
Apa sebenarnya yang menyebabkan sastra Jawa modern tinggal di dalam ruang yang sepi? Benarkah hanya disebabkan oleh globalisasi yang makin menggeruskan kebudayaan dan bentuk-bentuk seni lokal? Ataukah justru penyebabnya adalah masalah internal yang terjadi di dalam kalangan sastra Jawa sendiri? Bagaimana pula mengeluarkan sastra Jawa dari kesepian yang selama ini menghinggapinya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba dijawab dalam Diskusi “Disorientasi Sastra Jawa Gagrak Anyar” di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, pada 7 November 2009 lalu. Berbarengan dengan peluncuran Buku Antologi Sastra Jawa Senthong 2, diskusi itu mencoba melakukan identifikasi atas persoalan-persoalan yang menghinggapi sastra Jawa sekaligus mencari jalan keluarnya.
read more »

Indonesia punya pengalaman panjang yang cukup buruk dalam melestarikan peninggalan zaman lampaunya. Salah satu pengalaman itu berkait dengan pelestarian Situs Sangiran di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, yang pada 5 Desember 1996 diakui sebagai warisan dunia nomor 593 oleh UNESCO. Sejak pengakuan itu, situs tersebut secara resmi bernama “Sangiran Early Man Site”.
Pengakuan prestisius itu sebenarnya terbilang wajar bila melihat potensi Sangiran. Sejak penemuan alat-alat batu manusia purba oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald pada 1934, berbagai penemuan di Sangiran memang susul-menyusul seolah tanpa henti.
read more »

Bagi saya, salah satu kisah ihwal pahlawan yang paling kocak sekaligus tragis, main-main tapi juga filosofis, adalah yang termaktub dalam Film The Incredibles (2004). Ketika pertama kali menontonnya beberapa tahun lampau, saya menyukai film animasi garapan Brad Brid ini karena, dalam bagian tertentu, film ini meretakkan gambaran yang lazim mengenai pahlawan.
Seperti yang pernah kita tonton, The Incredibles berfokus pada kisah sekeluarga superhero yang harus menjalani kehidupan normal—itu artinya menanggalkan kekuatan superhero dan aksi-aksi edan jalanan mereka—di sebuah daerah pinggiran kota di Amerika Serikat dengan uang pas-pasan. Semua itu terjadi karena lima belas tahun sebelumnya, sejumlah besar anggota masyarakat telah menuntut para superhero itu karena aksi-aksi mereka dianggap merugikan masyarakat.
read more »

Sore itu, ketika Budhe B menelepon, saya sedang sendiri di rumah. Semua anggota keluarga saya sedang ke Magelang, menengok rumah kontrakan kakak saya.
“Wis krungu kabare Pak A?”
“Durung, Budhe.”
“Pak A wis ra ono.”
Saya tercekat mendengar penuturan budhe. Pak A adalah om saya, adik dari ibu—ia yang terakhir dari dua belas bersaudara anak kakek saya. Saya seharusnya memanggil dia dengan sebutan “om” atau “paklik”, tapi entah kenapa, sejak kecil, kami terbiasa memanggil dia dengan sebutan “pak”.
read more »

Akhirnya, buku kedua saya yang berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia 2 terbit November ini. Informasi dari Penerbit BukuKatta menyebutkan, buku ini telah beredar di wilayah Jabodetabek. Wilayah-wilayah lain di Indonesia akan segera menyusul. Anda bisa membeli buku ini di jaringan Toko Buku Gramedia seharga Rp. 33.300,-. Bisa juga membeli via Penerbit BukuKatta secara langsung di sini.
Konsep utama buku ini sama dengan buku saya sebelumnya, Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008). Seperti pernah saya katakan sebelumnya, buku ini berisi sembilan kisah tentang fenomena misteri yang ada di Indonesia. Ini bukan soal klenik dan setan. Fenomena yang saya bahas secara panjang lebar dalam buku ini adalah fenomena yang masih misterius alias menimbulkan banyak pertanyaan di benak masyarakat Indonesia. Wujud konkretnya bisa beraneka ragam, tapi muaranya pada soal misterinya.
read more »