkan mereka tak tahu apakah Irshad itu laki-laki atau perempuan!</p>
<p style="text-align: justify;">Sekelompok orang dari Front Pembela Islam (FPI) di Jakarta, Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) di Solo, dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) di Yogyakarta telah semena-mena menghalangi kebebasan berbicara dan berkumpul yang dijamin oleh UUD 1945. Fatalnya, polisi terus-menerus tunduk pada <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Vigilante" target="_blank">kelompok-kelompok vigilante</a> semacam ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembubaran diskusi di Komunitas Salihara, Jakarta, oleh Kapolsek Pasar Minggu, adalah contoh bagaimana polisi tunduk pada keinginan sekelompok orang yang hendak memberangus kebebasan sekelompok yang lain. Dibiarkannya perusakan dan kekerasan oleh MMI di Kantor LkiS, Yogyakarta, adalah contoh pembiaran yang merusak keberadaban kita. Tindakan polisi ini menyedihkan karena di saat kelompok-kelompok vigilante ini makin ganas dan ngawur, polisi terus-menerus diam dan tunduk pada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lebih menyedihkan, sikap-sikap kelompok vigilante ini sekarang didukung oleh orang dan kelompok yang sebelumnya bisa kita katakan sebagai kelompok moderat. Di UGM, kader-kader gerakan Tarbiyah yang tergabung dalam lembaga dakwah kampus ikut-ikutan menolak kedatangan Irshad Manji. Beberapa hari kemudian, dalam sebuah diskusi, aktivis Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)—organisasi mahasiswa di bawah Partai Keadilan Sejahtera (PKS)—mendukung penolakan terhadap kedatangan Irshad.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Ikatan Mahasiswa Muhammdiyah (IMM) juga ikut menolak diskusi buku Irshad. Di Facebook, saya berdebat selama beberapa hari dengan teman-teman kuliah saya yang merupakan kader-kader Tarbiyah perihal penolakan diskusi buku Irshad Manji. Mereka, teman-teman saya itu, turut mendukung sikap FPI, LUIS, dan MMI yang menolak kebebasan berbicara.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, mereka juga akhirnya turut membenarkan kekerasan yang dilakukan MMI—padahal korban dari kekerasan itu kebanyakan adalah sesama Muslim. Yang mengejutkan, ada seorang Muslimah yang dengan terang-terangan menyatakan bahwa seandainya anaknya ikut dalam diskusi yang kontroversial, seperti diskusi buku Irshad, lalu anaknya menjadi korban kekerasan kelompok vigilante, dia tak akan membela anaknya. “Aku tak akan menyalahkan siapapun,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat menyatakan itu, Muslimah itu lupa: sikapnya itu justru menyalahkan anaknya sendiri dan dengan begitu ia mengubah korban menjadi pelaku. Dan bila dia tak mau membela kebebasan berpikir anaknya sendiri, bagaimana dia bisa membela kebebasan para peserta diskusi buku Irshad?</p>
<p style="text-align: justify;">Apa-apaan ini sebenarnya? Dan apa yang sedang terjadi sesungguhnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Ada tiga fakta yang harus saya katakan dengan sedih. <em>Pertama</em>, kelompok-kelompok vigilante di Indonesia makin ganas. Sasaran mereka bisa siapa saja dan alasan apapun bisa dibuat. Yang paling berbahaya dari kelompok-kelompok ini adalah ormas yang mengatasnamakan agama. Dengan agama, yang mereka tafsirkan sendiri dan mereka anggap tafsiran itu paling benar, kelompok ini bisa membenarkan kekerasan yang mereka lakukan. Bukankah atas nama Tuhan, semuanya boleh dilakukan?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, tampaknya polisi makin tak berdaya di hadapan kelompok-kelompok vigilante yang berkedok agama ini. Sementara kelompok-kelompok ini makin ganas, polisi justru makin lembek dan terus-menerus tunduk pada mereka. Ini jelas kabar yang sangat buruk.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>, yang tak kalah buruk, sebagian kaum Muslim arus utama di Indonesia mulai membenarkan tindakan kelompok-kelompok vigilante ini. Mereka lebih merasa terluka dan dihinakan oleh orientasi seksual seseorang, yang jelas tak ada kaitan dan dampak langsung pada mereka, ketimbang kekerasan yang dilakukan sekelompok preman yang mengatasnamakan agama. Padahal tindak kekerasan itu bukan hanya melukai secara fisik tapi justru ikut merusak agama itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum penolakan buku Irshad ini, organisasi semacam lembaga dakwah kampus dan KAMMI terlihat sangat moderat dalam memandang kebebasan berekspresi. Mereka tentu punya pandangan yang cukup <em>saklek </em>dalam beragama, tapi sepanjang pengetahuan saya, mereka cukup bisa menghargai ruang bicara kelompok lain. Tapi kenapa sekarang mereka berbalik? Yang menyedihkan, kenapa organisasi serupa IMM dan BEM UMS juga turut menyuarakan penolakan terhadap kebebasan berdiskusi?</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Menghadapi semua ini, mau tidak mau, kita yang awam tapi mendukung kebebasan ini sudah seharusnya turut campur. Jangan lagi merasa bahwa semua itu bukan urusan kita. Barangkali kita bukan aktivis dan tidak pernah berniat menjadi aktivis, tapi melihat kebebasan yang terus-menerus terampas itu, apakah kita bisa diam? Apabila para pendukung kelompok vigilante itu dengan berani bersuara keras, kenapa kita, yang mendukung kebebasan, tidak berani bersuara?</p>
<p style="text-align: justify;">Ingat juga bahwa kali ini kita mungkin bukan korban langsung dari kelompok vigilante semacam itu, tapi lain kali siapa yang bisa menjamin? Ingat juga bahwa yang kita hadapi bukan hanya kelompok-kelompok yang menghalalkan kekerasan, tapi juga para pendukungnya yang mengesahkan kekerasan itu. Ingatlah bahwa si Muslimah yang saya sebut di atas tadi bukan hanya akan melegitimasi kekerasan MMI di Kantor LKiS, tapi suatu saat ia juga akan membenarkan kekerasan yang terjadi pada kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukankah seseorang yang membenarkan kekerasan pada orang lain, pada saat lain juga akan membenarkan kekerasan yang menimpa kita?</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kaca mata seperti inilah saya sepenuhnya mendukung <a href="http://indonesiatanpafpi.wordpress.com/" target="_blank">Gerakan #IndonesiaTanpaFPI #IndonesiaTanpaKekerasan</a>. Gerakan ini telah mengajukan <a href="http://indonesiatanpafpi.wordpress.com/2012/05/09/indonesiatanpafpi-somasi-kapolri/" target="_blank">somasi ke Kapolri</a> dan kini terus menggalang dukungan atas somasi itu via blog mereka. Ini mungkin tindakan kecil, tapi bukankah sudah jelas bahwa setiap gerakan besar selalu dimulai dari tindakan-tindakan kecil?</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu, mendukung somasi Kapolri itu bukan satu-satunya langkah yang bisa kita lakukan. Anda bisa membaca <em>Allah, Liberty and Love</em>—juga membuka-buka website <a href="https://www.irshadmanji.com/" target="_blank">irshadmanji.com</a>—yang berisi banyak petunjuk tentang bagaimana orang-orang awam bisa melakukan tindakan perlawanan terhadap dogmatisme dan kekerasan di sekitar mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai penutup, saya ingin mengutip  Akbar Ladak, seorang warga negara India yang memutuskan berjuang untuk melawan kelompok radikal yang mengatasnamakan agama:</p>
<blockquote style="text-align: justify;"><p>“Jadi, hari ini marilah berjanji demi keyakinan, negara, dan diri kita sendiri. Kita tidak akan tinggal diam ketika seseorang memanfaatkan agama kita untuk melegitimasi kefanatikan, misoginis, dan kekerasan. Kita akan melawan sekuat-kuatnya. Kita tidak akan digertak oleh mereka yang menunjuk dirinya sebagai penjaga agama, yang mengatakan Islam mereka lebih murni daripada Islam yang kita tahu. Muslim mendefinisikan Islam, dan kita semua adalah penjaganya.”</p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 15 Mei 2012</p>
<p style="text-align: justify;">Gambar diambil dari <a href="http://www.facebook.com/irshadmanji" target="_blank">sini</a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2012%2F05%2Fmempertahankan-kebebasan%2F&amp;title=Mempertahankan%20Kebebasan"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2012/05/mempertahankan-kebebasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Petaka Liburan Keluarga</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2012/04/petaka-liburan-keluarga/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2012/04/petaka-liburan-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Apr 2012 11:09:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Kala]]></category>
		<category><![CDATA[Modus Anomali]]></category>
		<category><![CDATA[Pintu Terlarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=1167</guid>
		<description><![CDATA[
Dari dalam tanah, tangan itu mencuat. Lalu, sekonyong-konyong, sesosok tubuh bangkit. Kesunyian hutan indah itu terkoyak-koyak sudah. Pada siang yang cerah itu, John Evans menemukan dirinya dikubur hidup-hidup di hutan yang justru menjadi tempatnya berlibur.
Reaksi pertamanya ketika siuman adalah kaget, kemudian panik. Ia mengambil handphone di saku celananya, lalu menelepon ke emergency line. Namun, sesudah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom: 0in; text-align: center;" align="JUSTIFY"><a rel="attachment wp-att-1168" href="http://rumahmimpi.net/2012/04/petaka-liburan-keluarga/modus-anomali/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1168" title="Modus Anomali" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2012/04/Modus-Anomali.jpg" alt="Modus Anomali" width="480" height="219" /></a></p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Dari dalam tanah, tangan itu mencuat. Lalu, sekonyong-konyong, sesosok tubuh bangkit. Kesunyian hutan indah itu terkoyak-koyak sudah. Pada siang yang cerah itu, John Evans menemukan dirinya dikubur hidup-hidup di hutan yang justru menjadi tempatnya berlibur.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Reaksi pertamanya ketika siuman adalah kaget, kemudian panik. Ia mengambil <em>handphone</em> di saku celananya, lalu menelepon ke <em>emergency line</em>. Namun, sesudah bertukar patah kata dengan operator, John baru benar-benar menyadari: ia bahkan melupakan namanya sendiri!</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Film terbaru Joko Anwar ini memang hanya memberikan beberapa menit kesempatan pada penonton untuk menarik nafas. Di bagian awal <em>Modus Anomali</em>, kita disuguhi panorama hutan yang memukau, dengan ambilan kamera jarak dekat terhadap sejumlah binatang berukuran kecil—mirip tayangan-tayangan televisi tentang alam liar. Tapi, percayalah, ini cuma prolog yang tak akan berulang. Sehabis pemandangan menakjubkan itu, yang ada hanyalah ketegangan, rasa takut, dan tanda tanya yang susah terjawab.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Diputar pertama kali di South By Southwest Film Festival (SXSW), festival film terbesar kedua di Amerika Serikat, pada Maret lalu, <em>Modus Anomali </em>sudah kedengaran gaungnya jauh sebelum ditayangkan di bioskop mulai Kamis, 26 April ini.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Sejak Juli tahun lalu, berita ihwal film yang diproduseri Sheila Timothy ini sudah berhembus  karena skenarionya meraih Bucheon Award di Network of Asian Fantastic Films di Korea Selatan. Apalagi, Joko Anwar sendiri adalah sutradara dengan reputasi yang diakui. Tiga filmnya sebelum ini, <em>Janji Joni</em> (2005), <em>Kala</em> (2007), dan <em>Pintu Terlarang</em> (2009), dibicarakan banyak pihak dan memenangi beberapa penghargaan meski tak semuanya meraih sukses secara komersial.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;"><em>Modus Anomali</em> dibuka dengan kisah John Evans (Rio Dewanto) yang terpisah dengan istri (Hannah Al Rashid) dan dua anaknya (Izzi Isman dan Aridh Tritama). Awalnya, John dan keluarganya berlibur di hutan. Mereka menginap di sebuah kabin sederhana. Tapi, sebelum mereka sempat memulai acara liburannya, sesuatu terjadi. Istri John ditusuk sampai perutnya robek. John dikubur hidup-hidup, sementara dua anak mereka berkeliaran di hutan dalam keadaan takut. Dari situ, cerita berkembang, membentuk sebuah petualangan mendebarkan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Setelah membuat satu drama komedi dan dua <em>thriller</em>, Joko Anwar kini kembali dengan film yang bisa saja kita masukkan dalam genre <em>thriller—</em>meskipun dalam sebuah wawancara ia menampik penggolongan itu. Cuma, bukan soal genre film ini yang jadi banyak bahan pembicaraan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Keputusan Joko Anwar memakai bahasa Inggris dalam <em>Modus Anomali </em>justru yang paling banyak diperbincangkan. Kebanyakan orang memang bertanya-tanya, sebagian mencemooh, kenapa Joko mengambil pilihan itu. <a href="http://www.filmoo.com/features/2012/03/16/eksklusif-interview-dengan-joko-anwar-tentang-modus-anomali" target="_blank">Dalam wawancara dengan Filmoo</a>, Joko mengatakan bahwa <em>setting </em>film ini memang bukan di Indonesia.</p>
<blockquote>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">“Karena ceritanya kan memang karakternya lagi liburan di luar negeri. Adegan pembukaannya udah nunjukin kalau setting-nya di negara yang berbahasa Inggris. Karakter Rio Dewanto nelpon <em>emergency line</em>, dan operatornya jawab &#8216;Operator what&#8217;s your emergency?&#8217;,” kata Joko.</p>
</blockquote>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Tapi, di manakah tepatnya negara yang menjadi tempat semua kejadian <em>Modus Anomali</em>? Juga, kenapa ada lagu berbahasa Indonesia di film itu, yakni <em>Bogor Biru</em>-nya Sore? Semua itu tak terjawab. Namun, bagi saya pribadi, pemakaian bahasa Inggris itu sama sekali bukan masalah. Betapapun <em>Modus Anomali</em> adalah film realis, tapi tak ada konteks sosial yang melingkupi kejadian di film ini. Jadi, ya, film ini memang bisa terjadi di mana saja dan konsekuensi dari itu adalah ia bisa memakai bahasa apa saja dan diperankan oleh pemain dengan kebangsaan manapun.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;"><em>Setting</em> tempat yang tak jelas memang sudah jadi hobi Joko dan terlihat pada film-filmnya sebelum <em>Modus Anomali</em>. Di dalam semesta Joko Anwar, tetek bengek soal latar tempat dan bahkan waktu itu seringkali menjadi tak penting. Joko sejak awal memilih bahwa unsur terkuat dalam filmnya adalah cerita, juga tata artistik, dan bagi saya, kadangkala dua hal itu sudah cukup.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Lagipula, kenapa kita mesti ribut saat <em>Modus Anomali</em> memakai bahasa Inggris sementara kita bisa menerima dengan lapang ketika <em>Kala</em> jelas-jelas memakai kostum ala Eropa? Bukankah film itu memakai bahasa Indonesia, dimainkan oleh orang Indonesia, syuting di Semarang, dan bahkan penata artisitiknya saja mengakui bahwa <a href="http://filmindonesia.or.id/post/bulan-film-nasional-2012-filmmakers-forum-membedah-visual-dalam-film-kala#.T5kwQLNOjko"><em>setting </em>tempat film itu adalah Indonesia pada 1965?</a> Apakah bahasa dianggap menjadi penanda yang lebih kuat untuk menunjukkan latar tempat daripada kostum?</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">***</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Bagi saya, <em>Modus Anomali</em> adalah <em>thriller</em> Joko Anwar yang paling polos. Berbeda dengan <em>Kala</em> dan <em>Pintu Terlarang</em>, <em>Modus Anomali </em>jauh lebih sederhana dalam plot, tokoh, dan <em>setting</em>-nya. Bila <em>Kala </em>dengan cukup ngotot ingin menjadi film <em>noir </em>dengan balutan sejarah, ramalan Jayabaya, serta intrik politik, dan <em>Pintu Terlarang </em>ingin menjadi <em>thriller </em>dengan rasa psikologis, <em>Modus Anomali</em> hanya ingin menghadirkan ketegangan.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Cuma, bukan ketegangan sembarangan yang ingin dihadirkan film ini. Dengan pergerakan kamera yang begitu dekat dengan tokoh utama, pengalaman menonton <em>Modus Anomali</em> menjadi sangat unik karena kita seolah-olah berada begitu dekat dengan si tokoh. Dalam beberapa bagian—seperti ketika John Evans terjebak dalam peti mati—sudut pandang penonton bahkan menyatu dengan pandangan sang tokoh.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Efek suara dalam <em>Modus Anomali </em>juga unik karena<em> </em>diproduksi tidak dengan instrumen biasa, tapi dengan merekam bebunyian pelbagai benda, seperti suara mesin kopi, teralis jendela, dan kloset.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">Selain ketegangan, dalam <em>Modus Anomali</em>, Joko Anwar juga menyiapkan kejutan pamungkas seperti dalam <em>Kala</em> dan <em>Pintu Terlarang</em>. Apa kejutan itu? Tonton saja sendiri. Yang jelas, berbeda dengan <em>Kala</em> dan <em>Pintu Terlarang</em>, kejutan di film dengan bujet Rp. 4 milyar ini tergolong simpel dan menjawab segalanya. Maka, klimaks dalam film ini terasa lebih pendek dan tak meninggalkan bekas yang sangat lama.</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">&#8212;&#8211;</p>
<p style="margin-bottom: 0in; text-align: justify;">NB: versi lain tulisan ini diterbitkan di Majalah <em></em><em>Gatra</em><em>,</em><em> </em>foto diambil dari <a href="http://www.modusanomali.com/">modusanomali.com</a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2012%2F04%2Fpetaka-liburan-keluarga%2F&amp;title=Petaka%20Liburan%20Keluarga"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2012/04/petaka-liburan-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Leon Agusta Pernah Bahagia</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2012/04/sebab-leon-agusta-pernah-bahagia/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2012/04/sebab-leon-agusta-pernah-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Apr 2012 05:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Chairil Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Gendang Pengembara]]></category>
		<category><![CDATA[Leon Agusta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=1143</guid>
		<description><![CDATA[
Leon Agusta adalah penyair yang datang dengan semangat khas seni modern. Ia memuja kebebasan dan individualitas, serta menyukai pengembaraan. Dalam lanskap seni modern, di mana konsep manusia sebagai individu yang lepas dari ikatan dipuja, pengembaraan memiliki posisi penting. Ia bukan hanya merupakan komponen dalam penciptaan karya seni tapi juga menjadi semangat hidup yang begitu disukai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-1144" href="http://rumahmimpi.net/2012/04/sebab-leon-agusta-pernah-bahagia/gendang-pengembara/"><img class="aligncenter size-large wp-image-1144" title="Gendang Pengembara" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2012/04/Gendang-Pengembara-1024x768.jpg" alt="Gendang Pengembara" width="464" height="349" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Leon_Agusta" target="_blank">Leon Agusta</a> adalah penyair yang datang dengan semangat khas seni modern. Ia memuja kebebasan dan individualitas, serta menyukai pengembaraan. Dalam lanskap seni modern, di mana konsep manusia sebagai individu yang lepas dari ikatan dipuja, pengembaraan memiliki posisi penting. Ia bukan hanya merupakan komponen dalam penciptaan karya seni tapi juga menjadi semangat hidup yang begitu disukai para seniman.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Indonesia, personifikasi terbaik atas semangat seni modern ada pada sosok Chairil Anwar. Dalam masa hidupnya yang singkat, dan oleh karenanya dipenuhi mitos, Chairil telah dianggap sebagai sosok yang bukan hanya menerapkan dengan baik semangat modernisme dalam puisi-puisinya, tapi juga dalam hidupnya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kira, Leon Agusta punya semangat yang mirip dengan Chairil. Dia memuja pengembaraan dan menyukai konsep mengenai individu yang bebas. Ia mengemukakan itu dalam puisi-puisinya, tapi juga menjalankan itu dalam hidupnya. Barangkali karena itu Leon ikut menandatangani Manifes Kebudayaan yang bisa dianggap sebagai salah satu upaya para seniman tahun 1960-an meraih kebebasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam peta sastra Indonesia, nama Leon Agusta, yang lahir pada 1938 di Sumatra Barat, pernah terdengar dengan cukup nyaring meski anak-anak sekarang akan berkerut keningnya ketika nama Leon disebut di depan mereka. Dalam pencarian yang pendek melalui Internet, saya menemukan bahwa Leon pernah dikelompokkan ke dalam Angkatan 70 dalam sastra Indonesia. Tentu saja, soal angkatan dalam sastra Indonesia ini memang menjemukan, kuno, dan sebenarnya tak relevan lagi dibicarakan hari ini, tapi saya harus menyebut informasi itu untuk memberikan informasi latar mengenai posisi Leon.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, salah satu hal yang paling jelas dari tiap angkatan dalam sastra Indonesia itu adalah waktu. Artinya, sekumpulan sastrawan yang masuk—atau dimasukkan—dalam satu angkatan tertentu itu sebenarnya disatukan oleh periode berkarya yang sama atau berdekatan. Tapi tentu saja, akan ada kritikus yang berupaya membuat semacam benang merah atas karya para sastrawan itu dan benang merah itu kemudian akan dianggap sebagai ciri khas dari angkatan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Maman S Mahayana, dalam sebuah esainya, menyebut salah satu ciri Angkatan 70 sastra Indonesia adalah eksperimentasi. Dalam puisi, eksperimentasi paling jelas tentu saja ada pada sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri. Ciri lain dari puisi Angkatan 70, kata Maman, adalah: “lebih mementingkan ekspresi untuk mendukung tema yang hendak disampaikan” dan ”gencar pula menggali akar tradisi kultural tempat penyair itu lahir dan dibesarkan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tak paham maksud Maman mengenai “lebih mementingkan ekspresi”—yang ia elaborasi dengan sangat tak meyakinkan—sehingga tak ingin membahasnya dan memperbandingkannya dengan puisi Leon. Sementara, soal menggali akar tradisi, saya kira, Leon tak masuk dalam kategori ini. Leon jelas penyair yang tak menampakkan jejak tradisi dalam puisi-puisinya. Kecenderungan ini sebenarnya menarik karena pada 1970-an, para sastrawan kita mulai meninggalkan atau malah melawan kecenderungan para penyair generasi 45 yang ingin menjadi “ahli waris kebudayaan dunia”.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada 1970-an, gema kembali pada lokalitas dan menghargai tradisi mulai terasa. Dan akibatnya, pendirian Chairil Anwar, Asrul Sani, dan kawan-kawannya mengenai pelepasan dari tradisi mulai ditinggalkan. Tapi, Leon tak pernah mengikuti kecenderungan itu. Selepas mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, ia justru mengembara ke sejumlah negara di Asia, Amerika, dan Eropa. Maka, seterusnya, ia tetap menjadi pengembara.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Kumpulan puisi Leon Agusta yang terbit tahun ini, <em>Gendang Pengembara</em>,<em> </em>adalah penegasan terhadap sikapnya yang memuja kebebasan individu dan petualangan. Memuat 200 lebih puisi yang dibuat dalam rentang 1962-2011, <em>Gendang Pengembara</em> berisi puisi-puisi pilihan dari sejumlah buku puisi Leon yang pernah terbit sebelumnya, seperti <em>Monumen Safari</em> (1966), <em>Catatan Putih</em> (1975), <em>Di Sudut-sudut New York</em> (1977), dan <em>Hukla</em> (1979), ditambah puisi-puisi terbarunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak bagian awal <em>Gendang Pengembara</em>, kita sudah bertemu dengan pendirian Leon soal kebebasan dan lepasnya individu dengan ikatan. Puisi pertama dalam antologi ini, “Kenapa Tak Pulang, Sayang”, adalah penjelasan Leon pada ibunya kenapa dia memilih pergi dari kampungnya. Bagian terbaik dari puisi ini adalah bait ketiganya yang dengan bagus menggambarkan sikapnya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Rinduku pun kelabu, Ibu/ Tapi empedu di kerongkongan/ Ibu pun takkan kenal wajahku sekarang/ Tak akan ada yang tanyakan anakmu, Ibu/ Kalau pun pulang takkan dipinang&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari puisi ini, kita sudah melihat benih-benih ide Leon mengenai pengembaraan, tapi manifesto pengembaraan Leon saya kira baru dihasilkannya 8 tahun kemudian, melalui puisi “Mengembara”. Bagi saya, “Mengembara” adalah sajak dengan sikap modernisme yang khas, di mana pengembaraan dipandang dengan heroik. Di satu sisi, Leon memosisikan pengembaraan sebagai sebuah “dosa” tapi pada sisi lainnya, ia menerimanya dengan senang hati. Melalui sikap ambigu semacam inilah individu lahir sebagai sosok yang heroik, karena ia menerima luka dengan suka.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dengan mesra kusandang dosa itu/ Sudah diamanatkan bagiku: mengembara/ Bagi hasratku yang berjalan jauh// Hingga sudah biasa aku berpisah/ Nafas damai dan dan tidur yang nikmat/ Khianat diterima tanpa kesumat&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ditulis di sebuah penjara di Pekanbaru, tempat Leon pernah dikurung selama 7 bulan, “Mengembara” mengingatkan saya pada sajak “Aku” Chairil Anwar. Dua sajak itu, bagi saya, punya pendirian yang mirip, di mana individu dengan bangga menerima sesuatu yang menyakitkan. Saat Chairil dengan bangga berteriak “aku ini binatang jalan, dari kumpulannya terbuang”, Leon berkata “dengan mesra kusandang dosa itu”.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang berbeda dari dua sajak itu hanyalah “volume” keduanya: sajak “Aku” terkesan sebagai teriakan, sebuah proklamasi yang riuh dan hiruk-pikuk, sementara “Mengembara” terkesan begitu lirih dan nyaris diam. Bila “Aku” ditujukan Chairil buat orang-orang di luar dirinya, “Mengembara” kelihatannya dibuat Leon untuk dirinya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sejumlah sajak lain, Leon berkali-kali mengulang soal pengembaraan, tapi bagi saya, yang paling menarik kemudian adalah melihat sikapnya soal cinta. Bagi seorang pengembara, cinta akan selamanya ambigu: pada satu sisi, cinta tak pernah bisa ditampik seluruhnya, tapi di sisi lain, cinta juga tak pernah diterima sepenuh-penuhnya. Oleh karena itu, meski Leon menyatakan dengan sangat verbal perihal kebutuhan pada kekasih (melalui “Ya, Kita Memerlukan Seorang Kekasih”), di sisi lain ia juga menyatakan bahwa cinta tak pernah menghambatnya untuk pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah yang dengan terang dinyatakannya dalam “Rasa Tak Sampai di Mana-mana”: <em>Bagaimana aku boleh mengucapkan/ aku sangat sayang kepadamu/ bila aku masih membiarkan/ kakiku melangkah pergi/meninggalkanmu/ &#8230;. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Lagi-lagi saya ingin membandingkan sajak ini dengan sebuah puisi Chairil, “Pemberian Tahu”, yang juga dengan sangat bagus menggambarkan sikap mendua Chairil soal cinta. Inilah baris-baris dari puisi itu yang paling saya sukai: <em>Kita berpeluk ciuman tidak jemu</em><em>/ </em><em>Rasa tak sanggup kau ku lepaskan</em>/ <em>Jangan satukan hidupmu dengan hidupku</em>/ <em>Aku memang tak bisa lama bersama</em>/ <em>Ini juga ku tulis di kapal, di laut tak bernama</em><em>.</em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">Yang khas juga dari Leon adalah pandangannya terhadap <em>common sense</em>, sesuatu yang sudah jadi kesepakatan umum dan biasanya diterima tanpa pertanyaan lagi oleh kebanyakan orang. Pada seniman dengan kesadaran individual yang tinggi, “pandangan umum” adalah sebuah musuh yang kadang-kadang bukan hanya harus ditampik tapi juga dimusuhi. “Pandangan umum” itu bisa berupa apa saja, baik dalam bentuk norma, hukum, atau bahkan agama.</p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">Chairil menolak banyak standar umum semacam itu, demikian pula Leon. Dalam sajak “Perbedaan”, Leon menyatakan bahwa apa yang baik bagi orang lain bisa jadi buruk menurutnya, juga sebaliknya. Simak potongan sajak ini: <em>Semua yang kau ucapkan berulang-ulang, saudara/ itulah yang tak dapat aku yakini/ Semua yang kau bisikkan dengan perlahan, sahabat/ itulah yang bagiku paling mengerikan.</em></p>
<p style="margin-bottom: 0in;" align="JUSTIFY">Dari kutipan itu kita lihat, bukan hanya pandangan orang lain yang ditampik Leon, tapi juga pendapat dari saudara dan sahabatnya. Namun, beda dengan Chairil yang memberontak dengan berapi-api, Leon menampik dengan lembut. Di bait kedua “Perbedaan”, ia menyatakan: <em>Tapi aku tak sanggup kehilangan engkau/ Meskipun engkau sisihkan aku/ Perkenalan dengan engkau kecemasan selalu/ Maut pun takkan menebus kebimbanganku.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, Leon dan Chairil sama-sama menampik, meski nada suara keduanya berbeda. Tapi, sebagaimana Chairil Anwar yang meledak-ledak kemudian mencapai masa tenang dan dewasa, Leon Agusta juga akhirnya mencapai masa semacam itu. Itu adalah masa ketika Leon bisa menerima situasi yang mungkin tak sesuai dengan pendiriannya. Chairil mencapai masa semacam ini menjelang kematiannya, dan itu tercermin pada sajak “Derai-derai Cemara” di mana ia mengatakan “aku sekarang orangnya bisa tahan, sudah berapa waktu bukan kanak lagi”.</p>
<p style="text-align: justify;">Leon, saya kira, mencapai tahap itu ketika ia menulis sajak “Suasana”. Dibuat pada 2010, “Suasana” adalah puisi yang berisi baris-baris pendek, hampir tanpa ungkapan ekspresi pribadi—sesuatu yang membuatnya agak berbeda dengan sajak Leon yang lainnya. Justru, seperti judulnya, “Suasana” lebih banyak berisi pelukisan situasi—semacam sajak-sajak imajis ala Sapardi Djoko Damono. Hanya dua baris terakhir sajak itu, yang entah kenapa masing-masing menjadi bait tersendiri, yang berisi ungkapan ekspresi yang jelas perihal penerimaan Leon atas kondisi yang melingkupinya sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ekspresi yang tersampaikan di sana itu begitu sederhana sekaligus mengena, seolah-olah itulah hasil perenungan dan pengembaraan Leon bertahun-tahun ini: <em>Semua sudah dimaafkan// Sebab kita pernah bahagia</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 15 April 2012</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2012%2F04%2Fsebab-leon-agusta-pernah-bahagia%2F&amp;title=Sebab%20Leon%20Agusta%20Pernah%20Bahagia"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2012/04/sebab-leon-agusta-pernah-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nabi yang Memunggungi Dunia</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2012/03/nabi-yang-memunggungi-dunia/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2012/03/nabi-yang-memunggungi-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Mar 2012 07:43:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Emha Ainun Najib]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Dinasti. Letto]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Perdikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=1133</guid>
		<description><![CDATA[
Ruwat Sengkolo adalah perpaduan rock star dan sufisme tingkat lanjut. Ia memakai kaos buntung tanpa lengan yang dipadukan dengan rompi panjang warna cokelat, lehernya digelayuti sejumlah kalung berwarna perak, kepalanya ditutup kain slayer, di matanya tersemat kaca mata hitam, dan kakinya dibungkus sepatu boot hitam ala rocker. Tangan kanannya dipenuhi tato, juga sejumlah gelang besi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-1134" href="http://rumahmimpi.net/2012/03/nabi-yang-memunggungi-dunia/ruwat-sengkolo/"><img class="size-full wp-image-1134  aligncenter" title="Ruwat Sengkolo" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2012/03/Ruwat-Sengkolo.jpg" alt="Ruwat Sengkolo" width="493" height="291" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Ruwat Sengkolo adalah perpaduan <em>rock star</em> dan sufisme tingkat lanjut. Ia memakai kaos buntung tanpa lengan yang dipadukan dengan rompi panjang warna cokelat, lehernya digelayuti sejumlah kalung berwarna perak, kepalanya ditutup kain slayer, di matanya tersemat kaca mata hitam, dan kakinya dibungkus sepatu boot hitam ala rocker. Tangan kanannya dipenuhi tato, juga sejumlah gelang besi yang bergemerincing saat bergerak. Ia mengenakan celana panjang garis-garis hitam putih, dan membawa-bawa terompet yang ditiupnya terus-terusan dengan antusiasme yang tak lumrah.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulanya, dia hanyalah pria biasa yang ditinggalkan istrinya. Ruwat tinggal bersama sang kakek, Mbah Soimun, di sebuah desa, sementara ayahnya, Jangkep, pergi merantau ke ibukota. Entah bagaimana awalnya, Ruwat tiba-tiba membangun sebuah kurungan di dalam rumahnya dan memutuskan tinggal di kurungan tersebut. Berbentuk persegi panjang setinggi 2 meter dengan atap segitiga, kurungan itu dilapisi dengan kain putih di sekujurnya. Di dalamnya, Ruwat berada bersama sejumlah barang, seperti terompet dan dingklik kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama tinggal di kurungan, Ruwat mulai meracau. Ia merapalkan kalimat-kalimat aneh tentang kerusakan dunia, keburukan para pemimpin, kebodohan rakyat, dan sebagainya. Ia juga berhasrat menemukan dirinya yang sejati, yang sudah dirampas oleh kondisi sosial sekitarnya. Kisah Ruwat yang meracau itu diangkat dalam pertunjukan teater bertajuk <em>Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc</em> yang dipentaskan Teater Perdikan di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat malam, 9 Maret lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Naskah <em>Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc</em> ditulis oleh Emha Ainun Nadjib dengan kontribusi gagasan dari Toto Rahardjo dan Novi Budianto. Sejumlah pemain yang tampil dalam pertunjukan ini merupakan seniman kawakan asal Yogyakarta, seperti Joko Kamto, Novi Budianto, Fajar Suharno, Eko Winardi, Bambang Susiawan, dan Kumbo. Tak seperti pentas teater umumnya, pertunjukan ini tak diarahkan oleh sutradara tunggal. Fadjar Suharno memegang posisi sebagai koordinator penyutradraan tapi semua pemain ikut menentukan arah pentas. Yang juga unik, tata musik pentas ini diserahkan ke grup band Letto.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc</em> merupakan pentas pertama Teater Perdikan. Ya, ini memang kelompok teater baru tapi dengan wajah-wajah lama. Para pendiri Teater Perdikan adalah sejumlah seniman teater kawakan asal Yogyakarta, seperti Fajar Suharno, Eko Winardi, Bambang Susiawan, dan Kumbo. Kebanyakan dari mereka ini adalah orang-orang yang dulu pernah bergabung dengan Teater Dinasti di Yogyakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Teater Dinasti?singkatan dari Dana Informasi Nasional Teruna Indonesia?merupakan sebuah legenda dalam sejarah teater di Yogya. Kelompok ini didirikan oleh beberapa alumnus Bengkel Teater, seperti Fajar Suharno, Azwar AN, Moortri Purnomo, dan Gajah Abiyoso, pada 1977. Sejumlah seniman yang pernah bergabung dalam kelompok ini, antara lain, Emha Ainun Nadjib, Butet Kertaradjasa, Angger Jati Wijaya, Halim HD, Novi Budianto, Jemek Supardi, dan Jujuk Prabowo.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak awal, Dinasti dikenal dengan pementasan bertema sosial. Yang unik dari kelompok ini adalah proses kerjanya yang kolektif, di mana semua proses dalam berteater, seperti pendiskusian ide, penyusunan naskah, penyutradaraan, dan pengaturan artisitik dilakukan secara bersama-sama. Proses kolektif ini pula yang masih terlihat dalam pementasan <em>Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc</em>. Pengaruh ini wajar sebab hampir semua orang yang terlibat dalam produksi ini pernah berproses di Teater Dinasti.<br />
***
</p>
<p style="text-align: justify;">Ide utama pentas ini adalah bahwa kerusakan di dunia sudah sangat parah. Saking parahnya, semua upaya manusia, sekeras dan segigih apapun, dipercaya tidak akan berhasil mengubahnya dengan tuntas. Dari perenungan semacam inilah sosok semacam Ruwat Sengkolo hadir. Kita bisa menduga bahwa ia merupakan orang yang mempelajari ilmu makrifat dalam tradisi sufi. Dalam tradisi tersebut, perenungan akan kehidupan, pengenalan pada Tuhan, juga refleksi atas diri, diberi porsi yang sangat banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada satu sisi, Ruwat Sengkolo mencari-cari hakikat dirinya dan oleh karena itu ia mengurung diri, menolak bersosialisasi dan menatap kehidupan nyata. “Aku berjalan memunggungi dunia karena ia merebutku dari diriku. Aku pergi menjauh dari kehidupan karena ia memisahkanku dari bayiku,” katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, melalui ritual pengasingan diri itu, Ruwat terus-menerus merasa mendekatkan diri dengan Tuhan dan segala makhluk langit. Pada sisi yang lain lagi, Ruwat juga menghujat orang dan kehidupan secara konsisten. Menurutnya, kondisi kehidupan di bumi sekarang sudah rusak total. “Penduduk bumi itu lamban dan kreativitasnya mandek,” ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itulah Ruwat sampai pada kesimpulan bahwa dibutuhkan nabi atau rasul baru untuk menyelesaikan semua masalah di dunia. Bila nabi atau rasul yang sesungguhnya tak bisa ada lagi sekarang, “Minimal ya ada Nabi Darurat atau Rasul Ad Hoc,” ungkapnya. Ide ini kemudian menggelinding, menjadi bola liar, dan orang-orang lalu menganggap Ruwat hendak mendaku dirinya nabi baru. Desas-desus yang menyebar itu yang kemudian mengakibatkan rumah Ruwat didatangi massa dan ia lalu diamankan polisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah dalam pentas ini punya banyak dimensi. Meski tendensi mengkritik kebobrokan penguasa jelas ada, tapi itu bukanlah tendensi utama cerita ini. Kita bahkan tak tahu siapa yang benar dalam lakon ini, sebab Ruwat yang pintar itu pun akhirnya mendapat banyak kritik dari gurunya, juga makhluk halus bernama Brah Abadon. Tak ada simpulan yang utuh tentang bagaimana mesti menghadapi?apalagi mengatasi?semua keburukan yang terjadi. Meski, satu pesan jelas disampaikan: selain manusia, ada tangan-tangan tak kelihatan yang ikut bekerja mengurusi semua proses di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Berlangsung selama 3 jam tanpa jeda, <em>Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc</em> terhitung berat untuk ditonton tanpa rasa bosan atau kantuk. Apalagi, pentas ini kebanyakan berisi dialog dan monolog panjang, sementara peristiwa dalam pertunjukan ini tergolong sedikit.</p>
<p style="text-align: justify;">Akting Joko Kamto menjadi Ruwat terhitung baik dan staminanya kuat. Sayangnya, para pemain lain tak tampil maksimal. Kita masih bisa menoleransi kekurangan akting para personel Letto di atas panggung, sebab mereka memang bukan pemain teater profesional. Tapi sungguh sayang aktor sekelas Eko Winardi dan Novi Budianto ternyata tampil dengan sejumlah kekurangan sehingga peran mereka untuk mencairkan suasana kadang gagal. Sementara itu, Fajar Suharno, Bambang Susiawan, Tertib Ruratmo, dan Kumbo tampak kurang bisa menghidupkan dialog-dialog panjang nan berat ala Emha.</p>
<p style="text-align: justify;">Musik yang digarap Letto juga tak bisa menyatu padu dengan permainan para aktor. Sejumlah lagu yang dibawakan grup itu justru terkesan menjadi selingan antara satu adegan dengan adegan lain. Perlu eksperimen lebih jauh memang untuk menyatukan sebuah band dalam pertunjukan teater dan tampaknya Teater Perdikan belum menemukan formula pas kali ini.</p>
<p style="text-align: justify;">NB: versi lain dari tulisan ini pernah dimuat di Majalah <em>Gatra</em>, foto diambil dari <a href="http://www.mediaindonesia.com/foto/15378/Teater-Nabi-Darurat-Rasul-Ad-Hoc"><em>Media Indonesia</em></a></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2012%2F03%2Fnabi-yang-memunggungi-dunia%2F&amp;title=Nabi%20yang%20Memunggungi%20Dunia"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2012/03/nabi-yang-memunggungi-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Cinta Si Parasit (Tak) Lajang</title>
		<link>http://rumahmimpi.net/2012/03/cerita-cinta-si-parasit-tak-lajang/</link>
		<comments>http://rumahmimpi.net/2012/03/cerita-cinta-si-parasit-tak-lajang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2012 17:16:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Haris Firdaus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Ayu Utami]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Cinta Enrico]]></category>
		<category><![CDATA[Erik Prasetya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rumahmimpi.net/?p=1116</guid>
		<description><![CDATA[
Ayu Utami masih bisa menjuluki dirinya sebagai parasit bila mau, tapi jelas tak bisa lagi memanggil dirinya dengan sebutan si parasit lajang—sebagaimana dulu ia pernah menyebut dirinya sendiri—sebab ia sudah menikah Agustus tahun lalu. Novel keempat Ayu yang terbit Februari lalu, Cerita Cinta Enrico, sebenarnya tidak berkisah soal pernikahan tapi penerbitan buku ini, bagaimanapun, sedikit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-1117" href="http://rumahmimpi.net/2012/03/cerita-cinta-si-parasit-tak-lajang/cerita-cinta-enrico/"><img class="aligncenter size-large wp-image-1117" title="Cerita Cinta Enrico" src="http://rumahmimpi.net/wp-content/uploads/2012/03/Cerita-Cinta-Enrico-1024x768.jpg" alt="Cerita Cinta Enrico" width="467" height="349" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Ayu Utami masih bisa menjuluki dirinya sebagai parasit bila mau, tapi jelas tak bisa lagi memanggil dirinya dengan sebutan si parasit lajang—sebagaimana dulu ia pernah menyebut dirinya sendiri—sebab ia sudah menikah Agustus tahun lalu. Novel keempat Ayu yang terbit Februari lalu, <em>Cerita Cinta Enrico</em>, sebenarnya tidak berkisah soal pernikahan tapi penerbitan buku ini, bagaimanapun, sedikit banyak akan dikaitkan dengan pernikahannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasalnya, tokoh utama novel ini, si Enrico, tak lain adalah suami Ayu, yakni fotografer Erik Prasetya. Dalam sejumlah catatan yang menyertai penerbitan buku ini, pernyataan soal kaitan antara Enrico dengan Erik ini memang gamblang. Bahkan di halaman terakhir <em>Cerita Cinta Enrico</em>, dalam keterangan mengenai buku <em>Eks Parasit Lajang</em>, kumpulan esai Ayu yang akan terbit mendatang, ditegaskan bahwa Ayu Utami telah menikah dengan “Enrico” tahun lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Di <a href="http://ayuutami.com/?p=24" target="_blank">website pribadinya</a>, Ayu mengatakan bahwa ia sempat berdebat dengan editornya tentang “status” buku barunya ini: apakah harus disebut sebagai novel atau murni biografi. Novel akhirnya dipilih, sebab sebagaimana dijelaskan dengan panjang lebar oleh Ayu di bagian “Catatan Akhir” <em>Cerita Cinta Enrico</em>, kisah dalam buku ini dibumbui dengan imajinasi, baik berupa penambahan diaolg atau peristiwa maupun pengocokan urutan waktu dan tempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Imajinasi memang akhirnya diperlukan, dan mungkin memegang peranan penting dalam novel ini. Pasalnya, sebagaimana tiap penulisan novel yang berbahankan kisah hidup seseorang, konflik akan menjadi soal yang gamblang. Bagaimanapun berwarnanya kisah hidup seseorang, tetaplah dibutuhkan polesan imajinatif untuk membuatnya menjadi konflik yang lumayan dramatis sebagaimana dibutuhkan dalam sebuah novel.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Cerita Cinta Enrico</em> punya tantangan semacam itu. Kisah hidup Enrico dalam novel ini sebenarnya tidak dramatis sekali sehingga beberapa bagian dalam buku ini cenderung datar, datar, dan datar. Ayu harus terus-menerus mengaitkan tiap episode kehidupan Enrico dengan peristiwa sosial politik di sekitarnya yang sebenarnya tidak selalu memiliki pengaruh signifikan ke soal pribadi Enrico untuk membawa pembaca merasa terlibat dengan cerita tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa politik yang paling berpengaruh dalam hidup Enrico adalah pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia di Padang. Enrico lahir tepat saat pemberontakan itu meletus dan karena ayahnya adalah tentara yang tunduk di bawah komando sang pemimpin pemberontak, ia akhirnya menjadi “bayi gerilya”. Ia mengungsi ke hutan bersama ayah, ibu, dan kakak perempuannya. Periode gerilya ini menarik tapi Ayu hanya mengisahkannya dalam beberapa kilas sehingga bagian ini tak membekas panjang. Praktis hanya bagian soal “Operasi Bayi Gerilya” yang benar-benar kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang paling banyak dikisahkan Ayu adalah periode kanak-kanak Enrico dan kehidupannya sebagai anak kolong serta bagaimana konfliknya dengan sang ibu bermula. Kisah kehidupan anak kolong yang keras lumayan menarik dan konflik Enrico dengan ibunya juga demikian. Sayang, bagian ini agak berpanjang-panjang menurut saya, meskipun konflik Enrico dengan ibunya memang sangat signifikan dan bahkan menjadi penopang paling mendasar dari struktur cerita novel ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Cerita Cinta Enrico</em>, bagi saya, adalah kisah mengenai dilema pembebasan dan problem ini dimulai dari konflik Enrico dengan ibunya. Sang ibu, yang pada awalnya dikenal sebagai perempuan modern dan ceria berangsur menjadi konservatif dan pemurung ketika ia masuk jadi bagian dari Saksi Yehuwa, sebuah sekte agama Katolik yang punya aturan sangat ketat bagi pengikutnya dan percaya Hari Kiamat tiba pada 1975. Ketika si ibu memaksakan doktrin-doktrin Saksi Yehuwa ke Enrico, tepat pada titik itulah pemberontakan sang anak dimulai.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayu Utami cenderung melukiskan pemberontakan Enrico terhadap sikap ibunya sebagai motif utama—atau bahkan motif satu-satunya—yang membuatnya menginginkan pembebasan sepenuhnya. Yang disayangkan, novel ini kurang mengeksplorasi kisah-kisah mahasiswa Enrico, sehingga didapat kesan bahwa periode kehidupan ini tak berpengaruh banyak pada sikap-sikap memberontaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Konflik dengan sang ibu, oleh karenanya, kelihatan jadi motif satu-satunya untuk berontak dan hidup bebas. Enrico ingin kuliah di ITB untuk lepas dari kungkungan sang ibu, bukan karena ia benar-benar bermimpi kuliah teknik perminyakan di universitas itu. Sikap Enrico yang menjauhi komitmen terhadap perempuan—ia bergonta-ganti pacar, tidur dengan perempuan bersuami, dan mulanya tak mau menikah serta punya anak—juga berkait dengan pemberontakannya terhadap sang ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku tak ingin kemerdekaanku terampas. Ya, aku merasa telah menjadi manusia bebas sejak terlepas dari Ibu dan Hari Kiamat-nya. Aku tak mau terpenjara lagi,” kata Enrico soal alasannya tak mau menikah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, kita tahu, Enrico akhirnya menikah. Seperti<a href="http://rumahmimpi.net/2011/07/filosofi-roti-dewi-lestari/" target="_blank"> Tansen dalam <em>Madre</em>-nya Dewi Lestari</a> yang bohemian tapi lalu memilih menambatkan diri pada sebuah toko roti, Enrico akhirnya menemukan cinta sejati atau semacam itulah. Bedanya, cinta sejati Enrico bukanlah sebuah toko roti, tapi seorang wanita yang dalam novel seringkali hanya disebut dengan inisial A—sebuah inisial yang jelas-jelas merujuk ke Ayu Utami.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuma, masalahnya, si A adalah juga perempuan yang tak mau terikat: ia gonta-ganti pacar juga dan tak mau menikah. Pertanyaannya kemudian menjadi terlihat rumit: apakah mungkin cinta sejati atau semacamnya bisa terjadi pada orang-orang yang ingin memberontak sebebas-bebasnya—termasuk pada institusi pernikahan dan penindasan komitmen—ini? Jawabannya ternyata sederhana: mungkin.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelemahan pemberontakan Enrico dan A, apapun alasannya—egois atau ideologis—adalah menyamakan pernikahan dan komitmen dengan penindasan, seolah yang pertama pasti berakibat pada terjadinya yang kedua. Mereka, terutama A, punya seribu satu alasan untuk sikap tersebut, seperti serombongan teori soal feminisme dan analisis sosial kondisi Indonesia yang patriarkis, tapi ternyata hanya butuh sedikit sekali alasan untuk mengubah pandangan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, hanya dengan sedikit mengubah sudut pandang, keduanya akhirnya menyadari bahwa cinta sejati atau semacamnya itu ada dan mereka toh akhirnya berkomitmen satu sama lain—ya, tentu saja, mereka akan mengatakan bahwa komitmen itu tumbuh dari dalam dan bukan paksaan dari luar. Dan sesudah komitmen tercapai, tokoh A dalam <em>Cerita Cinta Enrico</em> justru yang pertama bicara soal pernikahan dengan alasan bahwa bila pernikahan dan juga bentuk relasi suami-istri disepakati dengan pilihan bebas, bukan paksaan sistem sosial, maka hal itu tak jadi masalah.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pemberontak ini memang menempuh jalan yang sangat berbeda dengan orang-orang biasa, tapi toh mereka tiba pada jalur yang sama kemudian. Tentu saja jalur akhir yang ditempuh para pemberontak ini adalah hasil pilihan bebas, sementara orang-orang yang tak berontak mungkin tiba pada jalur itu karena dipaksa sistem sosial, tapi toh intinya keduanya menjalani proses sama di akhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan pemikiran semacam itulah saya ingin menyebut <em>Cerita Cinta Enrico</em> sebagai novel Ayu Utami yang paling melankolis dan sentimentil. Lihat saja bagaimana Enrico si petualang cinta itu ternyata bisa <em>menye-menye</em> juga saat kesepian merindu kekasih dan ketika patah hati. Bagi saya, novel ini bahkan jauh lebih sentimentil bila dibandingkan dengan <em>Manjali dan Cakrabirawa</em> yang sebenarnya melulu berisi cinta-cintaan diselingi dengan detektif-detektifan dan “dokter-dokteran”.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab, meski diawali dengan pandangan-pandangan arogan soal cinta yang berkomitmen, <em>Cerita Cinta Enrico</em> diakhiri justru dengan adegan pernikahan dan kebahagiaan yang dibayangkan abadi sesudahnya, sebuah <em>ending</em> yang sama optimisnya dengan kisah akhir <em>Madre</em> atau bahkan <em>Perahu Kertas</em>-nya Dee yang jelas-jelas sejak awal percaya buta bahwa cinta sejati itu ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat, akhirnya kita menemukan bahwa Ayu Utami dan Dewi Lestari tiba pada jalan pencerahan yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Jakarta, 7 Maret 2012</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Frumahmimpi.net%2F2012%2F03%2Fcerita-cinta-si-parasit-tak-lajang%2F&amp;title=Cerita%20Cinta%20Si%20Parasit%20%28Tak%29%20Lajang"><img src="http://rumahmimpi.net/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rumahmimpi.net/2012/03/cerita-cinta-si-parasit-tak-lajang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

